08. Es Krim Dan Konversasi Di Ujung Senja

2.8K 431 116
                                        

°Mau menangis saja rasanya, sih. Tetapi menyenangkan juga menghabiskan waktu nyaris seharian dengan Kookie dan Taehyungie beserta seluruh pikiran unik mereka.°

...

"Jiminie," panggil Jungkook dengan dua manik berbinar-binar, bocah itu bahkan memasang senyum terbaik ketika mencoba merayu pamannya untuk kesekian kali, tarikan dua lipat bibir semakin melebar begitu melihat pemuda yang memakai topi hitam dengan kaca mata cokelat sudah menunduk—menoleh ke arahnya. "Jiminie punya uang yang tak terpakai lagi, tidak?"

Sebenarnya Jimin tak siap dalam segi fisik pun mental tatkala harus jadi yang tertua di antara dua bocah berusia delapan tahun dalam agenda jalan-jalan bersama di taman hiburan pada akhir pekan. Meski dari awal ini memang idenya juga, sih. Menyatukan si keponakan dengan sahabatnya itu bukanlah pilihan yang baik kalau tidak ingin membuat emosi pasang-surut seperti gelombang laut atau serupa menjerumuskan diri dalam kubangan penderitaan yang digali oleh Jungkook dan Taehyung.

Yah, tetapi liburan kali ini cukup menyenangkan, namun terasa agak sulit sedikit. Terlebih ketika Jungkook maupun Taehyung selalu memakai kode-kode untuk meminta sesuatu padanya. Seperti saat ini, misal.

Sepanjang hari, selama mereka bersenang-senang, di sela-sela senggang sebelumnya dua bocah yang saling bergandengan tangan di hadapannya ini sudah menggunakan kalimat seperti:

Jiminie! Makan es serut di siang bolong itu enak 'kan? Kookie jadi mauuuu.

Kak Jimin? Balon Tata yang di sana tadi berbisik pada Taetae, katanya dia mau ikut dengan kita.

Masih banyak lagi, termasuk saat di mana Jungkook dan Taehyung berdebat mengenai lebih enak mana antara hotdog dan hamburger? Kendati berkontradiksi ketika mengajukan pendapat, diakhir perdebatan, keduanya justru sama-sama menikmati dua makanan itu sampai masing-masing mulut mengembung karena dipenuhi roti dan daging, mereka begitu semangat ketika menghabiskan makan siang dengan porsi jumbo tersebut.

Jimin membuang napas dilanjut meringis sebentar. Pemuda itu tahu bahwa dirinya tidak bisa menolak rayuan manis tatkala Jungkook menarik-narik ujung kaosnya dengan ekspresi menggemaskan dan juga pada Taehyung yang ikut memasang wajah penuh harap. Lagi-lagi menghela napas pasrah, menyerah. "Kali ini uang tidak terpakainya mau digunakan buat apa?" tanyanya.

Mendadak pelangi terbit, cahaya terang seolah terpancar ketika Jungkook pun Taehyung kompak menunjuk satu arah sambil berkata antusias, "MAU ES KRIM DI SANA!"

Jimin menekuk bibir. "Apapun asal jangan es krim," katanya setengah frustrasi plus sebal sembari melepas kacamata dan membiarkan benda itu menggantung di depan baju. Dia berkacak pinggang, melanjutkan gemas. "Sudah sore, dan kalian juga sudah makan es serut sampai dua mangkuk. Tuh, lihat juga sisa-sisa permen kapas yang masih menempel di sudut-sudut bibir. Memangnya tidak takut sakit perut?"

"Perut Kookie 'kan kuat, jadi tidak akan sakit walau makan es krim banyak-banyak."

Anak lelaki di sampingnya mengangguk berkali-kali seolah menyetujui. "Perut Taetae juga masih bisa menampung es krim, kok!" Terkekeh pelan dengan tangan kanan di depan bibir. "Soalnya cacing-cacing di sana tidak pilih-pilih soal makanan."

"Ada saja alasannya, ya." Jimin diam sebentar, kemudian atensi ditempatkan pada stan es krim yang berada sedikit jauh dari tempatnya berdiri. Manik digulirkan lagi ke bawah. "Tetapi tetap tidak untuk es krim, adik-adik."

"Yah, penonton kecewa," celetuk Taehyung.

Sementara Jungkook langsung cemberut, berkata pelan dengan nada kesal, "Jiminie tidak asik, ah. Kookie tidak suka." Kemudian membuang arah pandang sambil menarik tangan Taehyung untuk mengajaknya menjauh dari si yang paling tua di antara mereka.

SemestaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang