Malam itu, Nawalia terlelap di kamarnya di mess skuadron. Setelah seharian menjalani tugas yang melelahkan, tubuhnya benar-benar butuh istirahat. Namun, di tengah tidurnya, mimpi membawa Nawalia kembali ke masa lalu—momen-momen terakhir bersama Rangga.
Dalam mimpinya, ia melihat Rangga tersenyum, berdiri di depannya dengan seragam lengkap. Suaranya terdengar lembut, penuh kasih, namun juga terasa seperti sebuah perpisahan.
"Al, Jangan biarkan kesedihan menghalangimu. Aku selalu mendukungmu, dari mana pun aku berada..."
Mimpi itu terasa begitu nyata hingga Nawalia mengigau tanpa sadar, memanggil nama Rangga berulang kali
"Rangga... Rangga... jangan pergi..."
Fina, teman sekamarnya yang masih terjaga karena menyelesaikan laporan, mendengar igauan itu. Ia segera menghampiri Nawalia yang tampak gelisah dalam tidurnya, keringat dingin membasahi dahinya. Dengan lembut, Fina mengguncang bahunya.
"Al, bangun! Kamu mimpi buruk?"
Nawalia terbangun dengan terengah-engah, matanya terlihat sedikit merah, penuh dengan emosi yang terpendam. Ia hanya diam sejenak, mengatur napas, lalu tanpa berkata sepatah kata pun, ia mengambil jaket yang tergantung di samping tempat tidurnya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Fina dengan nada khawatir.
"Keluar sebentar. Aku butuh udara segar," jawab Nawalia singkat, suaranya terdengar dingin, meskipun di dalam hatinya, ia merasa rapuh.
Nawalia duduk di kursi depan mess, memandangi langit malam yang dipenuhi bintang. Udara dingin menusuk kulitnya, tetapi ia merasa itu lebih baik daripada terjebak di dalam kamar dengan pikiran yang semakin kacau. Di tangannya ada secangkir teh hangat yang ia seduh di dapur sebelum keluar. Ia menghirup aroma teh itu, mencoba menenangkan dirinya.
Namun, pikirannya tetap dipenuhi bayangan Rangga. Kata-kata dalam mimpinya terus terngiang di telinganya. Ia merasa sesak, merindukan sosok yang dulu selalu ia anggap mengganggu, tetapi kini justru menjadi luka terdalam di hatinya.
"Kenapa kamu harus pergi, Rangga?" gumamnya lirih, matanya berkaca-kaca.
"Aku bahkan belum sempat bilang... aku juga mencintaimu."
Malam itu terasa begitu panjang bagi Nawalia. Ia duduk di sana selama berjam-jam, membiarkan pikirannya melayang-layang. Namun, di balik kesedihan yang ia rasakan, ada sedikit kelegaan. Mimpi itu seperti sebuah pesan—sebuah dorongan untuk terus melangkah, meskipun rasa kehilangan itu tidak akan pernah sepenuhnya hilang.
Fina, yang memperhatikan Nawalia dari balik jendela kamar, tidak berani mengganggunya. Ia hanya berharap temannya itu menemukan kedamaian di tengah badai emosinya.
Nawalia menatap bintang-bintang yang bersinar di atas langit gelap.
"Aku akan melanjutkan hidupku, Rangga," bisiknya pelan, suaranya nyaris tenggelam dalam angin malam. "Aku akan memenuhi harapanmu."
Teh di tangannya telah dingin, tetapi Nawalia tetap duduk di sana, membiarkan malam memeluknya dalam keheningan, sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan mencoba tidur dengan hati yang sedikit lebih ringan.
Keesokan harinya saat libur tiba Nawalia memutuskan untuk mengunjungi rumah orang tuanya. Baginya, rumah itu selalu membawa kehangatan, meskipun ia kini jarang pulang karena kesibukannya sebagai perwira penerbang. Saat tiba, ia disambut oleh ibunya, Aprilia, yang tersenyum lebar melihat anak perempuannya kembali.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fly To Eternity
Non-Fictioncinta, kehilangan, dan pengorbanan, meskipun hidup penuh dengan ujian dan penderitaan, jiwa seorang pahlawan tetap terbang menuju keabadian.
