27

1.8K 89 2
                                        

Pagi itu, Nawalia merasa ada dorongan kuat dalam dirinya untuk pergi bersama ayahnya, Rian, ke markas. Seperti ada sesuatu yang menariknya untuk berada di sana, meskipun dia sendiri tidak tahu apa yang membuatnya merasa begitu. Mungkin perasaan cemas yang belum ia pahami, atau mungkin hanya dorongan hati yang tak bisa dijelaskan.

Rian, yang sedang bersiap untuk berangkat, sempat melarang Nawalia.

"Al, kamu tahu kan, ini markas militer. Hanya anggota yang bisa masuk. Kamu nggak bisa ikut," katanya dengan nada tegas. Namun, Nawalia tetap bersikeras.

"Aku mau ikut, Ayah. Aku harus pergi," jawabnya dengan nada yang tidak bisa diganggu gugat. Ada sesuatu dalam dirinya yang merasa bahwa ia harus ada di sana.

Melihat kegigihan anaknya, Rian akhirnya mengalah.

"Baiklah, kalau begitu. Tapi kamu harus hati-hati dan tetap berada di sisi Ayah."

Dengan setuju, mereka berangkat ke markas.

Setibanya di markas, suasana terasa tidak biasa. Banyak tentara yang sibuk berlarian, dan ada beberapa helikopter yang baru saja mendarat. Nawalia mengikutinya dengan langkah yang sedikit ragu, namun entah kenapa, ia merasa ada yang aneh.

Di tengah keramaian itu, pandangannya tertuju pada sebuah helikopter yang baru saja mendarat. Beberapa anggota tim medis dan tentara mulai mengeluarkan sesuatu dari dalam helikopter—sebuah tubuh yang dibalut dengan kain. Hati Nawalia mulai berdebar kencang, dan perasaan tidak nyaman mulai merasuki dirinya.

"Kenapa rasanya ada yang salah?" pikirnya dalam hati.

Ia melihat helikopter itu, dan tubuh yang dibawa oleh anggota tim medis itu terlihat familiar. Perasaan cemas dan khawatir terus menguasai dirinya, dan ia merasa seolah ada sesuatu yang tidak bisa ia pahami.

Namun, sebelum ia sempat bertanya lebih lanjut, seorang tentara mendekatinya dengan wajah serius. Di tangannya, ada sebuah amplop yang sudah terlihat berlumuran darah, membuat jantung Nawalia hampir berhenti berdetak.

"Untuk Anda, Nawalia," kata tentara itu pelan, sambil memberikan surat itu.

Surat itu terlihat lusuh, dan darah masih menetes dari sudut-sudutnya. Nawalia langsung meraih surat itu, tanpa bisa mengucapkan sepatah kata pun. Tangannya gemetar saat membuka amplop dan membaca tulisan yang tertulis dengan tinta merah, yang ternyata adalah darah yang menetes dari tubuh Rangga.

Al,
Aku tidak tahu apakah surat ini akan sampai padamu, atau apakah aku akan kembali untuk memberikannya langsung.

Aku sangat ingin hidup untuk bisa melihatmu lagi, untuk bisa mendengar jawabanmu tentang perasaanku. Tapi jika aku tidak sempat kembali, aku ingin kamu tahu bahwa aku selalu mencintaimu. Aku akan selalu mencintaimu, Nawalia Adibrata Alvaro. ingatlah bahwa hatiku akan selalu ada bersamamu.

Aku menunggumu, di tempat yang lebih baik.

Dengan segenap hati, Rangga

Nawalia menatap surat itu, wajahnya pucat. Air matanya jatuh tanpa bisa dibendung lagi. Surat ini, yang seharusnya menjadi kenyataan yang manis, kini justru menjadi kenangan terakhir dari seorang yang ia cintai. Rangga, yang dengan penuh pengorbanan dan keberanian, telah memberikan hidupnya demi orang lain, dan kini ia meninggalkan Nawalia dengan kenangan yang tidak akan pernah bisa ia lupakan.

Saat Nawalia memandang surat itu, suara tangisan mulai terdengar di sekitarnya. Beberapa tentara yang melihatnya memahami betapa berat beban yang ia rasakan. Namun, di dalam hatinya, Nawalia merasa seperti dunia ini runtuh di sekelilingnya. Rangga, orang yang selama ini ia abaikan dan hindari, kini tak akan pernah kembali.

Surat yang penuh dengan darah dan kata-kata yang menyentuh itu mengingatkan Nawalia akan semua hal yang ia tolak dari Rangga. Perasaan yang dulu ia anggap remeh, kini menjadi perasaan yang begitu berharga.

Rian, yang melihat keadaan putrinya, mendekatinya dengan langkah berat. Ia tahu, ini adalah momen yang sangat sulit bagi Nawalia, dan mungkin akan merubah pandangannya tentang hidup dan cinta.

"kamu harus kuat," kata Rian, berusaha menenangkan putrinya yang terlihat patah hati.

"Rangga adalah pahlawan, dan dia selalu akan ada di hatimu."

Namun, Nawalia hanya bisa menangis dalam diam, memegang surat itu erat-erat di tangannya. Seakan ingin menahan semua kenangan bersama Rangga, yang kini tinggal sebagai bayangan yang abadi.

Nawalia, dengan langkah pelan dan hati yang terasa berat, mendekati tubuh yang terbungkus kain putih tersebut. Suasana di sekelilingnya semakin mencekam. Para tentara yang melihatnya hanya bisa menundukkan kepala, menghormati momen terakhir antara Nawalia dan Rangga. Semua rasa cemas, bingung, dan kesedihan yang sempat menguasai dirinya kini menjadi sebuah kepastian yang harus diterima.

Saat sampai di dekat tubuh Rangga, Nawalia terhenti sejenak. Pandangannya tak bisa lepas dari wajah Rangga yang tampak tenang meskipun darah masih menempel di tubuhnya. Nafasnya terasa sesak, dan untuk beberapa detik, ia merasa seolah waktu berhenti. Ia ingin berteriak, ingin bertanya kenapa semua ini bisa terjadi, tetapi kata-kata itu tak mampu keluar dari bibirnya.

Dengan hati yang hancur, Nawalia akhirnya menjatuhkan tubuhnya berlutut di samping Rangga. Tanpa bisa menahan lagi, ia meraih jasad Rangga, memeluknya erat-erat seolah ingin menahan semua kenangan dan perasaan yang belum sempat ia ungkapkan. Air matanya jatuh deras, membasahi wajah Rangga yang tak lagi bisa merasakannya.

"Rangga... maafkan aku," bisiknya dengan suara yang gemetar, seolah memohon maaf atas segala hal yang pernah ia tolak, atas sikapnya yang dingin dan jauh selama ini.

"Aku... aku mencintaimu."

Nawalia memeluk Rangga dengan segenap hatinya, merasakan dinginnya tubuh yang dulu penuh semangat dan keberanian. Di saat itu, ia menyadari betapa besar pengorbanan yang telah Rangga lakukan untuknya, untuk timnya, bahkan untuk negara. Rangga yang selalu menunjukkan cinta dengan cara yang berbeda—cinta yang tulus, tanpa pamrih.

Momen itu terasa sangat lama bagi Nawalia, meskipun sebenarnya hanya beberapa menit saja. Dia ingin tetap berada di sana, di dekat Rangga, meskipun tubuhnya sudah tak bisa merasakan apapun. Ia ingin memohon pada waktu untuk mengembalikannya, untuk memberinya kesempatan kedua.

Namun, saat ia akhirnya melepaskan pelukan itu, Nawalia tahu bahwa Rangga sudah pergi, dan dia harus belajar untuk melepaskan.

Dengan perlahan, Nawalia berdiri, menatap wajah Rangga yang kini terlihat damai, meskipun penuh dengan luka-luka yang tak bisa disembuhkan.

"Terima kasih, Rangga..." katanya pelan, sebelum memalingkan wajahnya dan perlahan berjalan menjauh.

Meskipun ia telah kehilangan Rangga, kenangan tentangnya akan selalu hidup dalam diri Nawalia, sebagai bagian dari perjalanan hidup yang tak akan pernah terlupakan.

Fly To EternityTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang