°Jiminie, ayo bermain tebak-tebakan dengan Kookie!°
•••
"Kookie ... bagaimana perasaan Kookie hari ini?"
Jungkook terdiam sebentar. Melirik sang ayah yang duduk di kursi pengemudi, menyelisik wajah ayah yang sepertinya tengah memasang ekspresi serba salah. Ingatan anak itu ditarik ke belakang sejenak.
Hari ini Jungkook sekolah diantar diantar mama dan papa, kemudian mama Jiyeon menungguinya sampai selesai, bahkan ketika jam istirahat tadi Kookie juga memakan masakan mama sambil disuapi. Rasanya hangat sekali. Kookie sempat bilang ke teman-temannya kalau sekarang Kookie punya seorang ibu, walau bukan kandung, tetapi afeksinya nyata sekali. Seribu persen, Kookie sangat senang. Bahagia sekali. Rasanya seperti mendapati banyak ledakan kembang api di langit malam atau seperti menemukan banyak kupu-kupu cantik yang terbang di semesta miliknya yang sempat meredup warnanya.
Jiminie kemarin sudah bilang kalau Kookie harus mencoba untuk memaafkan ayah, terlebih ayah sibuk-sibuk juga untuk dirinya. Boleh marah, boleh kecewa, asal tidak lupa untuk memberikan kata maaf. Lagian Kookie sudah berjanji untuk memaafkan segalanya. Memaafkan ayah yang paling utama. Jungkook memasang senyumnya. "Baik, kok, Yah. Papa dan Mama merawat Kookie dengan baik."
"Mama dan Papa?"
"Huum. Paman Yoongi dan bibi Jiyeon. Tidak apa-apa kan kalau Kookie memanggilnya mama dan papa?"
"Siapa yang melarang, hm?" Hoseok sekilas melemparkan senyum. "Tidak apa-apa, kok, Sayang. Panggil apa pun yang Kookie mau. Ayah dengar Kookie sempat bermain ke taman hiburan kemarin. Pasti seru sekali, ya?"
Jungkook mengangguk, dia menunduk seraya memainkan jemari. "Iya, seru sekali. Tetapi sepertinya akan lebih seru kalau Ayah dan Jiminie juga ikut."
"Lain kali kita akan pergi bersama, ya."
"Jangan berjanji jika tidak bisa menepati, Yah."
Hoseok mengigit bibirnya, sekonyong-konyong perasaan bersalah yang sudah ada di dalam dada kini malah kian berkobar. "Maafkan Ayah. Tolong maafkan Ayah untuk segalanya. Kookie—"
Jungkook memenggal ucapan, "Ayah tak perlu meminta maaf terlalu banyak." Masih menunduk, masih sibuk dengan jemari mungilnya. "Kookie sudah memaafkan Ayah, kok."
"Kookie ...."
"Manusia itu tidak bisa luput dari salah pun dosa. Kookie ingat Ayah pernah berkata seperti itu ketika Kookie tak sengaja menjatuhkan ponsel Ayah. Jadi, tak apa. Kookie sudah memaafkan Ayah. Sungguh! Ayah tidak perlu meminta maaf lagi, oke?"
Benar tidak sih usianya delapan tahun? Kenapa rasa-rasanya Hoseok seperti bicara dengan seorang dewasa? Benar kata Jimin, Jungkook tumbuh diiringi dengan kedewasaan, padahal Jungkook masih terlampau muda untuk berpikir sedewasa itu. "Seharusnya Kookie marah pada Ayah, seharusnya Kookie tidak memaafkan Ayah dengan sangat mudah. Ayah sudah melukai Kookie, sudah membuat Kookie kesepian, bahkan Ayah sampai lupa memberikan Kookie afeksi dan cinta secara penuh. Ayah selalu sibuk bekerja, sampai lupa kalau Kookie juga butuh Ayah."
"Untuk mendapatkan yang terbaik, maka kita harus melewati babak terburuk terlebih dahulu, benar begitu?" Jungkook mengangkat wajahnya, melempar atensi pada ayah yang masih fokus mengendarai mobilnya. "Ayah sibuk bekerja, terlalu sibuk sampai lupa kalau Kookie itu ada dan butuh Ayah. Tetapi Ayah melakukan itu juga atas dasar keharusan. Ayah ingin kehidupan Kookie baik, kehidupan keluarga kecil kita baik, dan Ayah menempuh hal terburuk untuk meraih yang paling terbaik. Namun cukupkan saja untuk sekarang, ya, Yah. Ayah tak perlu bekerja terlalu keras, karena hal terbesar yang Kookie butuhkan itu kehadiran Ayah, bukan uang Ayah. Lagi pula bukan hanya Kookie, Jiminie juga butuh Ayah. Kita tak perlu punya banyak harta, Yah. Asal saling melengkapi dan selalu bersama, Kookie sudah pasti akan merasa sangat bahagia."
KAMU SEDANG MEMBACA
Semesta
FanfictionDalam sungai kehidupan yang dialiri kisah berisi air mata dan tawa dari afeksi, serta diiringi konversasi dengan rasa manis dan pahit pada setiap sekon yang terlampaui. Dari hulu sampai hilir. Bermuara pada batas perpisahan-diakhir perjalanan nanti...
