26. Sebuah Siasat

3.1K 187 90
                                        

Jangan pernah bosen buat mampir yaa!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jangan pernah bosen buat mampir yaa!

Untuk Aksa, semangat menjalani dan menata hidup yang acak-acakan dari kami, para cogan yang di idam-idamkan.
-Andre, Dave & Kevin

Versi Revisi

Suara Elektrokardiogram terdengar mendominasi ruangan serba putih yang sedari tadi hening tanpa suara apapun selain alat yang terus mengeluarkan bunyi itu. Arina terbaring lemah di sebuah brangkar, wajahnya pucat pasi dengan selang oksigen terpasang jelas di hidung mancung miliknya.

Aksa sangat ingin meloloskan air mata yang sedari tadi menggenang di dalam kelopak matanya. Cowok itu tidak tega melihat kondisi Arina seperti yang terbaring tidak berdaya. Arina yang ia kenal sangat kuat dan pemarah, tetapi Arina yang ia lihat sekarang sangat lemah hanya tertidur pulas disana.

Begitu Zidan membuka pintu. Lelaki itu langsung berjalan ke arah putrinya yang tengah tertidur dengan langkah yang tergesa-gesa. Napasnya tidak beraturan, keringat terlihat bercucuran disekitar pelipisnya. Semakin dekat, langkah kakinya perlahan gontai. Jika saja lelaki berahang tegas itu tidak cukup kuat, mungkin tubuhnya sudah ambruk karena ketidak kuatan ia menyaksikan Arina yang hanya tertidur tanpa menyapanya.

Bola mata teduhnya berkaca-kaca, menahan air mata yang akan lolos membasahi pipinya. "Arin, kamu pasti kuat," ucap Zidan seraya mengelus-ngelus telapak tangan Arina. Kemudian, mengusap rambutnya penuh kasih sayang.

"Papa disini Rin ... " lirih Zidan.

Aksa yang masih diam mematung, langsung mengusap air mata yang tanpa sadar keluar begitu saja. Kemudian ia menghampiri Zidan lalu mengusap bahunya pelan, memberi kekuatan. "Om yang sabar ya, Aksa tahu Arina pasti kuat, Om juga harus kuat ya."

Zidan memjamkan mata. Bahunya bergetar dan Aksa sangat menyadari itu. Zidan tersenyum hambar, menyalahkan diri sendiri atas kondisi Arina yang terbaring lemah di depannya saat ini. Zidan membuka kacamatanya, lalu mengusap gusar air mata kepedihan itu.

"Om gagal menjadi seorang Ayah, Aksa. Om gagal menjaga Arina, dan Om tanpa sadar sudah menelantarkan Arina begitu saja, Om berhak disalahkan atas ... " Ucapan Zidan terhenti saat air matanya kembali mengalir sempurna.

Aksa menggeleng. "Nggak, Om. Semua ini bukan salah Om, Om jangan salahin diri sendiri gitu, ini adalah takdir yang udah dirancang sang maha kuasa. Kitanya aja yang harus kuat dan sabar menghadapinya, Om ... "

Zidan mendongak. Menatap Aksa yang tengah berusaha tegar. Tidak menangis di hadapannya. Padahal, Zidan tahu bahwa air mata itu akan lolos dalam sekali kedipan saja. "Kamu nggak tahu, Sa. Arina di diagnosa punya penyakit Le ... " Lagi-lagi ucapan Zidan putus di tengah jalan.

Elang mengintip dari balik celah pintu. Betapa lemahnya Arina sekarang. Entah mengapa, hatinya ikut merasakan sakit saat melihat kondisi Arina seperti itu. Buru-buru Elang membuang pikirannya yang tidak masuk akal itu. Hampir saja ia lupa tujuannya mendekati Arina itu untuk apa. Tidak mau berlama-lama, Elang langsung membalikkan badan, lalu melangkah pergi meninggalkan rumah sakit.

Arina or Arisa? (Completed)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang