"Kira-kira aku bisa nggak ya menyayangimu?"
"Bisa, Sal, kalau kamu mau berani."
"Berani? Maksudnya?"
"Berani memaafkan semesta yang selama ini kamu musuhi, karena dengan begitu kamu baru bisa membukakan hatimu untukku."
"Tapi aku butuh waktu."
"Kan sudah aku bilang, apa pun akan aku berikan, aku akan selalu menunggumu, Salma, selalu."
Aku sedang menemani Salma makan cheese burger . Aku sudah mulai masuk kuliah kembali, kondisiku membaik, walau tanganku belum pulih betul. Seminggu setelah kepulangan Salma dari Banda Neira, kami lebih banyak menghabiskan waktu berdua. Bahkan kini Salma mulai lupa punya teman bernama Liana, dan aku juga mulai lupa kalau punya teman bernama Jaka dan Thalia.
"Kamu bener nggak mau cheese burger?"
"Aku nggak makan makanan fast food, Salma."
"Sok sehat!"
"Bukannya sok sehat, aku cuma ingin berusaha menghindari sakit selagi bisa.
Karena aku masih mau hidup lama, masih ingin menemanimu, Sal."
"Kamu menyayangiku, Rangga, dan itu namanya tidak menghindari sakit selagi bisa."
"Itu pengecualian."
Setelah itu, kami saling senyum. Dalam hati mungkin Salma bicara, "Andai saja aku bisa dengan mudahnya menjatuhkan perasaanku padamu, mungkin hidupku akan jauh lebih bahagia."
"Kamu ya? Yang suka ngirim tukang buat bersihin kolam ikan di rumah?"
"Ah.... ngg.... nggak...."
"Kamu itu gak bakat jadi aktor."
"Mau marah ya, Sal? Ya udah kalau kamu gak mau nerima tukang itu, terpaksa aku yang bersihin kolam ikannya."
"Kalau habis makan aku nggak suka marah, nanti makanannya nggak berkah."
"Oh... begitu ternyata, ya sudah aku ajak kamu makan terus ya?"
"Dan sekarang kamu mulai memancing amarahku."
Hatiku benar-benar penuh warna sore ini, aku senang melihat Salma makan dengan begitu lahap, senang bisa memandang wajahnya tanpa harus melihatnya bersedih, bukankah bahagia itu memang begitu sederhana? gumamku.
"Di kelasku itu perempuan-perempuannya cantik-cantik loh, Ga. Pada bisa make up semua, pokoknya berkelas banget deh."
"Justru itu, aku maunya yang nggak bisa make up, yang ke kampus cuma pakai kaos dan celana jeans yang robek," jawabku sambil menggambarkan penampilan Salma setiap hari.
"Mereka pada tau kamu loh, bahkan semuanya suka stalking kamu di instagram, padahal isi instagrammu cuma sketsa-sketsa doang. Tapi kok aku bisa nggak tau kamu bisa seterkenal itu?"
"Mereka cuma tau, Salma, tapi gak kenal. Jadi untuk apa?"
"Ga, ada banyak perempuan yang mau sama kamu, jangan aku."
"Kan sudah kubilang tadi. Aku maunya yang gak bisa make up, yang ke kampus cuma pakai kaos dan celana jeans robek, yang sekarang sedang memintaku untuk menyerah."
"Aku nggak minta kamu untuk menyerah."
"Berarti kamu sudah kasih izin aku buat menyayangimu dong?"
Sambil menuntaskan gigitan burger terakhirnya, lalu meneguk air putih, Salma minta pulang. Mungkin, dia mulai risih karena sering diantar supirku kemana-mana naik mobil. Dan ketika aku membukakan pintu mobil untuknya, ia justru melangkah mundur, "Kamu udah bisa naik bis belum?"
"Udah, kenapa, Sal?"
"Naik bis aja yuk?" tanya Salma sedikit gugup.
"Loh kan udah ada mobil?"
"Ya udah kalau gak mau, aku naik bis sendiri!"
ketus Salma lalu pergi.
Aku buru-buru mengejarnya dengan terlebih dulu pamit pada sopirku, "Pak, Bapak langsung pulang aja, saya harus pulang sama Salma."
"Iya, Mas."
***
"Ada yang mudah, tapi senangnya sempit-sempitan."
Seperti biasa, kami tidak dapat tempat duduk, sebenarnya tadi ada, tapi yang didahulukan pasti lansia, ibu hamil dan ibu-ibu galak yang bisa tidak bisa harus duduk.
Jadi kami harus berdiri. Berkali-kali aku harus menjaga tangan kiriku agar tidak tersenggol. "Pokoknya kalau tanganku kenapa-kenapa akan kusandera kamu seumur hidup." ucapku seakan memahami bahwa Salma khawatir dengan situasi di dalam bis yang begitu penuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Derap Langkah #1 (SELESAI)
Ficção AdolescenteMari berbagi rasa Dari relung hati Yang terdalam ... Ketika seorang Rangga Ilyas berjuang untuk mendapatkan hati seorang Salma Yumna Arisa, tapi memperjuangkan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan
