° Para orang dewasa itu ternyata penuh dengan kepalsuan, ya? °
....
Jimin rasa-rasanya bisa saja melakukan reboisasi besar-besaran pada kepala jika seandainya dia harus menghabiskan separuh hidup untuk terus bergelut dengan miliaran angka dan jutaan rumus matematika. Hanya mengikuti ujian matematika selama dua jam pun sudah mampu membuat kepalanya dihiasi asap imaji-otaknya mengepul, hingga rasanya ingin meledak di detik itu juga.
Dengan dasi semrawut, wajah kusut dan penampilan yang tak bisa disebut rapi lagi, pemuda bermarga Jeon itu berjalan lesu di tengah kumpulan anak remaja yang tengah berjingkrak-jingkrak kegirangan sebab telah berhasil melewati hari terakhir ujian di penghujung tahun ajaran, tinggal menunggu hari kelulusan dengan pembagian ijazah serta nilai akhir sebelum benar-benar melepas seragam SMA.
Sempat terpaku sesaat ketika melihat Jeon Hoseok berdiri di dekat pagar sekolah bersama para orang dewasa yang barangkali sedang menjemput anak atau adiknya. Jimin menghentikan langkah dan netranya bersibobrok dengan kedua manik setenang telaga milik kakaknya-meski terlihat samar, Jimin yakin ada sesuatu yang tersembunyi di balik tatapan teduh itu, sebab wajah Hoseok tampak tak bercahaya seperti biasanya.
Si adik melambaikan tangan sembari memasang senyum, memangkas jarak dengan sang kakak dan memulai konversasi dengan nada jenaka sedikit merajuk, "Kak Hoseok! Tadi pagi kan aku sudah bilang padamu untuk tak perlu menjemput. Lihat!" Jimin merentangkan tangan, berputar sekali dan kembali menyorot presensi si abang yang masih stagnan dengan bibir terkatup. "Aku tidak ikut acara coret-coret baju dan konvoi anarkis. Adikmu ini anak baik-baik, lho, Kak."
Membuang napas berat, Hoseok meluruhkan bahunya. Sejujurnya, Hoseok tidak mengkhawatirkan perihal itu, meski pagi tadi dia juga sempat dibuat cemas-takut kalau-kalau Jimin akan terseret masalah karena ikut aksi berlebihan untuk merayakan kebebasan setelah melewati ujian. Tetapi tentu saja tidak, Jimin itu anak yang patuh peraturan, jadi jelas saja Hoseok datang bukan untuk alasan itu. Ada sesuatu yang lebih genting, yang barangkali akan jadi beban paling berat untuk dipikul adiknya.
Melihat ekspresi kakaknya yang tampak mendung membuat Jimin jadi ketar-ketir sendiri, terlebih Jimin jadi merasa kelimpungan tatkala Hoseok berujar dengan suara lirih dibarengi senyum yang tak sampai menyentuh mata. "Jimin, kau memang anak baik-baik. Setelah ini Kakak harap kau akan terus menjadi anak baik."
Memiringkan kepala, separuh bingung Jimin menyahut, "Kak Hoseok, ada apa?"
Alih-alih mendapat jawaban, Jimin justru dihadiahi dekapan erat. Kakaknya mengelus bagian belakang kepala, sementara pemuda pemilik sepasang sabit tak berkutik-bingung harus melakukan respons apa terhadap tindakan tiba-tiba dari kakaknya. Di detik selanjutnya, isi kepala menjadi melompong. Jimin merasa kalau tulang-tulang dalam tubuhnya berubah menjadi lunak seketika tatkala Hoseok berbisik lirih, "Tidak apa, Jimin. Di sini masih ada Kakak."
Dunia Jimin seperti mau runtuh ketika Hoseok melepas pelukan, menjatuhkan kedua tangan di masing-masing bahu Jimin, dan memberikan tatapan terluka yang amat kentara. "Ayah dan ibu sudah pergi jauh, Jimin. Mereka sudah bertemu Tuhan. Tetapi kau harus tetap kuat, ya, Jimin. Kakak mohon."
•°•°•°•
Pada dasarnya Jimin bukanlah anak mandiri kendati dirinya memilih untuk tinggal bersama kakaknya dan direntangkan oleh jarak bermil-mil dari ayah serta ibu. Jimin adalah yang terlampau cinta kepada kedua orang tua. Setiap malam menyapa, maka Jimin akan memulai panggilan video dan bercerita mengenai kesehariannya di sekolah, dan paling banyak merajuk sebab sering dijahili oleh Jungkook-keponakannya tersayang.
Seharusnya di hari ini, di hari kelulusannya, dia bisa menerima dekapan hangat dari ayah maupun ibu, bukan kehampaan tak berujung yang nyaris merenggut secuil senyum serta harapan. Semestinya dia bisa menikmati waktu keluarga seraya menyombongkan diri sebab menjadi peraih nilai tertinggi di angkatannya (setidaknya setara seperti kakaknya yang selalu berada di puncak tertinggi atas seluruh pencapaiannya).
KAMU SEDANG MEMBACA
Semesta
FanfictionDalam sungai kehidupan yang dialiri kisah berisi air mata dan tawa dari afeksi, serta diiringi konversasi dengan rasa manis dan pahit pada setiap sekon yang terlampaui. Dari hulu sampai hilir. Bermuara pada batas perpisahan-diakhir perjalanan nanti...
