Warning 🔞
Bae Joo Hyun sang mantan aktris terkenal, kembali ke dunia hiburan setelah skandal kencan dan pernikahan dadakannya dengan Oh Sehun mencuat ke publik satu tahun silam. Diam-diam dia mengalami kelelahan emosional yang nyaris menghancurkan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Bicara tentang Harlem, pasti terpikir orang-orang kaya yang hidup di New York dan pusat-pusat kota. Tempat pelacuran, pelacur, pengedar, dan lain-lain. Di balik keindahan dan kebijaksanaan Park Avenue adalah cermin amoralitas dan perceraian yang tak terhitung. Begitulah seluruh masyarakat kita."
🌺 Thomas Merton 🌺
. . .
New York, 20th January 2019
°°°
Perceraian. Jika mendengar kata itu apa yang terlintas di dalam pikiran kita? Putusnya hubungan diantara suami istri? Atau berakhirnya suatu pernikahan? Itu adalah kalimat yang paling sering di pikirkan orang ketika pertanyaan itu diajukan. Namun, bagi Suho kata perceraian adalah sebuah awal dari kehidupannya. Sejak menginjak umur 10 tahun, Suho memiliki mimpi untuk hidup sendirian tanpa kedua orang tuanya. Faktor utama yang mendorong Suho ingin tinggal sendirian bukanlah karena kemiskinan ataupun kekerasan dalam rumah tangga seperti yang sering terjadi di dalam keluarga lainnya, akan tetapi karena status ayahnya yang merupakan seorang Konglomerat. Kekayaan itu membawa ayahnya pada kehidupan malam yang gelap—pelacur, minuman dan judi hal itu sudah menjadi makanan sehari-hari. Awalnya kehidupan keluarga mereka baik-baik saja, karena sang ibu memilih untuk tidak memperdulikan kebiasaan buruk suaminya, akan tetapi beberapa tahun kemudian, ibunya mulai muak dengan semua itu. Serba berkecukupan bukanlah hal yang dicari oleh sang ibu, dia merindukan sosok suami yang dicintainya dan juga yang mencintainya, sosok yang selalu ada untuknya dan semua hal itu tidak bisa dia temukan lagi di dalam sosok suaminya.
Dan puncaknya terjadi, ketika Suho yang saat itu baru menginjak usia dua belas tahun harus merasakan kehidupan bak dineraka, sang Ayah tiba-tiba menggugat cerai Ibunya. Alasannya adalah karena sang Ibu ketahuan berselingkuh dengan pria lain. Belum lagi dengan akibat yang terjadi setelah perceraian itu, Ayahnya yang terpuruk karena kehilangan istri yang masih begitu dicintainya itu, membuat keadaan semakin sulit, mentalnya terguncang, dan sang Ayah melampiaskan semua rasa kecewanya dengan kembali menghabiskan uangnya di atas meja judi. Yang paling mengenaskan dari semua itu adalah berakhirnya kehidupan mewah mereka dengan bangkrutnya perusahaan yang selama ini susah payah dibangun sang Ayah. Suho yang sudah tidak tahan lagi dengan perilaku ayahnya, akhirnya memilih pergi dari rumah diam-diam dan tinggal di jalanan bersama dengan tunawisma. Tanpa ada rasa penyesalan di malam kepergiannya saat itu, Suho terus berjalan lurus tanpa menoleh sedikitpun, meninggalkan keluarganya yang telah hancur. Yang menarik perhatian saat itu adalah, wajah anak laki-laki berusia dua belas tahun itu—Kim Suho, di wajahnya tidak menampakkan sedikitpun rasa sedih, justru sebuah senyum bahagia mengembang yang diperlihatkannya.
Jika orang-orang mendengar cerita ini dari mulut Kim Jun Myeon atau sekarang yang lebih dikenal dengan Kim Suho, semua orang mungkin akan tertawa. Siapa yang percaya dengan semua cerita menyedihkan itu. Seperti yang saat ini Suho lakukan, pria dengan mata hitam legam itu sibuk membenarkan letak dasinya sambil bercerita panjang lebar tentang kisah hidup tragisnya pada pria lain yang duduk tepat di seberangnya. Awalnya, ceritanya sangat serius sampai orang di hadapannya itu seolah tersihir mendengar kata demi kata yang bagaikan mantra itu keluar dari mulut Suho, namun di detik berikutnya sebelum Suho berhasil menyelesaikan ceritanya, pria itu mengangkat tangan ke depan dan menaruhnya tepat di hadapan wajah Suho—meminta pria itu berhenti.