° selamat tinggal? bukan! tetapi, tetaplah tinggal. °
•••
Lee Haeda. Didakwa atas tuduhan pencemaran nama baik dan pemerasan.
Tiada satupun hal yang mampu membuat Hoseok berpikir dua kali untuk melakukan tindakan ini. Apa yang dilakukannya sudah sangat benar, benar sekali. Orang-orang yang melakukan tindak kejahatan pantas sekali mendapat balasan setara atas perbuatan yang mereka lakukan.
Memaku ingatan yang terjadi dua hari lalu; pada keping fragmen yang memuat adegan di mana Hoseok melihat dengan mata kepala sendiri sang adik yang tengah dipermalukan di khalayak ramai, dicibir dengan bahasa tak pantas, dijatuhi hinaan yang tak seharusnya didapatkan, dan ditembaki peluru kata yang membuat adiknya semakin terluka pun kian sakit.
Pria itu jelas sangat tahu siapa Haeda. Pemuda Lee itu adalah sahabat adiknya semasa sekolah menengah pertama, sampai akhirnya Jimin pernah bilang kalau dia dan Haeda tak lagi berteman baik ketika SMA. Hoseok sempat limpung atas pengakuan Jimin, sebab Hoseok begitu yakin bahwa pertemanan dua remaja itu tidak mengalami masalah apa pun, mengingat relasi keduanya sangat baik. Namun sepertinya memang tidak ada satupun yang bisa menolak perpecahan antar teman, walau pernah dekat yang sangat-sangat dekat.
Mau apa pun alasan yang membuat hubungan Jimin dan Haeda pecah berantakan, seharusnya Haeda tidak sampai dengan teganya membuat Jimin hancur secara mental pun pada nama baiknya di tengah masyarakat. Hoseok hanya tidak mampu menelaah alasan kuat di balik tindakan sampah semacam itu. Seorang abang dengan satu adik lelaki ini hanya sedikit mengerti perangai pemuda sebaya Jimin yang—kini duduk di seberangnya dengan baju khas tahanan kepolisian—diberi tahu oleh Jiyeon, meski sebenarnya istri Yoongi itu bilang bahwa Haeda adalah salah satu penyebab keguncangan yang membuat adiknya semakin tertekan.
"Jimin mungkin bukan orang yang baik, tetapi dia juga bukan penjahat. Aku merasa bahwa kau sudah menghukumnya lebih dari hukuman mati terkeji yang pernah ada di dunia. Kau tahu, Jimin sangat sakit sekarang, Haeda."
"Adikku juga sakit."
"Tetapi bukan aku yang membuat adikmu sakit."
Haeda mengangkat pandang, Hoseok menatap dengan wajah kaku dan sorot tajam.
"Kalau saja Jimin mau memberikan apa yang aku mau, mungkin keadaannya tidak akan jadi seburuk ini," kata Haeda dengan segala upaya untuk membenarkan diri sendiri. "Satu-satunya yang telah menyakiti Jimin adalah dirinya sendiri."
"Kenapa kau bicara seperti itu?"
"Aku hanya bicara fakta dan apa adanya. Kupikir Jimin terlalu berlebihan, sakitnya belum seberapa, tetapi dia bersikap seolah aku sudah memenggal kepalanya. Bukankah selama ini hidupnya enak, berkecukupan dan ia selalu bahagia? Huh, seharusnya Jimin tidak sejatuh ini. Dia memainkan drama dengan sangat pintar."
"Sial. Omong kosong macam apa itu?" Hoseok mendengkus tak terima. "Bahkan setelah aku mengirimmu ke tempat ini, kau masih tidak mau mengakui kesalahanmu?"
"Aku tidak salah. Jimin pantas mendapatkannya." Menatap Hoseok dengan pandangan yang sangat memuakkan. "Rasa sakit itu, Jimin pantas merasakannya."
Mengembuskan napasnya agak gusar, Hoseok menyugar rambutnya. "Atas dasar apa?" Suaranya meninggi ketika mengulang, "Atas dasar apa kau berbicara seperti itu, hah?!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Semesta
Fiksi PenggemarDalam sungai kehidupan yang dialiri kisah berisi air mata dan tawa dari afeksi, serta diiringi konversasi dengan rasa manis dan pahit pada setiap sekon yang terlampaui. Dari hulu sampai hilir. Bermuara pada batas perpisahan-diakhir perjalanan nanti...
