setelah kejadian penculikan yang mengganggu Nawalia, rasa cemas dan ketakutan menghantuinya, terutama menjelang pengumuman seleksi PSDP TNI. Raditya, sebagai kakak yang peduli, mengajak Nawalia untuk berlari di sore hari. Mereka berlari bersama di sekitar kompleks perumahan yang sepi, di tengah udara sore yang sejuk. Raditya tahu bahwa olahraga bisa membantu Nawalia untuk menenangkan pikirannya dan melepaskan ketegangan yang selama ini mengganggu.
Raditya berbicara dengan penuh empati, mencoba meredakan kegelisahan adiknya.
"Al, jangan biarkan rasa takut itu menguasai kamu. Apa pun hasilnya nanti, kamu sudah berusaha yang terbaik. Dan ingat, kita keluarga militer, kita diajari untuk kuat dalam menghadapi segala hal."
Nawalia mendengarkan kata-kata Raditya, meski kegelisahan masih terasa di dalam hatinya. Namun, saat mereka berlari bersama, sedikit demi sedikit rasa takutnya mulai menghilang, digantikan oleh kekuatan yang ia rasakan dari dukungan kakaknya.
Raditya terus berlari di samping Nawalia, memastikan adiknya tidak tertinggal, meski keduanya mulai kelelahan. Mereka berhenti sejenak di sebuah taman kecil, duduk di bangku yang terletak di bawah pohon besar. Angin sore yang segar berhembus, membawa ketenangan di tengah kerisauan Nawalia.
"Al," Raditya memulai, suara kakaknya lembut namun penuh perhatian,
"kamu tahu, kita semua pernah melalui masa-masa sulit. Ayah dan ibu juga, mereka melewati banyak hal berat dalam karir militer mereka, tapi mereka selalu maju. Apa yang kita hadapi sekarang, itu hanya sebagian kecil dari perjalanan kita."
Nawalia menatap kakaknya dengan tatapan penuh keraguan, namun sedikit demi sedikit kata-kata itu mulai menyentuh hatinya.
"Tapi, kak, aku takut kalau aku gagal... Aku takut mengecewakan mereka, terutama Ayah," ujar Nawalia, suara penuh kerisauan.
Raditya tersenyum, meskipun ada sedikit rasa prihatin di matanya.
"Kamu tidak akan pernah mengecewakan mereka, Al. Mereka bangga sama kamu, tak peduli apapun yang terjadi. Mereka tahu kamu sudah berjuang sekuat tenaga. Dan yang terpenting, kita semua saling mendukung."
Nawalia merasa sedikit lebih tenang. Ia menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa takut yang menggenggam dirinya. Meskipun pengumuman PSDP TNI masih menjadi kekhawatiran yang besar, ia tahu bahwa apapun yang terjadi, keluarganya akan selalu ada untuk mendukungnya.
Setelah beberapa saat, mereka bangkit dan melanjutkan lari mereka, kali ini dengan semangat yang lebih besar. Nawalia merasa lebih ringan, seolah-olah beban di pundaknya mulai berkurang. Raditya mendampinginya, memastikan adiknya tidak merasa sendirian dalam perjalanan ini.
Dengan setiap langkah yang mereka ambil, Nawalia merasa semakin yakin bahwa, apapun hasil dari pengumuman itu nanti, ia akan terus berjuang dengan penuh keberanian—seperti yang selalu diajarkan oleh keluarganya.
Setelah berlari, mereka akhirnya mencapai ujung jalan yang mengarah ke rumah mereka. Sore itu, langit mulai gelap, namun cahaya dari lampu jalan memberikan penerangan yang hangat. Nawalia merasa tubuhnya sedikit lebih segar meskipun rasa cemas masih menyelimuti hatinya. Namun, ketenangan yang datang setelah berlari bersama Raditya memberikan rasa damai yang belum pernah ia rasakan dalam beberapa hari terakhir.
Di depan rumah mereka, Raditya berhenti dan menoleh ke Nawalia.
"Al, apapun yang terjadi, kita harus tetap percaya diri. Jangan biarkan satu pengumuman mengubah siapa kamu."
Nawalia mengangguk, mencoba meyakinkan dirinya sendiri dengan kata-kata kakaknya.
"Iya, Kak. Aku akan berusaha. Aku tidak akan menyerah begitu saja."
Raditya tersenyum bangga, lalu mengacungkan tinjunya dengan semangat.
"Itu dia! Sekarang, ayo pulang."
Mereka kembali ke rumah, dan Nawalia merasakan semangat yang baru. Meskipun kegelisahan masih ada, dia merasa lebih siap menghadapi pengumuman yang akan datang. Di dalam rumah, suara tawa ayah dan ibu terdengar dari ruang keluarga. Nawalia tahu, apa pun yang terjadi nanti, ia memiliki keluarga yang kuat di belakangnya.
Malam itu, sebelum tidur, Nawalia duduk di dekat jendela kamar, menatap langit yang dipenuhi bintang. Dia menarik napas dalam-dalam, melepaskan segala kecemasan yang ada. Walau ketidakpastian menyelimuti pikirannya, dia tahu satu hal: dia sudah melakukan yang terbaik. Kekuatan dan dukungan keluarganya akan selalu ada, mengingatkan Nawalia bahwa setiap langkah yang ia ambil—baik atau buruk—akan membawa pembelajaran dan pertumbuhan.
Saat akhirnya tidur menyelimuti Nawalia, hatinya terasa lebih tenang, dan dia tahu bahwa apapun yang akan terjadi, ia akan terus maju dengan keyakinan dan keberanian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fly To Eternity
Non-Fictioncinta, kehilangan, dan pengorbanan, meskipun hidup penuh dengan ujian dan penderitaan, jiwa seorang pahlawan tetap terbang menuju keabadian.
