Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tahun 20xx, Korea memulai eksperimen untuk menciptakan spesies makhluk baru di bumi. Mereka adalah manusia yang tubuhnya diubah menjadi setengah robot, yakni Cyborg. Kepala mereka diisi microchip, kaki dan tangan seperti robot, dan kepala manusia yang tetap intact.
Mereka bisa dikendalikan, bisa pula memiliki kebebasan untuk menguasai diri sendiri. Kebanyakan dari mereka adalah korban bencana, perang, atau yatim piatu yang merasa bahwa hidupnya tidak berarti dan ingin berguna untuk orang lain.
Sebagian mengajukan diri sendiri karena sebatas main-main atau memang ada motif tersembunyi. Dua tahun berlalu sejak proyek tersebut mulai dilaksanakan dan masyarakat Korea mulai beradaptasi dengan spesies manusia baru di sekitar mereka.
"Minjoo!" Yujin memanggil nama seorang gadis yang hendak memasuki gerbang sekolah. Sang gadis bernama Minjoo berbalik dan menyapa sang pemuda.
"Selamat pagi, Yujin."
Yujin lantas mensejajarkan langkahnya di sisi Minjoo. Keduanya berjalan beriringan memasuki bangunan sekolah.
Sekilas, pemandangan dua muda-mudi yang berjalan bersama bukanlah hal luar biasa. Pubertas, pertemanan, dan kedekatan adalah hal normal. Tidak ada yang anomaly dari hal tersebut, terkecuali penampilan sang gadis yang berbeda. Dari atas, Minjoo memiliki kepala dan wajah manusia biasa. Dia pun memiliki tubuh manusia.
Namun, tangan dan kaki sang gadis adalah robot. Ya, Minjoo adalah Cyborg. Minjoo baru saja kehilangan keluarganya dua tahun lalu, tepat ketika pendaftaran transplantasi tubuh robot mulai dijalankan.
Merasa putus asa, Minjoo menyerahkan tubuhnya untuk dijadikan kelinci percobaan. Pemuda berambut hitam sedari tadi hanya mengamati Minjoo. Yujin mengenal Minjoo dua tahun lalu sebagai sesama murid baru di SMA Seoul.
Awalnya, Yujin masih tidak terbiasa dengan gadis yang menjadi teman sebangkunya. Yujin telah mengetahui proyek Cyborg dan berusaha menggali informasi terkait mereka.
Cyborg diberikan pilihan, menukar otak mereka dengan microchip atau mempertahankan otak mereka. Yujin penasaran, opsi mana yang Minjoo pilih.
Saat istirahat, Yujin pergi ke kantin seorang diri dan kembali ke kelas, menyodorkan satu roti dan sekotak jus untuk Minjoo. Ya, inilah rutinitas Yujin. Dia gemar membelikan Minjoo makan siang karena tahu bahwa sang gadis hari ini tidak sempat membuat bekal.
Dua tahun mengenal sosok Minjoo membuat Yujin cukup mengetahui jadwal Minjoo. Hari ini, hari Senin, Minjoo akan bekerja di sebuah gudang pagi-pagi sekali untuk mengangkut beberapa barang ke mobil pengangkut. Dengan tangan robot yang bisa diubah sesuka hati, pekerjaan tersebut bukanlah perkara sulit.
"Terima kasih. Duduklah." Minjoo membalik kursi Yujin sehingga mereka duduk berhadapan.
Yujin yang memiliki paras menawan sesungguhnya bisa menjerat banyak gadis. Namun, Yujin tetap menjadi siswa biasa lantaran kedekatannya dengan Minjoo.