7

2.7K 100 0
                                        

Pagi itu, sinar matahari mulai masuk ke celah jendela asrama. Nawalia membuka matanya dengan berat, tubuhnya terasa pegal-pegal setelah pertandingan bulu tangkis kemarin. Ia memijat lehernya perlahan dan mendesah panjang.

Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk dengan keras.

"Nawaaa! Bangun! Ayo kita samapta pagi ini. Udah jam segini, nanti kesiangan!"

Nawalia menggerutu

"Enggak, Fik. Aku capek banget. Badan aku pegal semua. Kamu aja, deh. Aku skip hari ini."

Fika mendorong pintu dan melongok ke dalam

"Ya ampun, Al. Padahal samapta pagi kan bisa bikin badanmu lebih rileks. Tapi ya udah, terserah kamu. Jangan lupa siap-siap buat sekolah, ya." Nawalia menghela napas

"Iya, aku tahu. Nanti aku nyusul ke kantin aja."

Setelah Fika pergi, Nawalia bangkit perlahan dari tempat tidurnya. Ia mengambil seragam sekolah dan perlengkapan lainnya. Saat berdiri di depan cermin untuk merapikan rambutnya, ia merasakan sedikit nyeri di bahunya.

Nawalia berbisik pada dirinya sendiri

"Kenapa sih pertandingan kemarin harus intens banget? Tapi ya sudahlah, aku masih harus fokus buat hari ini."

Setelah siap, Nawalia membawa tasnya dan keluar dari kamar. Ia menuju kantin untuk sarapan singkat sebelum masuk kelas. Di meja kantin, Fika sudah duduk sambil menyeruput teh hangat.

"Tuh kan, kalau ikut samapta, kamu udah lebih segar sekarang."

Nawalia menggeleng sambil tersenyum tipis

"Percaya aja, Fik. Aku nggak nyesel skip samapta hari ini. Mending makan aja biar tambah energi."

Mereka berdua tertawa kecil sambil menyelesaikan sarapan. Tak lama kemudian, bel berbunyi, menandakan waktu untuk masuk kelas. Nawalia menghela napas panjang dan bersiap menghadapi hari yang baru di SMK Penerbangan.

Sesampainya di kelas, Nawalia langsung meletakkan tasnya di atas meja. Ia baru saja duduk ketika Gita mendekat dengan senyum lebarnya.

"Nawa! Aku punya berita bagus buat kamu."

"Berita bagus apaan pagi-pagi gini? Jangan-jangan tugas tambahan lagi?"

"Bukan, dong. Kamu tahu kan, sekolah kita mau ngadain lomba nyanyi antarjurusan?" Nawalia mengernyitkan dahi

"Lomba nyanyi? Terus apa hubungannya sama aku?"

"Ya jelas ada, lah! Kamu kan jago nyanyi. Suara kamu itu, kalau diadu, bisa bikin jurinya jatuh cinta." Nawalia tertawa kecil

" Kamu melebih-lebihkan. Aku cuma suka nyanyi, nggak serius kok." Gita menarik kursi dan duduk di sebelah Nawalia

"Kamu jangan gitu, dong. Coba aja dulu. Ini kan kesempatan buat nunjukin bakat kamu. Lagipula, aku yakin semua orang bakal dukung kamu." Nawalia menggeleng pelan

"Aku nggak yakin, Git. Aku nggak pernah nyanyi di depan banyak orang. Apalagi lomba kayak gitu."

"Ya ampun, Al. Percaya diri, dong. Aku bakalan bantu kamu latihan. Kamu kan nggak sendiri. Lagipula, kapan lagi ada kesempatan kayak gini? Aku nggak mau dengar alasan lagi, kamu harus daftar, titik!" Nawalia tersenyum ragu

"Git, kamu tuh ngotot banget, ya. Tapi... aku pikirin dulu deh. Kalau aku daftar, aku nggak mau malu-maluin diri sendiri."

Gita tersenyum lebar

"Itu tandanya kamu setuju, kan? Aku bakal daftarin kamu ke panitia, ya. Udah, nggak usah banyak mikir. Pokoknya kamu pasti bisa!"

Sebelum Nawalia sempat membalas, Gita sudah beranjak dari kursinya sambil terkikik kecil. Nawalia hanya menghela napas panjang dan tersenyum tipis. Dalam hati, ia merasa sedikit gugup, tapi juga tertantang untuk mencoba sesuatu yang baru.

Fly To EternityTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang