3

4K 156 0
                                        

Keesokan harinya, sepulang sekolah, Nawalia mendapati pesan dari ibunya, Aprilia.

"Al, habis sekolah langsung ke komplek militer. Ambil makanan pesanan Ibu di rumah Bu Ratna. Jangan lupa, ya."

Nawalia mendengus pelan sambil membaca pesan itu di ponselnya.

"Komplek militer lagi? Jangan-jangan ketemu lagi tuh sama si Letda sok asik itu," gumamnya sambil memasukkan buku-bukunya ke tas.

Setelah mengganti seragam dengan pakaian kasual, dia segera menuju kompleks militer. Sesampainya di sana, suasana cukup sepi karena hari sudah sore. Dia berjalan santai menuju rumah Bu Ratna, sebuah rumah yang sering jadi langganan catering keluarga militer.

Saat sedang mengetuk pintu rumah Bu Ratna, suara langkah sepatu boots terdengar mendekat dari belakangnya. Tanpa menoleh, Nawalia sudah merasa jantungnya sedikit berdebar, berharap bukan orang yang dia pikirkan.

"Kita ketemu lagi, nona keluarga militer," sebuah suara terdengar akrab, namun tetap menyebalkan di telinganya.

Nawalia menoleh perlahan, dan benar saja, Letda Rangga Kaivan Athar berdiri dengan seragam lengkap, tangan bersedekap, serta senyum kecil yang tampak seperti ejekan.

"Kamu lagi? Mau ngapain di sini?" tanyanya dengan nada datar.

Rangga mengangkat alis, menyadari nada bicara Nawalia masih sama tajamnya seperti sebelumnya.

"Aku tinggal di sini. Harusnya aku yang nanya, kamu lagi ngapain di sini? Jangan-jangan masih tanpa izin, ya?" Nawalia menghela napas panjang, menahan kesal.

"Saya di sini disuruh ibu ambil pesanan makanan, Dan jelas, saya udah izin masuk. Kalau nggak percaya, silakan cek ke pos jaga," balasnya sambil melipat tangan.

Rangga tertawa kecil, lalu menunjuk kantong kertas yang dipegang Nawalia.

"Oh, jadi kamu disuruh ambil catering. Anak Letjen kok jadi kurir, ya?" canda Rangga, yang langsung membuat Nawalia memelototinya.

"Dengar ya, saya bantu keluarga itu wajar. Dan tolong jangan komentar aneh-aneh. Nggak lucu," Nawalia menjawab dengan nada kesal.

Rangga mengangkat tangan seolah menyerah.

"Oke, oke. Maaf kalau aku terlalu banyak komentar. Tapi, serius, anak sepertimu nggak biasa aku lihat berkeliaran di sini. Berani banget."

Nawalia mengabaikannya, lalu membalikkan badan. Tapi sebelum dia pergi, Rangga berkata lagi, kali ini dengan nada lebih serius.

"By the way, jangan terlalu gampang marah. Sebagai anak keluarga militer, harusnya kamu lebih sabar. Itu kan yang selalu diajarin."

Nawalia berhenti sejenak, menoleh, dan menatap Rangga tajam.

"Terima kasih atas ceramahnya, Saya akan ingat. Tapi jangan harap saya akan menurut begitu saja," balasnya sebelum melangkah pergi.

Di belakangnya, Rangga hanya tersenyum kecil, tampak semakin tertarik dengan sosok gadis yang berbeda dari kebanyakan orang yang biasa dia temui.

Setelah keluar dari rumah Bu Ratna dengan membawa kantong makanan, Nawalia mempercepat langkahnya menuju gerbang kompleks. Dia tidak ingin berlama-lama di sana, apalagi kalau harus bertemu lagi dengan Letda Rangga. Tapi baru beberapa meter dari gerbang, suara sepatu boots terdengar di belakangnya.

"tunggu dulu," suara Rangga memanggilnya lagi. Nawalia mendesah pelan sambil bergumam

Nawalia berhenti dan berbalik dengan ekspresi datar.

"Ada apa lagi?"

Rangga menghampirinya dengan santai. Kali ini, dia tidak lagi terlihat bercanda atau menyebalkan seperti sebelumnya.

"Kamu tinggal di mana? Aku bisa antar sampai depan kompleks kalau mau," tawarnya.

Nawalia langsung menggeleng.

"Terima kasih, tapi nggak usah. Saya bisa jalan sendiri," jawabnya tegas.

"Jangan keras kepala. Ini udah sore, bahaya kalau kamu jalan sendirian," Rangga menimpali sambil melirik ke arah jalan yang mulai sepi.

Nawalia menatapnya sejenak, berusaha menebak apa sebenarnya maksud Letda itu. Tapi sebelum dia sempat menjawab, suara klakson mobil terdengar dari arah luar gerbang. Sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depan mereka, dan kaca jendelanya turun.

"Dek Nawalia? Mau saya antar?" seorang prajurit yang mengenal keluarganya menawarkan tumpangan.

Nawalia tersenyum lega.

"Oh, nggak apa-apa, Pak. Kebetulan saya memang mau jalan sendiri," jawabnya sopan.

Rangga mengangkat bahu santai. "Tugas saya selesai untuk hari ini. Dan kebetulan saya mau keluar kompleks juga. Jadi, sekalian aja."

"Nggak usah, saya bisa sendiri," jawab Nawalia cepat, melanjutkan langkahnya.

Namun, Rangga tetap mengikutinya, kali ini mengambil kantong kertas besar dari tangannya tanpa izin.

"Apa-apaan ini?!" Nawalia protes sambil berusaha merebut kembali kantong itu.

Rangga tersenyum sambil memindahkan kantong itu ke tangannya yang lain.

"Kamu ini keras kepala banget, ya. Aku cuma bantu. Tenang aja, aku nggak minta bayaran kok."

Nawalia menghela napas berat, menyadari dia tidak akan menang melawan sikap Rangga yang santai namun dominan.

"Fine. Tapi cepat ya, saya nggak mau lama-lama jalan bareng Letda." Rangga hanya terkekeh.

"Siap, Nona Keras Kepala."

Saat mereka sampai di tempat parkir, Rangga membuka pintu mobil dinasnya.

"Naik. Aku antar sampai rumah."

Nawalia awalnya ragu, tapi melihat Rangga dengan santainya memasukkan kantong makanan ke kursi belakang, dia akhirnya menyerah dan masuk ke dalam mobil.

Di perjalanan, keduanya tidak banyak bicara. Rangga sesekali melirik Nawalia yang hanya menatap keluar jendela, sementara Nawalia mencoba mengabaikan pria itu.

Setelah beberapa menit, Rangga memecah keheningan.

"Jadi, kenapa kamu nggak mau aku antar tadi? Malu atau takut?"

"Dua-duanya," jawab Nawalia singkat.

Rangga tertawa pelan.

"Malu karena bareng aku atau karena orang-orang bakal lihat kita?"

Nawalia menoleh, menatapnya tajam.

"Letda ini suka banget ya bikin orang kesal?"

"Bukan suka. Aku cuma merasa menarik kalau bisa memancing reaksi orang lain, terutama kamu," balas Rangga dengan senyum kecil.

Nawalia mendesah panjang.

"Tolong cepat, Saya udah capek hari ini."

Ketika mereka sampai di depan rumah Nawalia, Rangga keluar lebih dulu dan mengambil kantong makanan dari kursi belakang. Dia menyerahkan kantong itu sambil berkata,

"Ini. Dan lain kali, jangan ragu buat minta bantuan. Orang militer itu terbiasa saling membantu"

Nawalia mengambil kantong itu tanpa menatap Rangga.

"Terima kasih"

Sebelum masuk, Rangga memanggilnya lagi.

"Nawalia."

Nawalia berhenti dan menoleh.

"Aku serius soal sabar itu. Kalau kamu terus marah-marah gini, kamu bisa cepat tua," ucap Rangga sambil tertawa kecil.

Nawalia hanya memutar mata, lalu masuk ke dalam rumah tanpa membalas. Di belakangnya, Rangga tersenyum sambil menggeleng pelan, merasa makin tertarik dengan sosok gadis tangguh itu.

Fly To EternityTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang