Bagian 19 #2 (Akhir)

12 3 0
                                        

Aku tak berhenti menangis di dalam taksi. Hingga kini si sopir tetap tak tahu ke mana aku hendak di tujuan antar. Karena tiap kali ditanya.
"Sudah deh, Pak, pokoknya jalan saja!" dengan suara lirih.
Aku berkali-kali mencubit tanganku, memastikan bahwa ini mimpi, dan nyatanya bukan.

Ini terlalu menyakitkan. Tapi mengapa ini menyakitkan? Apa karena tanpa kusadari sudah kutitipkan perasaanku padanya? Apa karena kukira Rangga adalah orang yang tepat? Tapi, kenapa? Kenapa harus sesakit ini? Mengapa aku merasakan sesuatu yang aneh? Yang bahkan tak pernah kurasakan pada Johan? Bahkan ketika berpisah dengan Johan, rasanya tak sesakit ini. Ada apa dengan perasaanku? Ini semua membingungkan. Ini pasti ada yang keliru. Harusnya aku tak perlu merasa sakit apalagi kecewa! Bukannya aku sendiri yang ingin Rangga kembali berhubungan baik dengan Acha? Tapi mengapa ketika melihat mereka bersama rasanya sangat menyiksa? Aku tak mungkin menyayanginya. Aku tak mungkin sudah menaruh hati padanya. Ya. Ini pasti ada yang salah.

Sebentar lagi aku pasti membaik. Tapi mengapa semakin disangkal, air mata ini semakin turun? Johan, kamu di mana? Aku butuh kamu, Johan. Laki-laki yang kamu kira terbaik itu, laki-laki yang kamu kira akan membuatku bahagia, laki-laki yang kamu kira akan memberiku dunia yang indah, benar-benar tak sama dengan apa yang ada pada pikiranmu. Apa perempuan dan laki-laki saling jatuh cinta untuk pada akhirnya ada yang tersakiti? Apa semesta sedang menghukumku karena tak pernah mau berdamai dengan diriku sendiri? Aku salah apa, Johan? Apa aku salah merasa disakiti dan dikecewakan olehnya? Tapi untuk apa aku merasakan itu? Bahkan aku tak berhak untuk marah karena Rangga bukan milikku. Apa karena aku merasa bahwa ia sudah menjadi punyaku? Apa karena tanpa sengaja sudah kubiarkan ia masuk ke dalam duniaku? Johan, tak kusangka semesta mengirim seseorang untuk menggantikanmu dengan yang lebih buruk! Ini sebabnya, Johan, ini sebabnya aku tak pernah cocok hidup di planet ini. Karena semesta tak pernah menyukaiku!

***

Setelah dua jam berkendara tanpa tahu tujuan, akhirnya aku minta diantar pulang ke rumah. Setibanya di rumah, tak kusangka Rangga sudah tiba terlebih dahulu di rumahku. Rangga terpaku, melihatku turun dan berjalan melewatinya tanpa berkata apa-apa dan segera masuk rumah.

Aku masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan kalimat Rinto untuk makan dulu. Aku langsung ke kamar dan mengunci pintu. Aku sedang tak ingin bertemu dan bicara dengan siapa-siapa sekarang. Berkali-kali Rinto mengetuk pintu dengan suara lembut, membujukku agar mau keluar, tapi semua sia-sia. Aku memilih diam dan merebahkan tubuhku di tempat tidur.  Berusaha memejamkan kedua mata tapi tidak bisa. Kepalaku pusing karena habis menangis. Aku bahkan lupa kapan terakhir kali aku menangis sampai sesegukan seperti itu.

Ponselku bergetar, aku mengambilnya, dan ternyata ada telepon tak terjawab dari Rangga sebanyak empat puluh lima kali, juga delapan pesan masuk darinya.

Salma kamu di mana?
Salma kita harus bicara.
Salma, pulang.
Salma angkat teleponku.
Salma kamu di mana?
Sudah terlalu lama, mengapa tak juga sampai rumah?
Salma kita harus bicara.
Salma aku tak akan pulang sebelum kamu keluar dan bisa aku ajak bicara.

***

"Kak Salma..." Aku tak sampai hati terus mendiamkan adikku, aku beranjak dan berjalan perlahan, lalu membuka pintu yang sebelumnya terkunci. "Ada apa, To?"
"Itu Kak Rangga masih ada di depan. Aku suruh masuk gak mau."
"Masih di depan? Ini sudah sore, To."
"Iya, masih di depan. Nunggu Kakak katanya."
Dalam hati aku bergumam, ia pasti tak akan menyerah.

"Biarkan saja deh, To, nanti kalau capek juga dia pulang."
"Tapi, Kak–"
"Oh iya, To, tolong panggilkan Mang Ujang, aku mau pergi sebentar."
"Iya, Kak."
Tidak. Padahal aku tak punya rencana ke mana-mana. Setelah menutup pintu, aku mengambil tas, dan keluar untuk memakai sepatu. Terlihat masih ada mobil Rangga di depan. Aku tak ingin berpapasan apalagi melihat wajahnya.

Derap Langkah #1 (SELESAI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang