Aku melempar tubuhku ke tempat tidur. Memejamkan mata. Memaafkan diriku atas segala hal yang sudah aku lakukan hari itu, walaupun kelihatannya tidak ada yang salah. Hitam. Satu alasan yang membuatku senang sekali memejamkan mata. Aku senang dengan satu warna itu. Yang menipu. Yang maknanya seribu. Dan satu warna gelap itu, selalu menghadirkan sebuah wajah, satu wajah lebih tepatnya, satu-satunya yang selalu ada di pikiranku, yang selalu membuatku berada di ruang nostalgia berisi jutaan kenangan yang tak akan ada habisnya.
Johan, apakah kau masih berada di Banda Neira? Atau kau sedang dalam perjalanan melanjutkan pencarianmu itu?
Johan, kau benar, Rangga benar-benar menyayangiku. Rangga membuatku sadar bahwa selama ini aku tidak pernah melihat suatu hal yang sebenarnya berharga, yang sebenarnya adalah jawaban yang selama ini aku cari-cari. Johan, sampaikan salamku pada langit yang membiru itu, bilang padanya bahwa aku akan belajar untuk berhenti mengejarmu.
***
"Pak Joko, yang difotokopi bab delapan sama covernya saja ya."
"Siap, Mbak Salma!"
Hapeku bergetar, ada pesan masuk, dari satu-satunya mahluk yang rajin mengirimkan pesan, Rangga;
Kok kamu nggak ada di rumah? Kamu kemana, Sal? Cukup kamu buat aku kangen waktu malam saja, siang begini jangan, ya.
Aku tersenyum membaca pesan itu. Pak Joko sampai heran, ia mungkin mengira aku tidak bisa tersenyum karena layar hape. Aku coba membalas membalas pesan dari makhluk menyebalkan itu.
Masih di bumi.
Aku menaruh hapeku kembali di dalam tas. Menyiapkan uang untuk membayar, lalu mengikat rambutku. Pak Joko menghampiriku dengan lembaran kertas yang sudah selesai difotokopi. "Mba Salma bawa teman?" tanyanya heran.
"Teman siapa, Pak?"
"Itu dibelakang."
Aku langsung menoleh dan Rangga mengejutkanku dengan satu kata. "DOR!"
Rasa kaget membuatku refleks memukul tangan kiri Rangga yang masih belum pulih. "Aduh, Sal! Sakit tau."
"Biarin, biar nggak sembuh-sembuh, atau biar patah aja dua-duanya! Orang nyebelin itu sembuhnya lama." ketusku saking kesalnya karena kaget.
Rangga menahan tawa. "Ya, maaf deh. Maafin aku ya, Sal." ucapnya sambil iseng menyikutku.
"Diem, ah!"
"Ternyata kamu beneran masih di bumi, aku jadi lega. Soalnya kukira tadi malam ada alien yang nyulik kamu di kamar."
"Lebih baik diculik alien daripada ketemu kamu!"
"Udah belum marahnya?"
"Ngomong sana sama tembok!"
"Udah?"
"Udah apanya lagi sih?"
"Menyayangiku? Udah belum?"
***
Kali ini aku menurut untuk naik mobil Rangga dan mengesampingkan egoku untuk naik bus kota. Di dalam mobil ada banyak sekali botol air mineral. "Sekarang kamu boleh ngomong terus, karena aku udah beli sepuluh botol air mineral. Jadi aku nggak perlu takut kamu haus, deh."
"Dasar aneh."
Rangga membukakan botol pertama. "Minum dulu, kalau lagi kesel sama orang harus banyak minum air, supaya nggak dehidrasi."
"Nggak ada hubungannya."
"Udah kenapa, Sal. Masa marahnya nggak udah-udah."
"Biarin! Orang kayak kamu itu harus diketusin!"
"Lagian kamunya juga sih, fotokopi kok jauh banget. Besok aku beliin mesin fotokopi, deh. Jadi kalau mau fotokopi di rumah aja, nggak usah jauh-jauh."
"Terus abis itu aku jual lagi mesin fotokopinya."
"Buat apa hasil penjualannya?"
"Beli ikan mas koki!"
Aku benar-benar kesal. Aku tak peduli lagi kenapa Rangga bisa tiba-tiba muncul di tempat fotokopi langgananku yang jauh dari rumah. "Tadi pagi aku ke rumah dan kamu tidak ada. Kata Rinto kamu ke tempat fotokopi langgananmu. Makanya aku ke sana."
"Besok-besok nggak akan kasih tahu Rinto aku ke mana."
"Eh, jangan, Sal," jawab Rangga memelas.
"Lagian, emangnya kamu nggak ada kelas apa?"
"Nggak, dosennya nggak masuk."
"Awas, ya, besok berani ngagetin aku lagi!"
"Iya, iya. Maaf."
Di depan terlihat papan nama McDonald's, Rangga segera meminta sopirnya untuk mampir ke layanan drive thru.
KAMU SEDANG MEMBACA
Derap Langkah #1 (SELESAI)
Teen FictionMari berbagi rasa Dari relung hati Yang terdalam ... Ketika seorang Rangga Ilyas berjuang untuk mendapatkan hati seorang Salma Yumna Arisa, tapi memperjuangkan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan
