Hari yang dinantikan akhirnya tiba. Nawalia sudah bersiap sejak subuh, mengenakan seragam rapi dengan sepatu mengkilap yang telah ia poles semalam. Ia memastikan semua dokumen dan keperluan seleksi sudah lengkap. Ketika ia berangkat, ibunya, Aprilia, memeluknya dengan penuh kasih sayang, memberikan semangat terakhir.
"Jangan gugup, Nak. Percaya pada dirimu sendiri. Ibu yakin kamu bisa," katanya lembut.
"Iya Bu," jawab Nawalia, mencoba menutupi kegugupannya.
Di lokasi seleksi pusat, suasananya jauh lebih serius dibandingkan seleksi sebelumnya. Para peserta berdiri dengan tegap, menunggu giliran masing-masing. Ada serangkaian tes yang harus mereka lalui hari itu, tetapi Nawalia paling memikirkan sesi wawancara. Ia tahu, bagian itu adalah ujian di mana dirinya harus bisa memberikan kesan terbaik.
Setelah melewati tes fisik dan akademik yang berlangsung sejak pagi, akhirnya giliran Nawalia untuk wawancara. Ia dipanggil masuk ke dalam ruangan yang cukup besar, di mana tiga perwira tinggi TNI sudah menunggunya di balik meja.
Nawalia memberi hormat dengan tegas, lalu memperkenalkan dirinya.
"Siapa namamu, dan mengapa kamu ingin bergabung dengan PSDP TNI?" tanya salah satu pewawancara, seorang Kolonel dengan raut wajah serius.
Nawalia menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri sebelum menjawab.
"Nama saya Nawalia Adibrat Alvaro, Alasan saya ingin bergabung dengan PSDP TNI adalah karena sejak kecil, saya memiliki impian menjadi seorang pilot. Saya ingin menerbangkan pesawat militer dan melayani bangsa ini. Saya tumbuh di keluarga militer, dan nilai-nilai pengabdian telah tertanam dalam diri saya. Bergabung dengan TNI AU adalah langkah saya untuk mewujudkan impian itu sekaligus memberikan kontribusi terbaik bagi negara." Kolonel itu mengangguk kecil, mencatat sesuatu di lembarannya.
"Menjadi pilot itu bukan pekerjaan mudah. Apa kamu sudah siap menghadapi tantangan besar, termasuk risiko yang ada?"
Nawalia menatap langsung ke arah Kolonel itu dengan penuh keyakinan.
"Saya siap, Pak. Saya paham bahwa menjadi pilot membutuhkan ketangguhan fisik, mental, dan disiplin tinggi. Tapi saya percaya, dengan kerja keras dan tekad, saya mampu melewati semua tantangan. Saya ingin membuktikan bahwa saya layak berada di sini."
Seorang pewawancara lain, seorang Letkol perempuan, tersenyum tipis sebelum bertanya.
"Menarik. Nawalia, banyak anak perempuan bermimpi menjadi dokter, guru, atau profesi lain. Kenapa kamu memilih jalur ini, yang biasanya didominasi laki-laki?" Nawalia tersenyum kecil sebelum menjawab
"Sejak kecil, saya sering melihat pesawat tempur di udara dan merasa kagum dengan para pilotnya. Saat itu, saya tidak peduli apakah profesi itu didominasi laki-laki atau tidak. Bagi saya, impian tidak mengenal batasan gender. Saya ingin membuktikan bahwa perempuan juga bisa berprestasi di dunia penerbangan militer. Saya ingin menjadi inspirasi bagi generasi muda, khususnya perempuan, untuk tidak takut bermimpi besar."
Jawaban itu membuat ketiga pewawancara saling bertukar pandang, seolah setuju bahwa Nawalia memiliki tekad yang luar biasa.
Pewawancara terakhir, seorang Marsekal Pertama yang menjadi ketua panel, menatap Nawalia dengan tajam.
"Kalau begitu, apa yang akan kamu lakukan jika suatu saat nanti kamu gagal dalam sebuah misi? Bagaimana kamu menghadapi tekanan semacam itu?"
Nawalia diam sejenak, mencerna pertanyaan itu. Ia tahu, jawaban ini akan menjadi penilaian penting.
"Kalau saya gagal, saya akan mengevaluasi diri, Pak. Saya percaya, setiap kegagalan adalah pelajaran. Sebagai anggota TNI, kita tidak boleh menyerah hanya karena satu kegagalan. Saya akan belajar dari kesalahan saya, bangkit, dan memastikan hal itu tidak terulang lagi. Saya percaya, seorang prajurit harus selalu siap menghadapi tekanan dan tetap menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab."
Marsekal itu tersenyum tipis, lalu menutup wawancara dengan satu kalimat,
"Baik, Nawalia. Semoga jawabanmu mencerminkan tindakanmu di lapangan nanti."
Nawalia memberi hormat, lalu keluar dari ruangan dengan perasaan lega. Ia tahu, ia telah memberikan yang terbaik.
Setelah menjalani serangkaian tes berat sepanjang hari, Nawalia akhirnya bisa pulang ke rumah. Tubuhnya terasa lelah, tapi ada rasa lega karena semua tahapan seleksi pusat telah selesai. Ia membawa tas kecilnya, berjalan keluar dari kompleks seleksi dengan langkah perlahan.
Biasanya, Rangga akan menjemputnya setiap kali ia selesai seleksi. Namun kali ini, Rangga sedang bertugas di markas dan tidak bisa menemaninya. Nawalia tidak terlalu memikirkan itu, karena ia cukup mandiri untuk pulang sendiri.
Ia memesan transportasi online dan menunggu di tepi jalan. Angin sore yang berhembus lembut sedikit mengurangi rasa lelahnya. Dalam perjalanan pulang, Nawalia termenung, memikirkan semua yang telah ia lalui. Tes fisik, akademik, hingga wawancara terasa seperti mimpi panjang yang akhirnya selesai.
Begitu tiba di rumah, Nawalia disambut oleh ibunya, Aprilia, yang sudah menunggunya di ruang tamu. Wajah Aprilia langsung berubah lega begitu melihat putrinya pulang dengan selamat.
"Gimana, Nak? Capek ya?" tanya Aprilia, sambil mengambil tas Nawalia.
"Capek banget, Bu," jawab Nawalia, langsung duduk di sofa.
"Tapi semuanya sudah selesai. Sekarang tinggal nunggu hasil."
Aprilia tersenyum dan mengelus kepala Nawalia.
"Yang penting kamu sudah berusaha maksimal. Ibu yakin, kamu sudah memberikan yang terbaik. Sekarang istirahat dulu, jangan terlalu dipikirkan."
Ayahnya, Rian, yang sedang duduk membaca koran di ruang makan, juga ikut memberikan semangat.
"Kamu sudah sampai sejauh ini, itu sudah prestasi. Hasilnya nanti hanya formalitas. Ayah percaya, kamu akan lolos."
Meskipun dukungan dari keluarganya membuat Nawalia merasa lebih tenang, ada sedikit kegelisahan yang masih tersisa di hatinya. Ia tahu, seleksi pusat ini adalah langkah terakhir menuju impiannya menjadi pilot, dan ia tidak ingin gagal.
Malam itu, setelah makan malam bersama keluarganya, Nawalia pergi ke kamarnya. Ia berbaring di tempat tidur, memandangi langit-langit dengan pikiran yang penuh. Biasanya, Rangga akan mengirim pesan menanyakan bagaimana tesnya berjalan. Namun kali ini, tidak ada pesan yang masuk.
Nawalia sempat berpikir untuk menghubungi Rangga terlebih dulu, tetapi akhirnya mengurungkan niatnya.
"Dia pasti sedang sibuk. Aku nggak mau ganggu" pikirnya.
Meskipun begitu, ada sedikit rasa sepi yang ia rasakan. Rangga mungkin sering ia abaikan, tetapi kehadirannya selama ini ternyata memberi kenyamanan tersendiri bagi Nawalia. Tanpa sadar, ia mulai terbiasa dengan perhatian dan dukungan pria itu.
Nawalia menutup matanya, mencoba memejamkan diri. Dalam hati, ia berdoa agar hasil seleksi nanti sesuai harapannya. Tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk orang-orang yang telah percaya dan mendukungnya selama ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fly To Eternity
No Ficcióncinta, kehilangan, dan pengorbanan, meskipun hidup penuh dengan ujian dan penderitaan, jiwa seorang pahlawan tetap terbang menuju keabadian.
