33

2K 75 2
                                        

Ia langsung berganti suasana, fokus kembali pada tanggung jawabnya sebagai seorang perwira penerbang. Langit siang itu tampak cerah, angin berembus lembut di landasan, dan suara deru mesin pesawat tempur menjadi musik yang akrab di telinganya.

Nawalia berjalan menuju pesawat tempur F-16 Fighting Falcon, kebanggaannya sekaligus tanggung jawab besar yang ia emban. Setiap kali berada di dekat pesawat itu, ia merasakan adrenalin bercampur rasa syukur karena bisa mencapai impiannya sejak kecil.

Di hadapan F-16 yang menjulang gagah, ia berdiri sejenak, mengamati setiap detail pesawat yang kini menjadi partner setianya di udara. Tangannya perlahan menyentuh badan pesawat, seolah berbicara pada mesin itu.

"Kita akan bekerja sama lagi hari ini, ya. Jangan kecewakan aku," bisiknya pelan, seperti sebuah ritual kecil yang biasa ia lakukan sebelum penerbangan.

Teknisi yang bertugas, termasuk Irgi dan Fajar, memperhatikan Nawalia dengan penuh konsentrasi. Mereka tahu betapa telitinya Nawalia dalam setiap persiapan. Ia tidak hanya seorang penerbang, tetapi juga seseorang yang paham teknis pesawatnya.

"F-16 sudah siap, Semua sistem dalam kondisi baik," lapor Fajar, yang memeriksa panel terakhir sebelum penerbangan.

"Terima kasih, Fajar"

Irgi, yang juga berada di dekatnya, berkomentar ringan,

"Al, kamu serius banget. Santai sedikit dong. F-16 ini nggak akan mengecewakan kamu." Nawalia hanya tersenyum tipis.

"Nggak ada istilah santai kalau sudah di udara, Irgi. Semua harus sempurna."

Setelah memeriksa checklist penerbangannya, Nawalia naik ke kokpit pesawat. Ia mengenakan helm dan oksigen mask dengan sigap, memastikan semua sistem navigasi dan komunikasi berjalan normal.

Mesin F-16 meraung keras saat Nawalia mendorong throttle, dan dalam hitungan detik, pesawat itu meluncur dengan kecepatan tinggi di landasan. Dalam satu tarikan kontrol, ia membawa pesawat itu ke udara, meninggalkan landasan dengan mulus.

Di langit, Nawalia merasa seperti berada di rumahnya sendiri. Setiap manuver yang ia lakukan terasa seperti tarian yang sudah ia hafal sejak lama. Langit biru yang luas memberi kebebasan yang selalu ia rindukan, meski di balik itu ada tanggung jawab besar yang harus ia pikul sebagai seorang penerbang TNI AU.

Di darat, Irgi dan Fajar menyaksikan penerbangannya dengan rasa bangga.

"Dia memang beda. Dingin, tapi profesional. Nggak ada yang bisa mengalahkan fokusnya," komentar Irgi. Fajar mengangguk setuju.

"Benar. Tapi aku harap dia nggak terlalu menutup diri. Kadang, seseorang butuh berbagi beban juga."

Meski Nawalia terlihat sempurna dalam tugasnya, pikirannya masih sering teralihkan. Saat pesawat itu melintasi langit biru, ingatannya kembali pada nama yang belakangan muncul di benaknya: Azka. Sosok pria berseragam TNI AL yang ia temui dua kali secara kebetulan.

"Kenapa aku terus memikirkannya? Padahal, aku bahkan tidak mengenalnya," gumam Nawalia pelan dalam kokpit, suaranya tertahan oleh mask yang ia kenakan.

Namun, Nawalia segera menggelengkan kepala, berusaha mengusir pikirannya yang mengganggu. Baginya, saat di udara, tidak ada ruang untuk distraksi. Semua fokusnya harus tertuju pada misi dan tugasnya.

Setelah menyelesaikan misi latihan udara, Nawalia kembali ke landasan dengan manuver pendaratan yang mulus. Deru mesin F-16 perlahan mereda saat pesawat itu berhenti di apron. Teknisi dan ground crew segera mendekat untuk melakukan pemeriksaan rutin pasca penerbangan.

Nawalia turun dari kokpit, melepas helm dan masker oksigennya. Meski wajahnya tetap terlihat tenang, Irgi yang mengawasinya dari kejauhan dapat merasakan ada sesuatu yang berbeda.

"Al, latihan lancar kan? Tapi, kamu kayaknya nggak seperti biasanya," kata Irgi saat ia mendekat.

"Lancar, nggak ada masalah," jawab Nawalia singkat sambil menyerahkan laporan teknis.

Namun, Irgi tidak menyerah.

"Bukan pesawatnya yang aku maksud. Kamu. Kamu kelihatan nggak fokus, seperti ada yang berat di pikiranmu." Nawalia menoleh sebentar, lalu tersenyum tipis.

"Aku baik-baik saja, Irgi. Mungkin cuma lelah. Jangan terlalu banyak tanya."

Irgi mengangkat bahu, merasa tidak akan mendapatkan jawaban lebih dari Nawalia.

"Baiklah, kalau begitu. Jangan lupa istirahat."

Di mess, Nawalia mencoba menenangkan pikirannya dengan memandangi langit malam dari balkon kamarnya. Hatinya terasa kosong, meski ia sudah mencapai banyak hal dalam kariernya. Namun, kenangan tentang Rangga masih sering menghantuinya, dan kini bayangan Azka mulai membuat pikirannya semakin rumit.

Fina, teman sekamarnya, mendekat sambil membawa secangkir teh hangat. "Nawa, kamu sering melamun belakangan ini. Ada apa sebenarnya?"

Nawalia menghela napas, lalu duduk di kursi balkon.

"Nggak ada apa-apa, Fin. Aku cuma... kadang terlalu banyak berpikir." Fina menatapnya dengan serius.

"Aku tahu kamu nggak gampang cerita, tapi aku ini temanmu. Kalau ada yang mengganggumu kamu bisa cerita ke aku"

Nawalia tersenyum kecil, tetapi tidak menjawab. Dalam hati, ia tahu Fina benar. Namun, mengungkapkan perasaannya bukanlah hal yang mudah bagi Nawalia.

Di sisi lain, di Mako Lanal, Azka juga masih memikirkan pertemuannya dengan Nawalia. Ia merasa ada sesuatu yang menarik dari wanita itu—sikap dinginnya justru membuatnya semakin penasaran.

Sambil menatap sebuah foto di mejanya—foto anggota timnya—Azka berbicara pada dirinya sendiri.

"Kenapa aku terus memikirkan dia? Padahal, aku bahkan belum tahu banyak tentangnya."

Azka kemudian mencari tahu tentang Letda Nawalia Alvaro melalui rekannya yang bertugas di Angkatan Udara. Informasi yang ia dapatkan membuatnya semakin kagum—seorang perwira penerbang muda yang berbakat dan tegas, tetapi memiliki kisah yang cukup berat di masa lalu.

"Dia bukan wanita biasa," gumam Azka.

Di tengah tugasnya yang padat, Azka bertekad untuk mengenal Nawalia lebih jauh. Ia ingin tahu lebih banyak tentang wanita yang telah mencuri perhatiannya, meski ia sadar bahwa mendekati seseorang seperti Nawalia tidak akan mudah.

Beberapa hari kemudian, Azka mendapat tugas dinas ke pangkalan udara tempat Nawalia bertugas. Kebetulan, tugas tersebut melibatkan koordinasi antara Angkatan Laut dan Angkatan Udara.

Ketika Azka tiba di pangkalan udara, ia melihat Nawalia sedang berbincang serius dengan salah satu teknisi. Meski ragu, ia memutuskan untuk mendekatinya.

"Letda Alvaro," sapa Azka dengan senyum tipis sambil memberikan hormat.

Nawalia menoleh, sedikit terkejut melihat pria itu di sana.

"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanyanya dengan nada formal.

"Saya ada tugas koordinasi di sini. Kebetulan sekali bertemu dengan Anda," jawab Azka dengan nada ramah.

Nawalia hanya mengangguk tanpa banyak berkata. Ia bukan tipe orang yang mudah merasa nyaman berbicara dengan orang baru, apalagi seseorang yang sepertinya memiliki ketertarikan padanya.

Namun, Azka tetap mencoba. Ia tahu, untuk mendekati Nawalia, ia harus bersabar dan menunjukkan ketulusan.

"Ini bukan hanya soal penasaran," pikir Azka.

"Aku ingin ada di sisinya, bahkan jika itu sulit."

Fly To EternityTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang