Aletjandra Pramunadi

45 5 28
                                    

Kembali bertemu denganmu
Bukanlah hal yang kumau.
Maaf, karena langit tidak selalu
Butuh pelangi agar indah dipandang.


Aletjandra Pramunadi, salah satu nama yang masuk ke dalam kategori sahabat dalam masa SMPku.

Ya.. meski aku tidak pernah menginginkan dia menjadi sahabatku karna dia laki-laki yang seharusnya aku hindari. Terlebih setelah apa yang pernah ia akui padaku, dihadapan anggota rohis yang bisa ku perkirakan berjumlah lima puluh enam siswa dan siswi, termasuk aku.

"Binar mata yang kau pancarkan, mampu menggetarkan hati. Air matamu mampu membuatku merasakan lara. Dan tidak akan pernah aku biarkan kau terus menitikkan air mata. Sebab aku lah yang mencintaimu apa adanya.
Zathifa Faura, aku yakin kau mau jadi pacarku. Benarkan?"

Pengakuan itu, entah drama apa yang sedang Ia lakoni dua tahun yang lalu, semua anggota rohis menatapku dan Andra bergantian, beruntunglah hari itu pembimbing eskul rohisku Pak Rahman sedang berhalangan hadir.

Banyak mata yang menatap tajam penuh ketidak sukaan padaku, dalam hati aku menyalahkan tingkah konyol seorang Aletjandra Pramunadi si pewaris tunggal dari keluarga terhormat Pramunadi itu.

Tidak ada yang pernah berani mengutarakan isi hatinya padaku, sebab mereka tahu. Bahwa hanya akan ada penolakan dariku jika mereka mengajakku berpacaran.

Entah setan apa yang merasuki Aletjandra Pramunadi ini, setelah penolakanku dua tahun lalu. Kini seorang Andra rela pindah sekolah hanya untuk mengikutiku? Setidaknya informasi itu yang ku dapat dari obrolan antara Cyellyen dan Indira tempo hari. Ini gila, sungguh.

Apa yang sebenarnya laki-laki itu pikirkan? Mengikutiku dan merepotkan anggota keluarganya? Itu bukan hal baik. Meski ada kemungkinan anggota keluarganya tidak merasa direpotkan, tapi tetap saja yang namanya mengikuti orang lain bukan hal baik.

Hari ini resmi satu minggu setelah masuk dan bergabungnya seorang Aletjandra Pramunadi di kelasku.

Aku bersyukur karena saat hari pertama Andra masuk ke kelasku dan setelah perkenalannya, entah bagaimana seorang Thalita tiba-tiba memutuskan untuk duduk bersamaku. Aku rasa Thalita mengerti tentang kerisauanku ketika wali kelas kami, Ibu Fatma menyuruh Andra duduk bersama denganku, mungkin itu sebabnya Ia yang bertindak cepat.

"Bu, saya aja yang duduk sama Zathifa. Kan saya cewek Zathifa pasti lebih nyaman duduk sama saya daripada sama lawan jenis"

Bu Fatma mengangguk setuju.

"Iya juga ya. Kenapa Ibu bisa lupa kalau di kelas ini ada satu siswi yang anti sama lawan jenis." Ujar Bu Fatma sembari terkekeh ringan

"Nah kalau Thalita duduk sama Zathifa, berarti kamu bisa duduk bareng Gilang. Silahkan Andra" lanjut Bu Fatma sembari mempersilahkan Andra untuk duduk bersama dengan Mas Laksa.

Kadang aku tersenyum sendiri mengingat bagaimana ekpresi wajah Andra yang ku rasa sedikit kecewa karena gagal sebangku denganku.

Tapi kali ini ku rasa aku yang kehilangan senyumku, bagaimana tidak hampir seharian ini setelah mendapat pengumuman bahwa dua hari ke depan kami akan melakukan Kunjungan Industri ke salah satu perpustakaan terbesar dan termegah di kota ini, setelah jam K.I berakhir kami akan mengunjungi salah satu pantai yang memang sedang hits beberapa bulan ini. Andra selalu mengikutiku. Entah ke perpustakaan, ke kantin, bahkan ketika aku menunggu kendaraan umum di halte dekat sekolah.

Andra selalu saja bertanya, aku akan duduk dengan siapa. Berangkat dari rumah jam berapa, bahkan dia bertanya baju apa yang akan aku kenakan saat di pantai.

MenyentuhmuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang