Jalanan ibu kota memang hampir selalu di seseki oleh kendaraan. Sehingga menimbulkan kemacetan yang membuat para pengemudi kesal. Apalagi jika sedang hujan deras. Maka semakin lengkap ke kesalan mereka yang terjebak dalam kemacetan.
Tapi bagi seorang pria yang sedang duduk di bangku penumpang belakang. Dengan tatapan dalam pancaran kekesalan dan kemarahan juga bercampur kecemasan. Ia menatap keluar jendela memandangi hujan.
Terlihat tenang dari luar.
"Pak, gadis itu pasti tau di mana Keynal " ujar seorang pria yang duduk di samping kemudi. Menoleh dengan muka takut pada tuan nya yang duduk begitu tenang, namun pancaran aura terasa begitu mengintimidasi.
"Gadis yang akhir-akhir ini bersama Key ?" Tanya Pria yang tidak lain adalah seorang Artama Kelana.
"Iya. Saya sudah mengirimkan semua data-data tentang nya pada Anda beberapa Minggu yang lalu. Gadis itu satu-satunya orang yang tengah dekat dengan adik anda " ujar Pria itu lagi ada Tama.
Tama diam sejenak, kemudian melirik pada sebuah map yang di berikan oleh anak buah nya. Ia mengambil dan membuka nya. Selembar foto berada di antara dua lembar kertas di sana. Dan foto tersebut merupakan foto Keynal dan Veranda yang terlihat duduk di bibir pantai.
Senyuman tipis terpancar di wajah nya, matanya menatap lurus pada adik nya yang tengah tertawa di dalam foto tersebut. Setelah itu. Ia kembali membuang pandangan nya keluar jendela mobil. Tidak lagi mengatakan apapun ada anak buah nya.
"Besok temui gadis itu! " Ujarnya kemudian dengan nada perintah.
Pria yang duduk di samping kemudi itu mengangguk patuh.
Sedangkan Tama masih menyunggingkan senyum kecil nya dengan tatapan menerawang keluar jendela mobil nya. Menatap hujan yang turun deras.
***
Film yang di putar pada layar tivi sudah menunjukkan kalau sudah usai.
Masih di dalam kamar Veranda, Keynal duduk di lantai dengan bersandar pada kaki ranjang. Matanya melirik pada jam di pergelangan tangan nya. Sudah pukul tiga pagi lewat. Kemudian melirik Ve yang tertidur di bahu nya.
Ia sedikit menunduk untuk melihat wajah gadis cantik itu. Kemudian tersenyum kecil.
Ia kembali teringat saat pertama kali ia bertemu dengan Veranda.
Selama ini ia selalu tidak memperhatikan sekitar. Terlalu fokus pada dunia sendiri. Ia bukan tidak suka bergaul, atau menghindari orang-orang. Ia hanya tidak terlalu pandai dalam mencari teman.
Tidak terlalu pintar dalam membaur dengan yang lain.
Dan, ia lebih suka sendiri. Bukan karena ia tidak ingin di temani. Melainkan, ia nyaman dalam sepi. Bukan karena terbiasa, namun memang karena ia tidak suka pada ke ramaian. Namun, sejak ia mengenal gadis itu ia seolah terbiasa.
Entah sejak kapan, tapi Ve berhasil membuatnya membenci sendiri sekarang.
"Loe beneran akan mati ?"
Ia tersenyum kecut saat mengingat kembali pada perkataan nya dulu. Dulu ketika ia mengatakan itu, terasa biasa aja. Tidak akan ada masalah apapun untuk nya atau tidak akan berimbas dalam hidupnya.
Tapi ,sekarang ia merasa takut. Ia takut kalau-kalau gadis itu akan meninggalkan nya.
Keynal sedikit bergerak, dengan perlahan ia beranjak dari duduk sambil tetap memegangi Ve agar tidak jatuh. Dengan sehati-hati ia menyelipkan tangan kanan nya di punggung Ve dan tangan kiri di balik kedua lutut Veranda.
Ia mengangkat gadis itu menuju tempat tidur.
Membaringkan Veranda di atas kasur, kemudian menarik selimut untuk nya. Ia tidak langsung beranjak pergi, memilih memandangi gadis itu sebentar. Kemudian menunduk untuk mengecup kening nya.
"Terimakasih " ucapnya pelan.
Lalu ia bergerak pergi, meraih tas ransel nya. Dan berlalu keluar lewat pintu balkon kamar Veranda.
KAMU SEDANG MEMBACA
At Least Once
FanfictionJessica Veranda merupakan siswi kelas dua belas yang memiliki pergaulan yang luas. Selain parasnya yang cantik ia juga mempunyai otak yang cerdas. Di sekolah ia mengikuti berbagai hal, mulai dari Osis, ekskul renang, Mading, dll. Ia gadis yang selal...
