Hari pemakaman Rangga tiba dengan suasana yang begitu sunyi. Langit mendung, seolah merasakan kesedihan yang mendalam, mencurahkan hujan sebagai bentuk penghormatan terakhir untuk seorang pahlawan. Nawalia berjalan perlahan menuju tempat pemakaman, merasa setiap langkahnya begitu berat. Jantungnya terasa sesak, dan pikirannya dipenuhi dengan perasaan bersalah yang tak bisa ia hilangkan.
Di sekelilingnya, orang-orang yang menghormati Rangga datang memberikan penghormatan terakhir. Namun, Nawalia hanya bisa terdiam, menatap jasad Rangga yang kini terbaring di dalam peti mati. Semua kenangan yang dulu ia abaikan, kata-kata yang tak sempat ia ungkapkan, kini terbayang jelas di pikirannya.
Saat peti Rangga diturunkan ke dalam liang kubur, air mata Nawalia semakin deras mengalir. Namun, ia merasa hatinya kosong. Ada sebuah kesadaran pahit yang menggerogoti dirinya, ia telah terlambat untuk menyadari betapa besar cintanya pada Rangga, dan betapa banyak waktu yang terbuang untuk sebuah perasaan yang kini tak bisa lagi ia sampaikan.
"Kenapa aku harus menyadari ini sekarang, Rangga?" Nawalia berbisik pada dirinya sendiri, merasa cemas, bersalah, dan bingung.
"Kenapa aku baru mengerti ketika kamu sudah tak ada?"
Ia memalingkan wajahnya, mencoba untuk mengontrol dirinya. Namun, meskipun ia berusaha keras menahan tangisnya, hatinya tetap hancur. Setelah peti diturunkan sepenuhnya dan tanah mulai menutupnya, Nawalia merasa dunia seakan runtuh. Perasaan kehilangan yang begitu dalam mulai menguasainya.
Sejak saat itu, sesuatu dalam diri Nawalia berubah. Dia merasa seperti sebuah bagian dari dirinya yang dulu penuh semangat kini telah mati bersama Rangga. Cinta yang seharusnya ia ungkapkan, kata-kata yang harusnya ia sampaikan, kini hanya tinggal kenangan yang terlambat. Nawalia menjadi lebih dingin, lebih tertutup, dan jauh lebih cuek dari sebelumnya.
Meskipun dia lolos seleksi PSDP TNI dan memulai pelatihan intensif, hatinya terasa kosong. Ia berusaha keras untuk tidak membiarkan perasaan itu mengganggu fokusnya, tetapi di setiap langkahnya, ada bayangan Rangga yang mengintip dari sudut pikirannya. Terkadang, saat ia berlatih, ia bisa merasakan seolah Rangga ada di sana, memberi semangat, meskipun itu hanya sebuah bayangan.
Di luar pelatihan yang keras, Nawalia tak lagi mengizinkan dirinya untuk merasa. Ia menjaga jarak dari orang-orang di sekitarnya, terutama dari mereka yang pernah dekat dengannya. Ia merasa bahwa dengan menjadi dingin, ia bisa melindungi dirinya sendiri dari rasa sakit yang terlalu dalam.
Namun, meskipun ia berusaha untuk terlihat kuat, di dalam hatinya Nawalia tahu bahwa ia masih belum bisa melupakan Rangga. Perasaan itu masih ada, meski ia berusaha menahan dan menutupinya dengan sikap dinginnya.
Hari-hari berlalu, dan Nawalia menjalani hidupnya dengan cara yang berbeda. Ia berusaha untuk menjadi lebih baik, untuk tidak terjatuh dalam penyesalan yang mendalam. Ia terus berlatih dengan tekun, berusaha memenuhi harapan ayahnya dan dirinya sendiri untuk menjadi bagian dari TNI. Namun, perasaan tentang Rangga tetap mengikutinya, seperti bayangan yang tak bisa ia hindari.
Rangga mungkin telah pergi, tetapi cinta yang ia bawa akan selalu menjadi bagian dari perjalanan hidup Nawalia. Meskipun terlambat, ia akhirnya belajar bahwa cinta itu bukan hanya tentang kata-kata yang diucapkan atau waktu yang dihabiskan bersama, tetapi tentang menghargai setiap momen yang ada, sebelum semuanya berakhir.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fly To Eternity
Non-Fictioncinta, kehilangan, dan pengorbanan, meskipun hidup penuh dengan ujian dan penderitaan, jiwa seorang pahlawan tetap terbang menuju keabadian.
