Pembagian kelompok pratikum biologi kelas Galaksi dibagi sesuai absen. Galaksi patut berterima kasih kepada neneknya yang memberikannya nama dengan inisial huruf G, sehingga hari ini ia bisa sekelompok dengan Genta. Galaksi mengarahkan pandangan ke tempat duduk Genta di barisan paling depan. Tidak terlihat tanda-tanda keberadaan cowok itu.
Mungkin dia ke toilet, pikir Galaksi.
"Duh!"
Galaksi menoleh ke samping. Teman sebangkunya itu sedari tadi bergerak tidak nyaman di tempat duduknya. "Kenapa sih? Kesel gue liat lo lama-lama."
"Kebelet."
"Yaudah sono."
...
Joni berlari tergesa masuk ke toilet hingga nyaris menabrak Genta yang baru saja keluar.
"Tunggu gue di luar!" teriak Joni. Genta terlihat enggan, namun buru-buru Joni menambahkan, "ini Galaksi." Mendengar nama itu disebut, Genta tidak bisa untuk menolak.
Joni menghela napas lega setelah mengeluarkan cairan di kantung kemihnya. Setelah mencuci tangan, ia keluar dari toilet sambil bersiul. Matanya menangkap Genta yang tengah menyandar di dinding, sedang menunggunya. Joni tersenyum miring lalu menghampiri Genta.
"Kenapa?" tanya Genta ketika Joni menghampirinya.
Joni terkekeh. "Nggak ada."
Genta menatap Joni tajam. Joni menelan ludah, merasa cukup mempermainkan pemuda di hadapannya ini. Maka dari itu, sebelum ia berubah menjadi potongan-potongan kecil akibat tatapan dari teman sekelasnya ini, Joni segera menyampaikan tujuan awalnya.
"Lo sekelompok sama Galaksi kan?" tanyanya.
"Hm." Respon dari Genta membuat Joni kecewa, walupun ia juga sudah menduga tidak akan mendapatkan respon yang berarti dari classmate nya itu.
"Gue tau lo seneng."
Genta spontan menoleh ke arah Joni. "Lo tau," lirihnya.
Rasanya Joni ingin memutar bola mata, seperti yang sering Galaksi lakukan. "Lo boleh ngeraguin kepintaran gue, tapi enggak dengan kepekaan gue." Joni nyengir. "Gue juga tau lo sering perhatiin dia diem-diem waktu di kelas."
Genta menarik tubuhnya dari dinding lalu menggerakkan kakinya menuju kelas. Joni mengikuti, menyajarkan langkahnya dengan Genta.
"Oh, waktu jam olahraga juga."
Joni menggigit bibirnya ketika tawanya nyaris tersembur. Ia merasa sangat terhibur. Apalagi melihat respon yang sangat jarang diperlihatkan oleh pemuda di sampingnya ini membuat Joni ingin tertawa keras. Muka temannya itu memerah hingga ke telinga. Joni mengulum senyum. Genta benar-benar out of character saat ini.
Genta mengumpat. Ia tidak tau harus merespon seperti apa setelah melihat ekspresi konyol yang ditampilkan Joni. Bahwa cowok itu terang-terangan menunjukkan rasa terhiburnya, membuat Genta ingin lenyap saja rasanya. Tertangkap saat sedang memperhatikan Galaksi membuatnya merasa bodoh. Dan cara Joni mengucapkanya, ugh, he sounds like a pervert boy.
Padahal kalau boleh jujur, Genta hanya tidak bisa menolak pemandangan itu. Yang selalu menjadi bayangan-bayangan yang muncul di pikirannya ketika ia akan tidur hingga memimpikannya. Pemandangan ketika seragam olahraga Galaksi basah oleh keringat dan cara pemuda itu mengelap peluhnya, ugh, bagaimana Genta mengatasi ini?
Mereka hampir sampai di pintu kelas. Joni menepuk bahu Genta serasa tersenyum kecil. "Gue kasih tau sesuatu, Galaksi itu kayak belut." Joni terkikik atas kalimatnya sendiri, kemudian melanjutkan, "kalau lo nggak tau triknya, belut lo bakalan terus lepas."
KAMU SEDANG MEMBACA
Boys' Day Out
Teen FictionBxB Nama gue Galaksi. Gue jago remedial. Ah, bukannya sok, tapi mungkin karena otak gue udah ketutupan minyak goreng karena keseringan makan bakwan.
