12. Arti Senyum Jimin Pt. 2

1.7K 254 46
                                        

°Katanya, kau boleh menjadi egois untuk meraih kesenanganmu sendiri. Tetapi, Jimin tidak berpikir demikian lagi setelah banyak babak yang ia lewati dalam hidupnya. Mengutamakan orang lain untuk bahagia serta memastikan mereka baik-baik adalah tujuan utamanya, kendati itu malah akan membuat dirinya sendiri terluka.°

•••

"Cuma mendengarkan tanpa memberikan ucapan itu tidak akan mengubah apa-apa, meski itu sedikit meringankan beban, Jimin. Bagiku, hanya didengarkan saja sama seperti berbicara dengan batu, kau tahu? Aku butuh jalan, aku butuh tempat pulang, aku butuh seseorang yang bisa mengerti diriku, aku butuh mereka yang bisa membuatku paham bahwa semesta memang terkadang suka mempermainkan kehidupan. Jadi seharusnya aku hanya perlu sedikit mengerti, banyak bersabar, dan aku hanya perlu memaklumi candaan semesta.

Namun, sayangnya, orang-orang malah ikut tertawa bersama semesta disaat aku kesulitan seperti ini. Sisanya, mereka yang ada didekatku, cuma pada bisu, seperti dirimu. Jimin, kau juga tidak membantuku, tahu."

Rasa-rasanya semesta memang tidak cuma memberitahu gurat dikara dari sekeping warna aurora pun sepotong bias galaksi yang menakjubkannya bisa sampai membuat lupa diri seketika. Intinya putih, lainnya hitam dan percik-percik pelangi layaknya pemanis. Semesta tak cuma memberi kebahagiaan, Jimin jelas tahu, pasti ada digit-digit rasa sakit yang begitu menggigit dalam tiap-tiap predestinasi dari tujuh miliar manusia yag mendiami bumi.

Jangan salahkan dia yang sudah bicara sesumbar mengenai semesta. Jangan salahkan dia yang telah memaki bentala, bumantara, lunar hingga fajar. Pun, jangan salahkan dia yang barangkali tanpa sadar telah mengutuk takdir, atau mungkin sebetulnya ia sudah sampai menghakimi pencipta jagat raya.

Inginnya diam, tetapi mau sekuat apa pun dia menahan tekanan dalam dada, luka-luka itu ternyata tak ingin membuatnya tetap apatis pada getir yang menyesakkan. Memoar-memoar buruk yang menerornya tak kunjung menepi, kendati Jimin sesungguhnya sudah sangat lelah dengan dirinya yang sekarang. Memuakkan dan menyedihkan, sangat. 

Mendiang temannya benar, ucapan Ha Dawon tepat sekali mengenai fakta kalau didengarkan saja itu seperti berbincang pada batu. Namun nyatanya bertindak sendirian seperti yang ia lakukan belakangan malah menjadikannya kepayahan seperti ini. Letak kesalahannya memang cuma pada kesibukan kakaknya, tetapi seperti yang Jimin gaungkan, ia menggunakan banyak perspektif untuk melihat sebuah persoalan. Kegagalan afeksi Jeon Hoseok tidak sepenuhnya salah laki-laki itu. Sedalam apa luka Jungkook, sejauh apa duka Jimin, sebanyak itu pula yang dirasakan oleh kakaknya.

Apabila seperti ini, agaknya memang Jimin harus melibatkan dirinya lebih banyak lagi, bukan? Sudah dengan membuat Jungkook mengerti, dan kini ia cuma harus membuat kakaknya juga paham tentang Jungkook; apa yang menjadi keinginan bocah itu; apa mimpi anak itu; seberapa banyak waktu yang Jungkook mau; sebesar apa afeksi yang harus didapatkan Jungkook di saat usianya masih terlampau muda buat diabaikan orang tua sendiri, di mana hanya ada ayah tunggal tanpa sosok ibu di sisinya.

Tetapi, sebentar. Tunggu beberapa saat. Pemuda itu membutuhkan renggang sekon untuk bernapas secara bebas. Mengapa akhir-akhir ini terasa begitu sulit?

Jimin cuma sedang putus asa, hilang rasa, namun enggan mematikan afeksi untuk kakak dan keponakannya. Hari-hari yang lalu bisa ia lewati dengan beraktivitas seperti biasa, tanpa peduli pada otak yang serupa barang loak, tanpa acuh pada hati yang berteriak gaduh, dan tanpa hirau pada jiwa yang kelelahan. Selagi mampu menjadi pilar untuk orang-orang yang ia sayang, Jimin akan tetap berdiri meski kaki bergemetar. Walau agaknya, cepat atau lambat, apa yang ia sembunyikan dari orang banyak akan tersebar. Mengenai Jimin yang sakit.

SemestaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang