°Kepergian ialah tamparan yang memberikannya kesadaran bahwa betapa pentingnya arti kebersamaan. Sebuah kesederhanaan yang ia gadaikan sampai mampu membuat runtuh dinding bahagia yang ia dambakan.°
•••
Gelap total. Mobil yang membawa dua orang di dalamnya itu melaju meninggalkan kompleks perumahan yang masih direngkuh oleh pekatnya gelap dan cuma ditumpahi sedikit redup cahaya bulan serta diiringi tetesan air tipis yang masih jatuh kendati hujan besar telah berlalu. Ketika kendaraan roda empat itu hampir melewati gerbang kompleks, perlahan lampu-lampu sisi jalan serta rumah-rumah menyala, dan sekilas Jimin bisa melihat mobil kakaknya yang memasuki area kompleks dengan kecepatan lumayan tinggi.
Bukankah sudah terlalu terlambat untuk pulang dan merayakan hari kelahiran bersama anak semata wayang?
Jimin menyambung rajutan napas dengan getir yang masih mengalir di rute darah. Tatapannya dilapisi banyak luka, terasa tak begitu berat dibanding setumpuk duka yang bersarang dalam dada, terlebih ketika menemukan Jungkook yang masih betah memeluk lutut dalam diam di kursi sebelah kemudi.
Ini saatnya untuk membuat Hoseok sadar bahwa Jungkook sudah cukup terluka serta kesepian di rumah di saat ayahnya begitu keras mengumpulkan harta, sampai lupa pada eksistensi putranya. Jimin tak acuh, tak peduli bagaimana paniknya Hoseok ketika tak mendapatinya serta Jungkook di rumah. Biarlah dia kelimpungan sendiri. Kemudinya Jimin genggam erat, menaruh sebagian emosi dalam jemarinya kala kaleidoskop singkat melesat cepat pada netra.
Tangisan Jungkook beberapa saat lalu masih mampu membuat hatinya bergetar hingga sekarang. Jimin memutuskan untuk membawa keponakannya ke suatu tempat yang menurutnya aman untuk menitipkan Jungkook buat sementara waktu. Jongin telah Jimin suruh pulang lebih dulu beberapa waktu lalu, dan kini ia beserta Jungkook menaiki mobil peninggalan mendiang orang tuanya.
Tidak ada banyak hal yang bisa Jimin pikirkan saat ini. Laki-laki itu bahkan memilih abai pada ponselnya yang bergetar di bagian dasbor, serta tetap fokus menatap jalanan dan sesekali melirik keponakan kesayangannya. Ia diam-diam mengembuskan napas pelan, Hoseok sudah berusaha menghubunginya belasan kali, dan Jimin enggan untuk menerima panggilan dari kakaknya meski cuma sekali. Seolah ia sudah tak ingin mendengar aksara apa pun dari kakaknya, sebab ia telah merasa seakan dipaksa untuk berendam di dalam kolam yang berisi rasa kekecewaan yang begitu besar, makanya ia memilih untuk tak acuh. Barangkali Hoseok memang sedang sungguhan panik di dalam rumah saat ini.
Lampu rambu berubah merah tepat tatkala mobilnya nyaris menyentuh jalur hitam putih untuk penyeberang jalan. Lagi-lagi napasnya diembuskan lambat dengan kepala yang perlahan mendekati sisi jendela dan ia menggunakan sepasang netra sabitnya untuk mengintip langit malam pascahujan sejenak menginvasi.
Tiada tatapan penuh binar pada manik teduhnya, cuma sepintas terlihat layaknya kelam yang bergelantung pada kanvas latar bulan, pandangan Jimin penuh dengan kehampaan. Bintang-bintang di langit bahkan tak terlihat lebih terang dibanding jajaran lampu yang ditancapkan di sisi jalan, bintang-bintang di sana pun tak bisa mewakili betapa usangnya benderang mentari berbentuk bocah lelaki yang ia berikan banyak sekali tumpahan afeksi, walau pada akhir-akhir ini berada dalam spasi yang tak mampu dijangkau jari. Tetapi setidaknya Jimin masih bisa meluangkan sedikit waktu padatnya untuk menemani keseharian Jungkook, kendati cuma sebentar serta sesekali berkomunikasi hanya lewat sambungan seluler, dan pemuda itu sadar bahwa sebanyak apa pun kehadiran yang ia berikan, tidak akan mampu menukar keinginan Jungkook atas hadirnya sang ayah dalam keseharian.
Bergeming cukup lama ketika tiba-tiba pandangannya serasa berputar dan agak buram. Jimin menggeleng dua kali, namun peningnya tak juga hilang. Ini pasti efek karena kehujanan, lantas pemuda itu menyandarkan tubuhnya pada kursi dan memijit keningnya agak pelan sembari memejam mata. Meneguk salivanya, sejemang tarikan tipis pada bibir tercipta bersamaan dengan ingatan masa kecil; mengenai ayah dan ibunya yang telah tiada.
KAMU SEDANG MEMBACA
Semesta
Fiksi PenggemarDalam sungai kehidupan yang dialiri kisah berisi air mata dan tawa dari afeksi, serta diiringi konversasi dengan rasa manis dan pahit pada setiap sekon yang terlampaui. Dari hulu sampai hilir. Bermuara pada batas perpisahan-diakhir perjalanan nanti...
