Aksa itu ibarat daun talas. Nggak bisa disatukan dengan air. Dan airnya itu ibarat Arina.
Aksa itu cowok tengil yang terang-terangan mencuri hati Arina, membuat jantung Arina dag-dig-dug, dan juga membuat semuanya berantakan dalam sekejap mata.
Kehi...
Arina terlihat menghembuskan napas kasar. Udara malam ini membuat cewek itu berkali-kali menggosok-gosokkan telapak tangannya. Jika bukan Arisa yang kurang sehat, mungkin ia enggan untuk keluar rumah. Sudah lima belas menit, cewek cantik itu masih mengantre. Entahlah, malam ini orang-orang semakin banyak berdatangan ke Apoteksehat yang antreannya sangat panjang.
Beberapa menit kemudian, giliran Arina. Cewek itu langsung memesan obat yang diperlukan. "Mbak, obat meriangnya satu strip."
"Ini, Mbak, totalnya dua puluh ribu," ujar sang kasir. Tak lupa senyuman ramahnya ia berikan pada Arina.
"Makasih ya, mbak." Setelah itu, Arina langsung pergi. Menyalakan Motor lalu melajukannya dengan kecepatan rata-rata. Angin semakin menusuk, menembus kaos yang dipakainya. Lampu-lampu jalan mulai meredup. Dalam hitungan detik, semuanya mati. Keadaan menjadi gelap. Bulu kuduk Arina langsung merinding. Penerangan hanya dibantu oleh lampu Motor miliknya dan beberapa pengendara lainnya. Mau tidak mau, Arina harus bersabar.
Namun, sesuatu yang tidak sengaja tertangkap oleh pendengarannya, mampu membuat cewek itu menepikan Motornya ke samping. Kedua alisnya bertaut. Jalanan gelap. Tentu saja, cewek itu tidak bisa melihat dengan jelas. Perlahan, sorotan lampu Motornya tertuju ke arah segerombolan cowok yang sedang baku hantam.
Arina tersentak. Cewek itu langsung mematikan mesin Motornya. Kakinya gemetaran. Apalagi, jalanan ini cukup sepi. Tidak ada pengendara lain selain dirinya seorang. Pikirannya mulai mengembara kesana-kemari. Entah itu menebak mereka yang ada di depannya adalah segerombolan begal ataukah segerombolan penculik. Arina tidak tahu itu.
Perlahan, Arina mulai melangkah. Suara ringisan bercampur dengan teriakan emosi membuat keringat dingin keluar disekitar pelipisnya. Tetapi, semakin ia mendekatkan diri ke depan sana, semakin jelas pula suara teriakan seseorang yang cukup ia kenal.
"Lo semua, emang banci!!" teriak cowok jangkung itu, lantang.
Arina terkejut bukan main. Benar. Suara itu, milik seseorang yang ia kenal, Aksa. Cowok itu terlihat memberikan bogeman keras di pipi lawannya. Tentu saja, yang menerima bogeman tak terima. Terjadi aksi baku hantam disana. Dengan refleks Arina langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Kakinya semakin gemetaran.
Aksa berdesis. Tanpa perasaan, kakak kelasnya itu meninju perut lawannya membabi buta. Tidak sadar jika darah segar mulai mengalir disekitar lubang hidung dan sudut bibirnya, akibat serangan tiba-tiba dari sang lawan. "Gue, nggak akan lepasin lo semua!" teriak Aksa lagi. Namun, tubuhnya tiba-tiba oleng saat lawan adu jotosnya meninju perut Aksa bersama-sama.