2

4.6K 159 0
                                        

Saat mereka berjalan keluar dari rumah tantenya Gita di kompleks militer, tiba-tiba terdengar suara motor besar mendekat. Seorang pria berseragam TNI AL berhenti di dekat mereka. Dia melepas helmnya, menampakkan wajah tegas dan sorot mata tajam yang langsung menarik perhatian.

"Permisi, kalian apa nggak lihat ini area khusus? Harusnya ada izin masuk, kan?" katanya dengan nada tegas.

Nawalia menoleh cepat, menatap pria itu dengan alis terangkat.

"Kami sudah izin, dan saya juga bagian dari keluarga militer. Ada masalah?" jawabnya, nada suaranya sedikit ketus.

Pria itu memandang Nawalia dari atas ke bawah. "Keluarga militer? Mana buktinya?" tanyanya, nada suaranya meremehkan.

Gita yang berada di sebelah Nawalia langsung menarik lengan temannya, mencoba menenangkan.

"Al, udah, jangan ribut. Kita jelasin baik-baik aja," bisiknya.

Tapi Nawalia tak peduli. Dia melangkah maju mendekati pria itu.

"Saya Nawalia Alvaro, Ayah saya Letjen Rian Adibrata Alvaro Kalau masih nggak percaya, tanya saja ke pos penjaga. Dan saya nggak suka ditanya dengan nada kayak gitu," katanya tajam, menatap langsung ke mata pria itu.

Pria itu terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil, seolah menantang.

"Oh, jadi kamu anaknya pak rian? Pantas nada bicaramu keras. Tapi, kalau mau masuk kompleks, tetap harus ada aturan, dan aku cuma jalankan tugas."

"Aturan? Saya udah jelas izin masuk tadi di pos depan. Kamu yang kayaknya terlalu cari masalah," balas Nawalia sambil melipat tangan.

Gita semakin panik dan mencoba melerai.

"Mas, maaf ya kalau temen saya ini terlalu emosian. Dia memang orangnya gitu, tapi nggak bermaksud apa-apa."

Pria itu akhirnya menghela napas, lalu memasang helmnya lagi. Sebelum pergi, dia menatap Nawalia sekali lagi.

"Hati-hati kalau bicara, nona keluarga militer. Nama saya Letda Rangga Kaivan Athar, dan kita pasti akan bertemu lagi," ucapnya sebelum motornya melaju pergi.

Nawalia mendengus kesal sambil melipat tangan.

"Sok banget dia. Mentang-mentang Letda, gayanya kayak mau ceramahin dunia."

Gita tertawa kecil sambil menatap temannya.

"Kamu tuh nggak pernah kalah kalau debat, ya. Tapi jujur, tadi dia lumayan ganteng, loh."

"Matamu ganteng? Nyebelin gitu," jawab Nawalia sambil berjalan cepat keluar dari kompleks. Namun, dalam hatinya, sedikit rasa penasaran mulai muncul.

Setelah kejadian di kompleks militer, Nawalia dan Gita akhirnya kembali ke asrama. Sepanjang perjalanan, Gita terus menggoda Nawalia soal Letda Rangga, sementara Nawalia hanya merespons dengan dengusan kesal.

"Serius, Al, kamu nggak kepikiran soal Letda Rangga tadi? Aku lihat tatapan dia ke kamu tuh kayak... ada sesuatu," ujar Gita dengan nada menggoda.

"Ada sesuatu? Yang ada cuma nyebelin, Git. Kamu dengar sendiri kan nada bicaranya? Aku nggak suka banget orang sok otoriter kayak gitu," jawab Nawalia sambil membuka pintu kamarnya di asrama.

Gita tertawa kecil dan mengangkat bahu.

"Ya sudah, tapi aku yakin kalian bakal ketemu lagi. Biasanya kalau awalnya ribut, ujung-ujungnya ada cerita menarik."

Nawalia hanya menggelengkan kepala, berusaha mengabaikan ucapan temannya. Namun, malam itu, saat dia mencoba mengerjakan tugas sekolah, bayangan Letda Rangga sesekali melintas di pikirannya.

"Kenapa aku masih kepikiran dia? Biasa aja, kan?"

pikirnya sambil menggelengkan kepala untuk mengusir rasa penasaran yang tiba-tiba muncul.

Fly To EternityTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang