2,5 Tahun kemudian...
Dua setengah tahun telah berlalu sejak peristiwa yang mengubah hidup Nawalia. Waktu yang cukup panjang, namun bagi Nawalia, setiap detiknya terasa seperti sebuah perjalanan yang tak pernah mudah. Dengan tekad yang semakin kuat dan pikiran yang semakin matang, ia berhasil melalui masa pelatihan yang sangat keras dan kini telah mencapai puncak yang dia impikan, menjadi Perwira Penerbang TNI AU.
Di dalam kokpit pesawat, Nawalia merasakan kebanggaan dan kepuasan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Setiap kali dia mengendalikan pesawat, ia merasa seolah Rangga ada di sana, memberinya semangat meskipun tak ada di dunia nyata. Seiring dengan pelatihan dan pengalamannya, Nawalia mulai mengerti betapa besar perjuangan dan pengorbanan yang harus dilakukan untuk meraih impian dan menghormati orang-orang yang telah berjuang sebelum dirinya.
Nawalia kini bukan lagi gadis yang dulu, yang selalu gelisah dan penuh penyesalan. Ia telah belajar untuk menjadi lebih kuat, lebih disiplin, dan lebih fokus. Wajah dinginnya, yang dulunya digunakan untuk menutupi perasaan, kini menjadi simbol keteguhan dan profesionalisme. Nawalia menjalani kehidupan perwira penerbang dengan penuh rasa tanggung jawab, memahami bahwa setiap keputusan yang diambilnya akan berpengaruh besar terhadap keselamatan orang lain.
Namun, meskipun ia tampak kuat di luar, di dalam hatinya ada bagian dari dirinya yang selalu teringat pada Rangga. Setiap kali ia naik ke pesawat, ia seperti merasakan semangat dan keberanian Rangga yang selalu ada di setiap terbangannya. Meski begitu, Nawalia tidak lagi membiarkan perasaan itu menguasai dirinya. Ia telah belajar untuk melanjutkan hidup, mengingat Rangga dengan cara yang lebih damai, sebagai bagian dari kenangan yang membentuk siapa dirinya saat ini.
Pada suatu pagi yang cerah, Nawalia berada di pangkalan udara untuk mempersiapkan penerbangannya. Tugas hari itu penting, dan ia harus memastikan semuanya berjalan dengan lancar. Ketika ia berdiri di samping pesawat, menatap langit biru yang luas, ia teringat pada pesan terakhir Rangga.
"Jangan biarkan dirimu terperangkap dalam penyesalan."
Pikirannya kembali pada kata-kata itu, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Nawalia merasa ringan. Ada perasaan damai yang menyelimuti hatinya, seperti beban yang akhirnya terangkat.
Mungkin Rangga tak lagi ada di sini, tetapi semangat dan cinta yang Rangga tinggalkan tetap hidup dalam dirinya. Nawalia tahu, Rangga tidak menginginkan dia terus berlarut dalam kesedihan, melainkan agar dia terus melangkah maju, mengejar impian yang lebih tinggi.
Nawalia melangkah ke kokpit pesawat, siap untuk menjalani misi penting hari itu. Sambil menyesuaikan semua peralatan dan sistem di dalam pesawat, ia menyadari bahwa meskipun dunia berubah dan orang-orang yang kita cintai pergi, ada hal-hal yang akan tetap tinggal—kenangan, keberanian, dan semangat yang terus menginspirasi kita untuk terus melangkah ke depan.
Nawalia menatap ke luar jendela kokpit, dan untuk sesaat, ia merasa seolah Rangga ada di sana bersamanya, mengawasi dari langit yang luas.
"Terima kasih, Rangga," ucapnya pelan, lalu mengarahkan pesawat ke langit yang semakin tinggi, siap untuk menghadapi setiap tantangan baru dengan kepala tegak, sebagaimana Rangga mengajarkan padanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fly To Eternity
Non-Fictioncinta, kehilangan, dan pengorbanan, meskipun hidup penuh dengan ujian dan penderitaan, jiwa seorang pahlawan tetap terbang menuju keabadian.
