Hari kelulusan tiba, suasana sekolah penuh dengan kebahagiaan bercampur haru. Semua siswa mengenakan seragam lengkap untuk terakhir kalinya. Aula sekolah sudah dihias dengan balon, pita, dan spanduk bertuliskan
"Congratulations, Graduates!". Para siswa, guru, dan orang tua berkumpul untuk menghadiri acara kelulusan.
Nawalia duduk di antara teman-temannya. Wajahnya penuh senyum, meskipun di dalam hati ia merasa sedikit sedih karena harus berpisah dengan orang-orang yang selama ini menjadi bagian penting dalam hidupnya.
"Hari ini adalah momen yang sangat spesial, momen di mana kita merayakan kerja keras dan perjuangan anak-anak kita. Kami ucapkan selamat kepada seluruh siswa yang telah menyelesaikan pendidikan di SMK ini."
Setelah itu, satu per satu nama siswa dipanggil untuk menerima sertifikat kelulusan. Ketika nama Nawalia disebut, tepuk tangan menggema di seluruh ruangan. Ia melangkah maju dengan percaya diri, menerima sertifikat dari kepala sekolah, dan membungkuk sopan.
Setelah acara resmi selesai, para siswa dan guru saling berpamitan. Banyak yang mengambil foto bersama untuk mengenang momen ini.
"Na, aku bakal kangen banget sama kamu." Gita memeluk Nawalia dengan mata berkaca-kaca
"Aku juga, ta. Tapi kita harus terus komunikasi ya. Jangan sampai lost contact." Nawalia tersenyum sambil menahan air mata
Irgi menyeletuk sambil tertawa
"Eh, santai aja. Aku bakal bikin grup chat buat kita semua. Jadi kalau kalian nggak balas, siap-siap kena omelanku."
Mereka tertawa bersama, meskipun hati mereka berat untuk berpisah.
Setelah semua selesai, Nawalia pulang ke rumah. Kedua orang tuanya, Rian dan Aprilia, sudah menunggunya dengan penuh kebanggaan.
"Selamat, Nak. Ayah bangga banget sama kamu." Ucap Rian tersenyum hangat
Aprilia memeluk Nawalia
"Kamu hebat, Al. Jangan pernah ragu untuk mengejar apa yang kamu inginkan di masa depan."
Nawalia tersenyum, merasa bersyukur memiliki keluarga dan teman-teman yang selalu mendukungnya. Ia tahu, perjalanan ke depan tidak akan mudah, tetapi dengan keyakinan dan kerja keras, ia siap menghadapi apa pun yang menantinya.
Malam itu, Nawalia merenung di kamarnya sambil melihat foto-foto kenangan bersama teman-temannya. Ia tahu, meskipun masa sekolahnya sudah berakhir, persahabatan dan pelajaran yang ia dapatkan akan selalu menjadi bagian berharga dalam hidupnya. Dengan senyuman kecil, ia menatap ke luar jendela, membayangkan masa depan yang cerah dan penuh harapan.
Suatu pagi, Nawalia mengumpulkan keberanian untuk berbicara dengan kedua orang tuanya, Rian dan Aprilia. Ia tahu keputusan ini akan membawa konsekuensi besar, tetapi ia merasa bahwa ini adalah langkah yang harus diambil. Setelah sarapan, ia mengangkat topik yang sudah lama ia pikirkan.
Ayah, Ibu, aku ingin bicara sesuatu."
Rian meletakkan cangkir kopinya
"Tentu, Nak. Ada apa?"
Nawalia menarik napas dalam-dalam
"Aku ingin mencoba ikut tes PSDP TNI"
Rian terdiam sejenak. Matanya menatap Nawalia dengan serius, seolah mencoba membaca tekad anaknya. Sementara itu, Aprilia menatapnya dengan raut wajah yang sulit ditebak.
"Al, kamu tahu kan, mengikuti PSDP bukanlah hal yang mudah? Banyak tes yang harus dilalui, baik fisik maupun mental." Nawalia mengangguk mantap
"Aku tahu, Bu. Dan aku siap untuk itu. Aku sudah memikirkannya matang-matang. Aku ingin memberikan yang terbaik, dan aku ingin kalian bangga."
Rian akhirnya tersenyum kecil, lalu menepuk bahu Nawalia.
"Ayah percaya sama kamu, Al. Kalau itu yang kamu inginkan, ayah akan mendukung. Tapi ingat, Jangan setengah-setengah."
Aprilia menghela napas, lalu tersenyum
"Kalau ayahmu setuju, ibu juga setuju. Kamu memang anak kami, Al. Kami tahu kamu bisa menghadapi tantangan."
Nawalia merasa lega mendengar dukungan dari kedua orang tuanya.
"Terima kasih, Ayah, Ibu. Aku nggak akan mengecewakan kalian."
Hari itu, Nawalia mulai mempersiapkan dirinya untuk mengikuti tes. Ia meningkatkan latihan fisiknya, membaca materi, dan bahkan meminta saran dari Raditya, kakaknya, yang lebih dulu merasakan pengalaman di dunia militer.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fly To Eternity
Non-Fictioncinta, kehilangan, dan pengorbanan, meskipun hidup penuh dengan ujian dan penderitaan, jiwa seorang pahlawan tetap terbang menuju keabadian.
