Aksa itu ibarat daun talas. Nggak bisa disatukan dengan air. Dan airnya itu ibarat Arina.
Aksa itu cowok tengil yang terang-terangan mencuri hati Arina, membuat jantung Arina dag-dig-dug, dan juga membuat semuanya berantakan dalam sekejap mata.
Kehi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Baca dulu, baru komen dan sharenya hehe.
Karena sejak dipertemukan dengan dia, gue tahu arti kehidupan yang sebenarnya. -Elang Zanuar
Versi Revisi
"Kapan mau fitting baju, Ris?" tanya Farah. Wanita itu tengah menyiapkan Susu cokelat.
"Aris maunya sesecepatnya sih Ma," jawab Arisa sambil menyendokkan sesuap nasi dengan lauk pauknya ke dalam mulut.
"Iya sih, Mama pengennya gitu Ris, cuma belum ada klarifikasi dari keluarganya Aksa." Farah menyimpan Susu cokelat yang tadi ia siapkan di samping piring Arisa. Setelah itu, Ponsel Farah bergetar di atas Meja makan. Dan Farah langsung mengambil ponselnya, lalu mengangkatnya.
"Halo."
"Halo Farah, kita fitting baju buat Arisa sama Aksa besok ya."
"Oh ... iya Bu, baik.Baru aja diomongin tadi hehe."
"Ah bisa aja kamu, kalau begitu tolong kabarin Arisa calon menantu saya ya."
"Iya Bu, pasti."
Tut tut tut.
"Siapa Ma?" tanya Arisa.
"Sayang, Omanya Aksa yang telepon, katanya fitting baju besok siang! Emang ya kamu sama Aksa udah berjodoh, baru aja tadi di omongin, eh udah ada klarifikasi lagi." Farah berucap dengan gembira.
"Beneran Ma?!" pekik Arisa ikut senang.
Farah mengelus rambut putrinya dengan lembut. "Iya sayang ... "
Arisa menarik napasnya dalam-dalam, lalu menyunggingkan senyuman. "Arisa seneng banget Ma, kenapa sih Mama nggak bilang dari awal kalau aku mau dijodohin sama kak Aksa? Mungkin kalau Mama bilang, aku nggak akan malu-malu kalau deket kak Aksa." Arisa merajuk. Cewek cantik itu mengerucutkan bibirnya kesal.
"Iya dong sayang ... Apalagi Mama sama Papa ikut seneng kalau putri kita seneng juga. Iya kan Pa?" Zidan menoleh. Lelaki itu mengangguk dengan mantap.
"Iya dong sayang, akhirnya surat wasiat dari almarhumah Eyang kamu bisa terlaksanakan juga," sahut Zidan yang sedari tadi hanya menyimak.
Arisa memperlihatkan giginya yang putih. "Makasih Ma, Pa."
Berbeda halnya dengan kebersamaan keluarga kecil itu, Arina terlihat terburu-buru turun dari anak tangga. Pakaiannya sudah rapi, rambutnya dibiarkan terurai bebas. Saat melihat pemandangan di depannya, Arina menghela napas. Sudah terbiasa dengan tiga orang yang tengah makan di Meja makan.
"Rin, kamu mau kemana?" tanya Zidan.
"Hm? Arin izin keluar ya Pa," pinta Arina seraya menghampiri Zidan lalu mencium tangannya.