Aksa itu ibarat daun talas. Nggak bisa disatukan dengan air. Dan airnya itu ibarat Arina.
Aksa itu cowok tengil yang terang-terangan mencuri hati Arina, membuat jantung Arina dag-dig-dug, dan juga membuat semuanya berantakan dalam sekejap mata.
Kehi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jangan lupa vote, komen dan share!
Entah mengapa kamu selalu menjadi candu bagiku. -Arisa Anastasya Marinka
Versi Revisi
"Ma ... Arin takut ... " rintihnya yang hanya bisa di dengar oleh dirinya seorang.
Namun, tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang. Sedikit demi sedikit, rasa takut Arina mulai berkurang. Kemudian, cewek itu membalikkan badan. Cepat-cepat membalas pelukannya erat.
"Tenang Rin, ada gue," gumam Aksa seraya mengeratkan pelukannya. "Lo jangan takut." Kemudian ia mengusap kepala Arina pelan. Tidak ada jawaban selain suara sesenggukan yang terdengar.
Semua orang yang melihat, hanya bisa terpaku diam di tempat. Sebuah adegan persis seperti Drama Korea itu tengah dipertontonkan. Namun, di tengah suasana romantis seperti ini, tiba-tiba Pak Burhan datang dengan kepalanya yang menggeleng-geleng, menandakan bahwa guru berkumis tebal itu tengah menatap dua orang yang saling berpelukan.
"Aksa! Arina! Cepetan masuk ke tenda! Hujan-hujan begini, malah pacaran kalian!" tegur Pak Burhan yang terlihat memegang erat sebuah Payung hitamlegam itu kuat-kuat.
"Yah, Pak! Kayak yang nggak pernah muda aja!" teriak Andre dari dalam tenda.
Pak Burhan mendelik. "Bukan apa-apa, Ndre! Bapak takut kangen sama istri di rumah kalau lihat kayak beginian mah." Sebuah pengakuan Pak Burhan tadi, sontak membuat suara riuh siswa-siswi terdengar menyeruak.
"Huuuuuu! Bapak BUCIN!"
"HIDUP PAK BURHAN BUCIN!"
"HIDUP!"
"HIP-HIP?!"
"HURA!"
Pak Burhan memelotot, setengah malu. Mungkin, ia tidak pandai menyembunyikan pipi gembulnya yang terlihat bersemu merah. "Ekhem! Sudah-sudah!" perintahnya dengan suara yang cukup keras. Semua siswa-siswi SMA Adijaya terpaksa harus patuh. Mereka langsung membungkam mulutnya masing-masing.
"Dan kamu Aksa! Cepetan bawa Arina masuk ke tenda!" perintahnya lagi.
Mendengar suara Pak Burhan, lantas saja Aksa refleks melepas pelukannya. Agak terkaget ketika alam bawah sadarnya baru kembali normal. Namun, siapa sangka. Tepat saat Aksa melepaskan pelukannya, tubuh Arina tiba-tiba ambruk tanpa pertahanan.