Aksa itu ibarat daun talas. Nggak bisa disatukan dengan air. Dan airnya itu ibarat Arina.
Aksa itu cowok tengil yang terang-terangan mencuri hati Arina, membuat jantung Arina dag-dig-dug, dan juga membuat semuanya berantakan dalam sekejap mata.
Kehi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Vote, komen dan sharenya jangan lupa:)
Jangan terlalu banyak berharap pada Makhluk-Nya. Banyak berharaplah pada Pencipta-Nya. -Arina or Arisa?
Versi Revisi
Saat suara knop pintu terdengar, cowok yang tengah terpejam itu langsung terlonjak. Aksa menengadah. Menatap kedua orangtuanya yang sudah ada diambang pintu. Ekspresi mereka terlihat sangat kecewa. Perlahan, mereka berjalan ke arah brangkar Aksa. Tidak ada senyuman yang disuguhkan.
Tidak ada pilihan lain, selain Aksa sendiri yang harus menyuguhkan sebuah cengiran khasnya. Jika tidak, keadaan canggung mungkin akan mendominasi suasana disana. Farhan membenarkan letak kacamatanya. Sementara Fatin, wanita itu mati-matian menahan air mata yang terus meminta dikeluarkan. Bagaimana tidak, Aksa adalah Putra kesayangannya.
"Good night Pa, Bundaku sayang," sapa Aksa, sebagai sambutan kedatangan mereka berdua. Sementara Fatin terlihat mengambil napas dalam-dalam, bersiap menceramahi Aksa. Soal air matanya, itu urusan nanti. Sebisa mungkin Fatin akan berusaha untuk menahannya.
"Anak bandel dasar! Kamu itu disuruh jangan balapan nggak dengerin Bunda! Jadinya kan kualat masuk rumah sakit! Sebenernya kamu itu kenapa sih bisa babak belur begini?! Untung aja cuma muka tuh yang lebam! Kamu nggak kasihan apa sama Papa, Bunda?! Papa kamu rela-relain langsung ke rumah sakit padahal dia tadi baru pulang kerja dan nggak sempet minum apalagi makan! Kamu malah sok-sokan balapan, eh ... ternyata abis tuh muka kamu! Lagian Bunda bingung emangnya balapan main ton—" Belum sempat Wanita itu menyelesaikan ucapannya, karena Aksa yang terlanjur memotong ucapan Fatin.
"Bundaku sayang ... yang cantik jelita kayak Jennieblekping sejagat raya kalau ngasih nasihat panjang sejalan Kereta tiada tara! Intinya maafin Aksa yang ganteng dan bandel tapi gemesin ini yang udah bikin bunda sama Papa khawatir."
Fatin menggertakkan giginya. Kesal. "Kamu itu nggak sopan motong pembicaraan orangtua! Bunda bel—" Lagi lagi Fatin berhenti mengomel. Kali ini, Farhan penyebabnya.
"Istriku sayang udah dulu ya, nge-Rap nya, nanti aja di rumah. ini masih rumah sakit, apalagi ini udah malem." Farhan terkekeh melihat ekspresi kesal yang tercetak jelas di wajah cantik Fatin. "Aksa, lagian kamu kenapa bisa babak belur gitu?" tanya Zidan yang sama penasaran dengan istri tersayangnya.
"Jadi gini Pa, tadi pas Aksa udah pulang dari balapan, tiba-tiba lawan main Aksa nyegat Aksa di jalan. Mungkin mereka nggak terima kalau dia kalah. Jadinya Aksa dipukulin tuh sampai kayak gini," ujar Aksa seraya menunjuk ke area wajahnya yang lebam.
"Aksa tadi ngelawan kok, cuma ya berakhir gini. orang dia bawa temennya. Berenam lagi. Lah Aksa? Aksa cuma sendirian, otomatis Aksa kalah lah, Pa. satu lawan enam coba. So? teruntuk para readers, Sorry ya ini bukan di film atau sinetron yang kalau adu jotos pasti si tokoh utama yang menang ngelawan orang banyak."