BAB 31

91 6 0
                                        

"Besok kalian ujian terakhir. Bapak ingin mengetes lagi kemampuan kalian. Ujian sebelumnya, Indra kenapa nilai kamu tiba-tiba menurun? Luna, nilai kamu juga kenapa di bagian soal essay penjabarannya enggak lengkap? Malah langsung loncat ke hasil akhir. Renata juga penjabarannya kurang. Walau jawabannya benar," ucap Pak Juan menatap murid didiknya satu persatu.

"Kalau nilai kalian gak ada yang bagus di ujian terakhir ini. Bapak tidak akan mengliburkan kalian lagi." Pak Juan menyambung, nada berwibahnya keluar.

"Loh kok gitu Pak! Gimana pun kami butuh piknik. Makan terus rumus-rumus soal, kepala yang ada pecah. Bapak mau tanggung jawab?" omel Luna tidak mau terima ancaman Pak Juan.

"Kalau ingin berkompromi dengan saya, maaf saya tidak menerima kompromi apapun itu. Kalian di sini sebagai anak-anak yang dipercayakan Pak Agus. Sekarang Bapak tanya, apa motivasi kalian ikut osn ini?" tanya Pak Juan setelah menghela napas berat.

"Dari saya saja dulu Pak." Reza mengerluarkan suaranya lebih dulu.

"Silahkan," jawab Pak Juan singkat.

"Saya ingin membuktikan kepada dua Kakak saya, bahwa saya ini pintar seperti mereka. Bisa berada diperingkat satu di kelas, kedua Kakak saya pikir bahwa peringkat saya hanya beruntung saja. Makanya saya ingin buktikan ke mereka bahwa saya bisa menjadi orang pintar bukan karena beruntung," jelas Reza cukup panjang.

Indra, Arka, Luna, Asril, Renata, Karina, Novaldi dan Yudistira terpaku mendengar motivasi Reza. Terdengar ingin balas dendam. Tapi dengan cara yang cerdik.

"Bagus! Motivasi kamu sangat bagus, Reza. Terus kalian yang lain apa motivasi kalian?" Pak Juan memandang kembali anak didiknya secara bergantian. "Bagaimana kalau dari Indra, apa motivasimu?" tanya Pak Juan secara acak.

"Apa penting kita punya motivasi kalau ambisi yang menghancurkannya? Aku tidak memiliki motivasi apapun di osn ini. Cukup bawa saja medalinya, semua orang pasti kagum melihatnya. Toh ada beberapa orang di luar sana bakal manfaatin otak kita untuk ambisinya," jawab Indra.

Renata menjeling ke arah Indra.

Perkataan Indra ada yang beberapa tidak salah. Memang di luar banyak orang-orang yang akan memanfaatkan bakat mereka. Terutama orang yang memiliki otak pintar dan cerdas, incaran para penguasa-penguasa berengsek demi sebuah tujuan yang agung.

Wajah Pak Juan berubah dingin. Seakan perkataan Indra telah menamparnya. Masa lalu Pak Juan hampir serupa dengan sembilan bocah yang duduk dan menatap ke arah Indra.

"Kita lanjut ke Arka. Apa motivasimu, Arka?" tanya Pak Juan memecahkan keheningan diantara pikirannya dengan murid-muridnya.

"Orang tuaku. Aku ingin mempertahankan beasiswaku. Memang berjanjian osn ini mempunya benefit bagus. Aku membutuhkan osn ini agar mendapatkan uang untuk biaya pengobatan orangtuaku. Kalau hanya bergantung pada pekerjaan sambilan di usia sekarang dengan gaji kecil, enggak akn cukup bayar pengobatan rumah sakit." Arka menjawab tanpa meragu satu kata yang diucapkannya.

"Motivasiku sehampir mirip dengan Arka. Pak! Di dunia ini siapa yang tidak membutuhkan uang, hanya orang munafik yang tidak menginginkan uang," sela Yudistira ketika Arka berhenti berucap.

Alis Pak Juan menaut. "Apa orangtuamu juga sedang sakit, Yudistira?"

Yudistira menggeleng cepat. "Aku yatim piatu, Pak. Dan yang sedang sakit itu Kakak aku."

Renata mendongak, memandang iba pada Yudistira. Sisi lain dari Yudistira ternyata masih ada sifat manusiawi.

"Bapak jeda sampai sini dulu motivasi kalian. Sekarang Pak ingin kalian lupakan masalah-masalah pribadi kalian. Buatlah kemenangan dan medali emas sebagai motivasi kalian yang paling utama," ujar Pak Ujian. "Dengar, kalian ini masih muda jangan terlalu perpikir kompleks. Nikmati masa muda kalian ini, sebelum kalian tidak akan pernah merasakannya."

AFFAIR LIEFDE | Tchs #1Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang