16

2K 96 0
                                        

Setelah mendapatkan informasi dari Rian, tim Kopassus segera bergerak. Rian memerintahkan anak buahnya untuk bekerja sama dengan Rangga dalam misi penyelamatan ini. Informasi terakhir menunjukkan bahwa mobil yang membawa Nawalia menuju arah ke luar kota.

Di markas, Rian memberikan pengarahan dengan tegas.

"Saya tidak peduli apa pun risikonya, anak saya harus ditemukan. Nawal adalah prioritas utama. Rangga, kamu yang bertanggung jawab penuh untuk misi ini."

Rangga berdiri tegap

"Siap! Saya akan membawa Nawal kembali."

Rangga segera menghubungi kontaknya di kepolisian dan mendapatkan rekaman CCTV dari toko buku dan jalanan sekitar. Setelah menganalisis rekaman, terlihat bahwa mobil yang membawa Nawalia berhenti di sebuah gudang tua di pinggiran kota. Rangga langsung melaporkan temuan ini kepada Rian.

gudang tua, Nawalia mulai sadar meskipun tubuhnya masih lemas. Ia melihat sekeliling, hanya untuk mendapati dirinya terikat di kursi dengan beberapa pria bersenjata mengawasinya. Salah satu dari mereka berbicara dengan nada tajam.

"Anak Latjen Rian, ya? Tenang saja, kami tidak akan menyakitimu. Tapi kami butuh ayahmu menuruti permintaan kami."

"Kalian pikir ayah saya akan tunduk? Kalian salah besar!" Ucap Nawalia berani meskipun takut

Salah satu pria tertawa kecil dan meninggalkannya sendirian di ruangan itu. Namun Nawalia mulai berpikir cepat, berusaha melepaskan ikatan di tangannya.

Sementara itu, Rangga bersama timnya sudah sampai di lokasi yang terdeteksi. Dengan senjata lengkap dan strategi matang, mereka memutuskan untuk menyerbu tempat itu dengan hati-hati. Rangga sendiri memimpin misi ini, memastikan tidak ada kesalahan yang terjadi.

"Kita harus bertindak cepat. Prioritas kita adalah menyelamatkan Nawalia tanpa cedera. Pastikan tidak ada yang lolos." Ucap rangga kepada Tim

Saat serbuan dimulai, baku tembak terjadi antara tim Rangga dan para penculik. Rangga dengan cekatan melumpuhkan beberapa musuh, terus maju menuju lokasi Nawalia.

Di dalam ruangan, Nawalia akhirnya berhasil melonggarkan ikatannya, namun salah satu penculik masuk sebelum ia sempat melarikan diri. Saat pria itu hendak menyerangnya, pintu tiba-tiba didobrak. Rangga muncul dan menembakkan peluru tepat ke arah pria itu, melumpuhkannya seketika.

Rangga berlari ke arah Nawalia

"Al, kamu baik-baik saja?" Nawalia terengah-engah

"Aku baik-baik saja... tapi kita harus keluar dari sini sekarang!"

Rangga membimbing Nawalia keluar sambil melindunginya. Setelah pertarungan yang intens, tim akhirnya berhasil menguasai situasi dan menangkap semua penculik. Nawalia selamat tanpa luka serius, meski masih terguncang oleh kejadian tersebut.

Di markas, Rian menunggu dengan penuh kecemasan. Saat melihat Nawalia keluar dari mobil militer dengan selamat, ia langsung memeluk putrinya erat-erat.

"Kamu nggak apa-apa, Nak? Ayah khawatir sekali..." ucap Rian dengan suara serak

"Aku baik-baik saja, Yah"

Rian menatap Rangga, yang berdiri tak jauh dari mereka, dengan penuh penghargaan.

"Terima kasih, Rangga. Kamu telah menyelamatkan anak saya." Rangga membungkuk hormat

Malam itu, Rangga berdiri di depan pintu rumah keluarga Alvaro dengan seragam rapi, wajahnya serius. Rangga mengetuk pintu rumah kediaman Alvaro. Dan tak lama kemudian lintu dibuka kan oleh Aprilia.

"Selama malam bu, Pak rian nya ada?"

"Ada, silahkan masuk. Bapak ada di ruangannya langsung saja kesana ya"

Fly To EternityTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang