Aksa itu ibarat daun talas. Nggak bisa disatukan dengan air. Dan airnya itu ibarat Arina.
Aksa itu cowok tengil yang terang-terangan mencuri hati Arina, membuat jantung Arina dag-dig-dug, dan juga membuat semuanya berantakan dalam sekejap mata.
Kehi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jangan lupa vote, komen dan sharenya dong:)
Terima kasih telah memberikan kesempatan. Bertemu Arina kembali sudah cukup. -Akra Davidson
Versi Revisi
Malam ini, Arina sudah siap dengan kemeja kotak-kotak yang berwarna Hitam-merahnya. Apalagi jika bukan pergi keluar. Beberapa kali, cewek itu terus bercermin, seakan tidak mau terlihat kurang sedikit pun. Arisa yang kebetulan lewat langsung mengernyitkan dahinya.
"Mau kemana, Rin?" tanya Arisa seraya menghadang langkah kaki Arina. Bola matanya mulai menjelajah penampilan Arina dari atas sampai bawah. Namun, satu benda di lengan Arina sontak menarik perhatian Arisa. Cewek itu kembali mengingat-ngingat sejarah gelang warna Pink yang dipakai kembarannya itu.
Tidak lama kemudian, bola mata Arisa spontan membulat. "Lo mau ketemu Akra?!" tanya Arisa to the point. "Ck, iya gue mau ada yang diomongin sama dia. Lagian lo tenang aja gue udah moveon kok," jawab Arina agak malas.
Arisa menyipitkan matanya. Menatap kembarannya jengah. "Yaampun Rin, gue kan udah bilang ... kalau gue udah moveon dari dulu ... "
Arina menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan "Iya, iya. Yaudah, gue pergi dulu," pamit Arina yang langsung diangguki Arisa dengan semangat.
"Selamat bersenang-senang!" teriak Arisa. Tidak ada respon dari Arina. Cewek itu sibuk mengotak-atik ponsel yang dipegangnya. Mungkin sedang mengirim pesan.
Farah bernapas lega, saat ia baru saja menyelesaikan masakannya untuk makan malam. Wanita itu langsung memanggil Arisa untuk turun ke lantai bawah. "Arisa! Turun, makan dulu!" ujar Farah setengah berteriak.
"Iya, Arisa turun sekarang!" teriak Arisa dari dalam kamar Arina. Cewek itu masih meneliti setiap foto-foto dirinya, Arina, Zidan dan almarhumah Citra yang terpajang rapi di dinding kamar kembarannya. Sebuah kenangan yang tidak akan pernah dilupakan.
"Masak apa, Ma?" tanya Arisa saat ia sudah sampai di depan Meja makan. Wangi bumbu masakannya begitu menusuk di indera penciuman.
"Masak Rendang kesukaan anak Mama dong, sayang." Mendengar jawaban Farah, Arisa spontan membulatkan matanya. Langsung mengalas Nasi dengan semangat, lalu menyantapnya cepat. Rendang benar-benar makanan favoritnya. Tidak hanya Arisa yang makan, Farah juga. Wanita itu tersenyum melihat Arisa yang sangat antusias.
"Ma, tapi kan Arina nggak suka rendang." Farah langsung terdiam. berhenti menyendokkan sesuap Nasi yang sudah siap disantapnya. "Udah lah Ris, dia kan biasanya masak Mie instan," jelas Farah setengah kesal. Selera makannya tiba-tiba hilang begitu saja.
"Iya, Ma. Tapi kan terlalu banyak mengkonsumsi Mie itu nggak baik bu—" Arisa diam saat ponsel di sakunya bergetar, menandakan ada notifikasi yang masuk. Didapatinya nama Keyla di layar. Arisa kira, Aksa yang mengiriminya pesan. Selangkah demi selangkah harus dilaluinya demi mendapatkan Aksa.