Galaksi menggelinjang kegelian ketika merasakan sesuatu mencolek pinggangnya. Ia menoleh ke samping, mendapati sahabatnya tengah menyengir ke arahnya.
"Fokus amat lo. Tumben," katanya.
Galaksi menopang kepalanya dengan kedua tangan, kesal. "Lo bener-bener nggak menghargai usaha gue buat rajin."
Galaksi kembali menatap ke papan tulis, berusaha fokus pada guru sejarah wajibnya yang sejak tadi menyebut-nyebut VOC, NICA, dan kata-kata legend lainnya, namun usahanya gagal.
Galaksi menatap Joni kesal. Sahabatnya itu begitu tau cara untuk membuatnya tambah bego.
Joni nyengir. "Ya maap. Abis gue bosen nggak ada teman ngobrol."
"Ya ngapain kek gitu. Lagian biasanya lo juga tidur. Asal jangan ganggu niat belajar gue deh."
"Lagi nggak ada stok mimpi."
"Tai."
"Kemaren lo kemana sama Bang Atha?" Joni mulai berbisik ketika gurunya melirik ke arah tenpat duduk mereka sekilas sebelum kembali bercerita.
Galaksi sedikit menunduk, menyembunyikan tubuhnya di balik punggung teman-temannya dari pandangan guru sejarahnya. Ia berbisik, "tau dari mana lo?"
"Diksa kancut."
Mulut Galaksi membulat. "Nonton."
Joni mengangguk mengerti. "Kemaren Kak Ara ke rumah Diksa. Mukanya sepet gitu. Abis war sama Bang Atha kali ya."
Galaksi mengangkat bahu. "Ntah. Bang Atha cuma bilang pacarnya nggak suka nonton horror."
Joni mengangguk lagi. "Berarti lo ban serapnya Bang Atha dong kekeke." Joni terkikik geli.
"Tai ah."
"Hoaam." Joni menguap lebar. "Gue ngantuk nih. Ada ide?"
Galaksi tersenyum. Ia menyentil dahi Joni. Sentilan itu menyakitkan sepertinya. Karena respon Joni sungguh luar biasa. Semua kepala menoleh ke arah mereka. Joni mengusap-usah dahinya yang memerah. Tidak masalah jika hanya teman-temannya saja yang menoleh. Yang jadi masalah adalah ketika guru sejarah mereka membuka buku absen dan menuliskan sesuatu di sana!
"Baik, Joni, silahkan ke depan."
Joni memasang tampang memelas. Mengumpati Galaksi di dalam hati. Ia bangkit dari tempat duduknya dan berdiri di hadapan teman-teman sekelasnya.
Guru sejarah mereka memperhatikan Joni. Ia berdehem. "Coba kamu jelaskan alasan kenapa NICA memboncengi sekutu saat datang ke Indonesia!"
Joni meringis. Mampus lo Jon! Pamor lo turun!
"Gimana? Nggak tau?"
Joni mengusap tengkuk. "Enggak, Pak. Hehe," ringisnya.
Guru sejarah mengangguk maklum. "Yaudah. Saya minta tolong tutup pintu aja."
Joni mengangguk lega.
"Dari luar."
Berapa tawa tertahan terdengar. Termasuk dari sudut belakang, dari tempat duduk Galaksi.
Joni mendengus.
"Galaksi juga. Silahkan keluar."
Joni tidak bisa menahan senyumnya. Dengan semangat, ia melangkah keluar kelas diikuti Galaksi dan menutup pintu, seperti yang diperintahkan. Mereka tergelak geli lalu melangkah ke kantin, seperti tidak menemukan tempat yang pas untuk nongkrong.
"Bisa nggak ide buat keluar kelas lo itu nggak usah pake menganiaya gue?"
Galaksi memutar bola mata. "Menganiaya lo itu masuk peringkat 3 teratas dari list things i have to do before graduate gue."
KAMU SEDANG MEMBACA
Boys' Day Out
Teen FictionBxB Nama gue Galaksi. Gue jago remedial. Ah, bukannya sok, tapi mungkin karena otak gue udah ketutupan minyak goreng karena keseringan makan bakwan.
