"Mau beli di mana?" tanya Salma sambil tersenyum memandangku.
"Di toko mainan suka ada kok, Sal."
"Makanya sembuh, nanti aku temani cari mesin waktu di toko mainan."
"Beneran, Sal?!" tanya ku girang untuk memastikan perkataan Salma barusan.
"Ya... bener deh."
"Masak pake 'deh'? Nggak ikhlas banget."
"Iya... bener. Tapi soal terjebak sama aku... nanti dulu ya? Satu-satunya, Ga. Berat untukku kalau harus terjebak berdua sama kamu."
Salma melihat ke sekeliling ruangan, memastikan cuma ada kami berdua di sana, memastikan bahwa teman-temanku sedang ada di luar.
"Mmm... Ga?"
"Iya, Sayang?"
Mata Salma membulat. "Sekali lagi ngomong kayak gitu kutonjok."
Aku tersenyum usil. "Iya, ampun-ampun. Kenapa Salma cantik?"
"Mmm... kayaknya temen-temen kamu pada nggak suka sama aku, deh."
"Ya, malah bagus dong? Kalau mereka suka sama kamu, kebayang nggak aku bisa secemburu apa?"
"IHHH!!" Salma nampaknya gemas sekali, ia mencubit tangan kananku tanpa peduli aku habis kecelakaan atau tidak. Sepertinya kalimatku selalu menjengkelkan untuknya.
"Aduh!! Sakit, Sal."
"Ya, abisnya nyebelin banget! Nggak berubah kamu ya dari dulu, tetep nyebelin. Aku ini lagi serius, Ga."
"Iya, aku juga serius kok."
"Rangga!"
"Salma Yumna!"
"Au ah gelap, aku mau pulang aja!"
Tangan kananku yang dipakaikan infus bergegas meraih tangan Salma. "Jangan."
"Jangan? Terus? Aku harus di sini?"
"Aku mau jadi rumahmu, Sal."
"Ga!"
"Oh iya, lupa, kamu butuh waktu."
"Menyerah?"
"Nggak bisa."
Liana masuk tanpa terlebih dahulu mengetuk pintu. "Nggak baik tau berduaan di kamar. Kalau udah halal baru boleh."
"Ya sudah, halalin yuk, Sal?"
"Maksudnya?!"
"Menikah denganku biar halal, biar Liana nggak bawel."
"Ga!!!"
***
Sepanjang malam aku tertidur. Lalu terbangun pada keesokan harinya karena kedatangan seorang perawat.
"Pagi..." Sapa perawat itu untuk memeriksaku.
Aku terbangun. "Pagi, suster."
"Bagaimana? Sudah lebih baik, Tuan Rangga?"
"Sudah dong. Suster nggak lihat ada bidadari nungguin saya semaleman?"
Nampaknya Salma merasa canggung. Ia sudah tak mampu lagi marah dengan kalimat menyebalkan yang keluar dari mulutku. Ia hanya melempar senyum terpaksa. Suster tadi hanya tersenyum melihat kami. "Saya permisi dulu, kalau ada apa-apa pencet saja tombol bantuan yang ada di dekat tempat tidur."
"Makasih, Sus," jawab Salma pelan karena dari tadi aku cuma menahan tawa.
Setelah suster tadi keluar. "Kamu, tuh, kalau ada orang lain jangan nyebelin kenapa, sih!!"
"Jangan marah-marah terus, nanti aku makin sayang."
"Mama papamu, mana?"
"Mereka di Madura."
"Mereka tau nggak kamu kayak gini?"
"Gini gimana? Jatuh cinta sama kamu maksudnya?"
"Ga, aku serius."
"Nggak, mereka nggak tau. Aku nggak suka buat orang khawatir, kecuali kamu."
"Aku nggak khawatir."
"Tau gitu kemarin aku ditabrak kereta api saja, biar lukanya lebih parah."
"Hush! Kamu, tuh, kalau ngomong jangan sembarangan."
"Tuh, kan, kamu takut aku mati."
"Denger, ya, mahluk aneh. Omongan itu doa, jadi jangan macem-macem."
"Omongan itu doa? Berarti bisa kejadian beneran gitu, Sal?"
"Iya, makanya jangan sembarang!"
"Besok, lusa, terserah Tuhan maunya kapan, Salma akan menyayangiku seperti aku menyayanginya, lalu kita berpacaran, lalu kita akan menikah karena ketika aku lamar Salma bilang 'iya'. Kemudian aku dan Salma akan menjadi dua manusia paling bahagia yang pernah hidup di bumi."
"Ngomong apaan, sih?"
"Lah, katamu omongan itu doa. Ya, aku ngomong kayak gitu aja biar kejadian beneran."
"Itu pengecualian. Tidak akan terjadi."
"Nggak usah sok tau. Semesta lebih berpihak kepadaku. Tujuannya untuk membahagiakanmu, jadi pasti semesta akan setuju."
"Lagi sakit aja bisa-bisanya masih merayuku."
"Aku tidak merayumu, Sal. Aku cuma membantu hatiku untuk mengatakan sesuatu."
"Terserah."
"Belum juga, Sal?"
"Belum apa?"
"Belum menyayangiku?"
"Kan, sudah kubilang aku ini tidak bisa menyayangimu."
"Kalau sudah, bilang ya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Derap Langkah #1 (SELESAI)
Teen FictionMari berbagi rasa Dari relung hati Yang terdalam ... Ketika seorang Rangga Ilyas berjuang untuk mendapatkan hati seorang Salma Yumna Arisa, tapi memperjuangkan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan
