Matahari baru saja terbit ketika Rangga sudah bersiap di markas. Seragam lorengnya tampak rapi, sepatu hitamnya mengkilap, dan ransel besar tergantung di punggungnya. Misi kali ini adalah salah satu yang paling berat dalam kariernya sebagai Letnan Dua di Kopassus. Meski sudah terbiasa menghadapi bahaya, ada sesuatu yang membuatnya berbeda kali ini, Nawalia.
Sebelum berangkat, Rangga memutuskan untuk menemui gadis itu. Ia tahu ini mungkin terakhir kalinya ia bisa melihat Nawalia sebelum misi panjangnya dimulai. Dengan hati yang berdebar, ia pergi menuju rumah keluarga Alvaro.
Nawalia sedang duduk di ruang tamu, membaca buku sambil menyeruput teh hangat ketika suara bel pintu terdengar. Ia tidak menyangka siapa yang datang sepagi ini. Ketika ia membuka pintu, Rangga berdiri di sana dengan seragam lengkapnya.
"Kamu lagi?" tanya Nawalia dengan nada datar, meski hatinya sedikit terkejut.
"Aku cuma mau pamit sebelum berangkat," kata Rangga sambil tersenyum kecil.
"Boleh aku masuk sebentar?"
Nawalia mengangguk, meski agak ragu.
"Masuk aja."
Rangga duduk di ruang tamu, dan Nawalia ikut duduk di depannya. Suasana sedikit canggung, tetapi Rangga mencoba membuka pembicaraan.
"Nawalia, hari ini aku berangkat tugas. Aku nggak tahu kapan bisa pulang. Mungkin lama, mungkin juga cepat. Tapi sebelum aku pergi, aku cuma mau bilang satu hal."
Nawalia meletakkan cangkir tehnya, menatap Rangga dengan ekspresi serius.
"Apa lagi yang mau kamu bilang?" Rangga menatap Nawalia dalam-dalam.
"Aku nggak tahu apa aku akan punya kesempatan untuk ngomong ini lagi, jadi aku mau kamu dengar baik-baik. Aku sayang sama kamu, Nawalia. Dari awal aku ketemu kamu, aku udah tahu kamu itu istimewa. Kamu memang keras kepala, tapi di balik semua itu aku bisa lihat hati kamu yang kuat. Dan itu yang bikin aku nggak bisa berhenti mikirin kamu."
Nawalia tertegun, tidak menyangka Rangga akan sejujur itu. Ia merasa dadanya berdebar, tetapi ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Aku nggak minta kamu langsung balas perasaan aku," lanjut Rangga.
"Aku cuma mau kamu tahu. Itu aja. aku akan tunggu jawabanmu sampai aku pulang nanti."
Nawalia mencoba mengalihkan pandangannya, merasa gugup.
"Kamu tuh kenapa sih? Bukannya fokus aja sama tugas kamu. Kenapa kamu harus ngomong kayak gini sekarang?"
"Karena aku nggak mau nyesel. Kalau aku nggak ngomong sekarang, aku mungkin nggak akan pernah punya kesempatan lagi," kata Rangga dengan serius.
Hening sejenak. Nawalia menggigit bibirnya, bingung dengan perasaannya sendiri. Ia tahu Rangga tulus, tetapi ia juga tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan.
"Aku nggak janji apa-apa, Rangga" jawab Nawalia akhirnya dengan suara pelan.
"Tapi hati-hati di sana. Jangan kenapa-kenapa."
Rangga tersenyum tipis, merasa lega meski jawaban Nawalia belum pasti.
"Terima kasih, Al"
Ia berdiri, memberi hormat kecil kepada Nawalia sebelum melangkah menuju pintu. Sebelum pergi, ia menoleh sekali lagi.
"Aku akan kembali. Dan kalau aku kembali, aku akan tetap menunggu jawaban kamu," katanya dengan yakin.
Nawalia tidak menjawab, tetapi dalam hati ia merasa tersentuh. Ia berdiri di depan pintu, melihat Rangga berjalan pergi.
Sesampainya di markas, Rangga langsung bergabung dengan timnya yang sudah siap berangkat. Komandannya memberi briefing singkat sebelum mereka naik ke kendaraan militer yang akan membawa mereka ke lokasi misi.
Di dalam hati, Rangga membawa dua hal, tekad untuk menyelesaikan tugasnya dengan baik, dan harapan untuk kembali kepada Nawalia.
"Untuk apa pun yang terjadi di sana, aku akan pulang. Karena aku punya alasan untuk kembali," gumam Rangga pada dirinya sendiri, sambil menatap lurus ke depan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fly To Eternity
Não Ficçãocinta, kehilangan, dan pengorbanan, meskipun hidup penuh dengan ujian dan penderitaan, jiwa seorang pahlawan tetap terbang menuju keabadian.
