Bagian 14

8 2 0
                                        

"Sal, kamu nggak harus-"
"Ga, sekarang aku yang bicara, kamu yang harus dengar aku!"
Apa yang akan keluar dari mulut Salma adalah kejutan yang tak pernah bisa aku terima. Itu sebabnya, kadang aku lebih merasa tenang kalau Salma diam, walau diam Salma berarti sejuta kata.

Terdapat luka memar dekat pelipisku, juga lecet di hidung. Tangan kiriku yang di gips karena patah, aku pakaikan selempang dan aku gantungkan di leher. Sebenarnya sakit, tentu saja, tapi aku tidak suka menunjukkannya di depan orang lain, terlebih di depan orang yang begitu aku sayangi.

Kemarin, ketika aku mengetahui bahwa mama Salma jatuh di kamar mandi, perasaanku hancur. Aku takut hari itu akan menjadi hari berakhirnya cerita yang baru saja hendak aku karang setelah dua tahun penantian panjang. Aku takut semakin menjauh dari dunia Salma untuk yang kedua kalinya yang padahal tinggal selangkah lagi.

"Kamu tau, Ga, mungkin sekarang duniaku nggak kenapa-kenapa. Mungkin mama kelihatan baik, tapi dia bisa berubah kapan pun. Dia bisa tiba-tiba mengamuk, melempar apa pun yang ada di dekatnya, bahkan menyakiti dirinya sendiri. Skizofrenia tidak bisa disembuhkan, mama bisa kambuh kapan pun dan aku nggak mau buat kamu susah."
"Sal..."
"Iya, aku tau kamu akan bilang nggak masalah, tapi itu jadi masalah buat aku. Kayak waktu kamu kirim dokter, itu nggak perlu. Aku nggak butuh itu."
"Sal, aku cuma mau bantu."
"Tapi itu nggak perlu."

Aku kira Salma sudah berubah. Aku kira awan hitam yang sudah lama menyelimuti hatinya itu sudah pergi. Ternyata tidak. Salma tetap Salma, dan sebesar apa pun usahaku untuk meluluhkan sebuah hati yang tercipta dari batu itu takkan pernah ada hasilnya.
"Ta, kamu mau sampai kapan kayak gini? Kamu nggak bisa hidup tanpa membutuhkan orang lain. Kamu nggak boleh menghakimi orang lain yang cuma mau berusaha bantu kamu."
"Orang lain siapa sih, Ga? Kamu aja, kan?"
"Itu karena kamu nggak mau coba untuk buka diri sama dunia, Salma."
"Karena dunia nggak pernah suka sama aku!"
"Bagaimana dengan Liana?" tantangku.
"Kok, Liana? Ga, Liana itu satu-satunya orang yang nggak banyak kata, nggak banyak tuntutan."
"Karena dia tidak pamrih, ya kan?"

Salma menelan ludahnya.
Namun sekeras-kerasnya sebuah batu bisa terkikis juga oleh air, bukan? Apalagi yang aku hadapi ini adalah sebuah hati, makanya walau perkataan Salma benar-benar menyakiti perasaanku, walau ketidakpercayaan Salma terhadap ketulusannya sungguh mengecewakan, Aku tak akan pergi.

Sambil menghela napas, aku berusaha membangun kembali pondasi untuk merangkai kembali kerangka ceritaku dengan Salma yang selalu hancur karena ketakutan Salma terhadap dunia kerap muncul di tengah perjalanan kita. Aku lantas mengambil tangan kiri Salma dengan tangan kananku, dan memegangnya lembut.
"Paling tidak, jangan menutup dirimu denganku, Sal. Anggaplah aku adalah dunia baru yang menyukaimu, yang selalu menunggumu untuk menetap di dalamnya."
"Ga, harus berapa kali-"
"Salma Yumna, sekarang aku yang bicara, sekarang kamu yang harus dengar aku."

Kalau diamati baik-baik, di antara kita, yang membutuhkan kotak kesabaran sebenarnya bukan Salma, tapi aku sendiri. Walau kata orang kesabaran itu ada batasannya, tidak untukku. Kesabaranku untuk Salma ibarat air yang akan selalu disediakan semesta tanpa manusia memintanya. Salma membungkam mulutnya, mempersilahkan aku mendapat hak untuk berbicara.
"Aku nggak peduli kamu percaya sama perasaanku atau nggak, nggak peduli, Sal. Aku cuma mau kamu tau kalau aku nggak akan pernah biarin kamu sendiri lagi. Terserah mau kamu usir aku, mau kamu bentak aku, terserah. Aku nggak peduli!"

Aku berdiri, melepas tangan Salma. "Tapi mungkin sekarang aku harus biarin kamu sendiri dulu. Aku mau kamu berpikir."
Kemudian aku pergi, meninggalkan Salma sendirian dengan banyak keresahan. Salma sama sekali tidak menoleh ke belakang, tidak berusaha menarik tanganku untuk tidak pergi ke mana-mana. Tapi pergi kan, bukan berarti meninggalkan. Aku tahu bahwa sekarang Salma hanya ingin sendiri, jadi aku hanya membiarkan dia sendirian di dalam kedai, sedangkan aku menunggunya di luar.

Derap Langkah #1 (SELESAI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang