Pada pagi yang cerah itu, setelah sarapan bersama keluarga, Nawalia merasa sedikit lebih ringan. Meskipun pikiran tentang pengumuman PSDP TNI masih sering datang dan pergi, ia mencoba untuk menikmati hari itu. Tiba-tiba, ibunya, Aprilia, yang dikenal dengan semangatnya yang tinggi, memanggilnya.
"Al, ayo ikut giat persit hari in sama Ibu," kata Aprilia dengan senyum lebar.
"Kamu butuh melupakan sedikit kecemasan dan fokus pada hal lain. Ada pertandingan bola voli nanti, dan banyak teman-teman persit yang akan datang."
Nawalia agak terkejut, namun dia tahu ibunya hanya ingin menghiburnya.
"Giat persit? Di mana?"
"Di lapangan depan. Kami akan bertanding dengan tim dari beberapa daerah," jawab Aprilia.
"Ini kesempatan yang baik untuk bersosialisasi juga."
Meskipun Nawalia merasa sedikit ragu, ia akhirnya setuju.
"Iya bu, aku ikut."
Mereka berdua pergi menuju lapangan, dan di sana sudah banyak sekali orang yang hadir. Beberapa ibu-ibu dengan pakaian olahraga, anggota persit lainnya, sedang berlatih atau berbincang dengan semangat. Nawalia merasa sedikit canggung di tengah keramaian itu, namun ibunya segera memperkenalkannya pada beberapa teman dekatnya.
"Ini Nawalia, putri saya," kata Aprilia dengan bangga, memperkenalkan Nawalia pada ibu-ibu lainnya.
Nawalia disambut dengan hangat dan dia merasa lebih nyaman meskipun suasana pertandingan yang sudah hampir dimulai semakin memanas. Para pemain bola voli sudah berdiri di posisi mereka, siap untuk bertanding. Nawalia melihat ibu-ibunya yang sangat bersemangat dan penuh energi, membuatnya merasa sedikit terinspirasi.
"Ibu, tim persit memang sangat kompak ya," ujar Nawalia, sambil memperhatikan para pemain yang melakukan pemanasan.
Aprilia tersenyum.
"Kami sudah seperti keluarga di sini. Tim kami ini sudah saling kenal bertahun-tahun. Dan kalau kamu mau, kamu bisa ikut bermain sebentar nanti."
Mendengar tawaran itu, Nawalia merasa terkejut.
"Aku? Bermain bola voli?"
"Iya, coba saja. Ini akan membuatmu merasa lebih rileks. Anggap saja sebagai latihan untuk menjaga kebugaran," kata Aprilia dengan penuh semangat.
Nawalia merasa cemas, tetapi dengan melihat ekspresi penuh keyakinan di wajah ibunya, ia akhirnya setuju untuk ikut bermain. Mereka mulai bergabung dengan tim yang telah terbentuk, dan Nawalia dipasangkan dengan beberapa pemain berpengalaman. Meskipun awalnya sedikit kikuk, lama-kelamaan ia mulai menikmati permainan itu. Olahraga yang cepat dan penuh gerakan itu membuatnya merasa lebih bebas, seakan-akan semua kecemasan dan ketegangan dari pikiran tentang pengumuman PSDP TNI perlahan-lahan menghilang.
Di tengah permainan, Nawalia merasakan semangat dan kebersamaan yang luar biasa dari ibu-ibu yang ada di sekitarnya. Teriakan semangat mereka memberi dorongan tersendiri, dan Nawalia mulai merasa lebih percaya diri. Setiap kali bola voli terlempar ke udara, ia merasa seolah-olah itu adalah tantangan baru yang harus dihadapi dengan penuh keberanian—layaknya persiapan untuk menghadapi ujian seleksi nanti.
Saat pertandingan berakhir dengan kemenangan tim mereka, Nawalia merasa sangat puas. Ia duduk di tepi lapangan, bernafas lega, dan tersenyum lebar. Aprilia duduk di sampingnya, memeluk putrinya dengan bangga.
"Kamu hebat, Al! Lihat, kamu bisa bermain dengan baik," kata Aprilia.
Nawalia tertawa kecil.
"Terima kasih, Bu. Rasanya menyenangkan"
Aprilia memandang putrinya dengan penuh kasih.
"Lihat, olahraga ini bukan hanya untuk tubuh, tapi juga untuk pikiran. Kadang-kadang kita perlu melepaskan semua ketegangan untuk bisa lebih fokus pada apa yang penting."
Nawalia mengangguk, merasakan manfaat dari kegiatan itu. Meskipun pengumuman PSDP TNI masih akan datang, dia merasa sedikit lebih siap menghadapi segala kemungkinan. Di saat-saat seperti ini, dukungan dari keluarga dan teman-teman, serta semangat yang mereka bagi, membuatnya semakin yakin bahwa ia bisa menghadapi tantangan apa pun yang datang.
Setelah pertandingan selesai, suasana di lapangan terasa ceria dan penuh kegembiraan. Nawalia masih duduk di bangku, merenung sejenak tentang apa yang baru saja ia alami. Meskipun fisiknya merasa lelah setelah berlari mengejar bola voli, hatinya terasa lebih ringan dan pikirannya lebih jernih. Ia mulai menyadari bahwa terkadang, melupakan sejenak segala kekhawatiran dan berfokus pada hal-hal yang menyenangkan bisa memberi ruang bagi pikiran yang lebih positif.
Aprilia duduk di sebelahnya, mengusap rambut Nawalia dengan lembut.
"Ibu tahu ini bukan hal yang mudah bagi kamu, Al. Tapi percayalah, kadang kita perlu memberi sedikit ruang untuk diri sendiri, seperti yang kamu lakukan sekarang."
Nawalia menghela napas panjang, merasa lebih tenang dari sebelumnya.
"Aku memang takut, Bu. Takut kalau gagal di PSDP"
Aprilia menatap putrinya dengan lembut, penuh pengertian.
"Tidak ada yang salah dengan rasa takut, Al. Itu adalah hal yang wajar. Tapi yang lebih penting adalah bagaimana kamu menghadapinya. Kegagalan bukan akhir dari segalanya, dan keluarga kita selalu ada untuk mendukungmu, apa pun hasilnya."
Nawalia mengangguk, merasakan kehangatan dalam kata-kata ibunya. Ia tahu, meskipun ada banyak tekanan yang ia rasakan, ia tidak sendirian.
"Terima kasih, Bu"
Aprilia tersenyum, bangga pada keberanian dan keteguhan hati putrinya.
"Kamu lebih kuat dari yang kamu kira, Al. Kamu sudah menunjukkan itu hari ini, bukan hanya di lapangan, tapi juga dalam cara kamu mengatasi segala ketakutan dan kegelisahan."
Sore itu, Nawalia dan Aprilia pulang ke rumah bersama-sama. Meskipun masih ada ketidakpastian yang membayangi pikirannya, Nawalia merasa lebih siap untuk menghadapi apapun yang datang. Ia tahu bahwa apa pun hasil dari pengumuman PSDP TNI nanti, yang terpenting adalah keberaniannya untuk terus berjuang dan tidak pernah menyerah.
Sesampainya di rumah, Nawalia kembali merenung sejenak, menatap langit yang mulai gelap. Hatinya masih sedikit cemas, tapi ia tahu bahwa langkah selanjutnya adalah menerima apa pun yang akan terjadi dengan kepala tegak. Keluarga, teman-teman, dan dukungan dari orang-orang yang peduli padanya adalah kekuatan yang tak ternilai harganya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fly To Eternity
Literatura faktucinta, kehilangan, dan pengorbanan, meskipun hidup penuh dengan ujian dan penderitaan, jiwa seorang pahlawan tetap terbang menuju keabadian.
