10. PERUBAHAN

3.4K 467 33
                                        

Ali mengetuk pelan pintu kamar Prilly. Semenjak tadi sore, Prilly tidak mau keluar kamar-- cowok itu sudah membawakan makanan namun Prilly tidak mau keluar kamar. Untuk kesekian kalinya, Ali mengetuk pintu kamar Prilly."Mbak Prilly.. keluar dulu mba, ini saya bawain makan. Makan dulu, nanti sakit."

"...."

Ali menghela nafasnya. Reimon juga berusaha membujuk putrinya untuk makan tadi, namun tidak ada jawaban. Baru saja Ali membalikkan badan-nya, Prilly membuka kan pintu untuknya. Gadis itu nampak kacau sekarang.

Rambut pendek miliknya yang biasanya rapi kini sudah acak-acakan. Matanya membengkak, Ali masih melihat jejak air mata di mata Prilly."Mbak Prilly.. makan dulu ya?"

Bukannya menerima piring yang di sodorkan Ali-- gadis itu malah membanting piring yang Ali bawakan. Bunyi piring pecah pun menggema di seluruh rumah. Prang! Ali terkaget."Kok di buang mba? Muba--

Prilly langsung memeluk Ali erat. Ali kaget bukan main. Prilly kembali menangis, entah-- baju nya sudah basah karena dua gadis-- kakak beradik pula."Ali.. Prilly sedih." Katanya lirih.

"Ada apa ini? Astaga. Kok piring-nya pecah?" Reimon datang dengan kaget-nya. Tadi ia mendengar suara benda pecah, buru-buru ia naik ke atas untuk memastikan apa yang terjadi.

Ali menatap Reimon merasa tidak enak,"Maaf Om. Tadi itu saya yang mecahin, gak sengaja Om." Prilly menatap Ali hendak protes-- tadi kan gadis ini yang memecahkan piring tersebut.

"Yaudah Li, gakpapa. Nanti Om bilangin bibi supaya bersihin ini." Reimon kemudian menatap putri-nya."Prill.." panggil Reimon lembut.

Prilly membuang muka-nya dan langsung masuk di dalam kamar-nya."ALI TEMENIN PRILLY!" Teriak gadis itu dari dalam kamar.

Reimon menghela nafasnya,"Li.. kamu temanin Prilly aja. Om gak tega lihat-nya," Reimon menatap Ali penuh harap.

Ali mengangguk,"Iya om." Cowok itu kemudian masuk ke dalam kamar Prilly. Reimon lagi lagi hanya bisa pasrah dengan sikap putri-nya itu.

Di dalam kamar, Ali tak melihat barang yang pecah. Hanya-- ada bekas air di atas tempat tidur. Mungkin karena air mata Prilly."Mbak Prilly.. mau saya ambilin makan?" Ali menawarkan.

Prilly menggeleng."Gak laper."

"Kalau mba Prilly gak makan, Mba Prilly bakalan lemah. Kalo lemah, gak bisa full balas dendam-nya," Ali nyengir saat Prilly menatapnya.

"Balas dendam?"

Ali mengangguk,"Mbak Prilly gak boleh nunjukin ke Nichol kalau mba Prilly lemah, nanti dia malah seneng. Yang harus mba Prilly lakuin sekarang adalah.. balas dendam atas perbuatan Nichol." Ali kemudian menyeringai.

"Maksud Ali balas dendam gimana?"

Ali berdecak,"Yagitu. Mba Prilly cuek aja sama dia, biar dia tau mba Prilly sama sekali gak patah hati." Ali menjelaskan.

"Tapi Prilly kan sakit hati."

"Mba Prilly boleh nangis, asal cuma di depan saya. Yang mba Prilly boleh umbar cuma senyuman. Kalo nangis, gak boleh."

Dahi Prilly berkerut,"Kenapa gak boleh?"

"Karena.. rahasia." Ali menjulurkan lidahnya sambil tertawa. Sedangkan Prilly memukul lengan Ali kuat dan merengek rengek kesal.

°°°°°

Aurora berusaha tersenyum di depan Prilly. Hari ini, ia yang memasak semua makanan. Semoga saja, Prilly bisa memaafkan kejadian kemarin."Papi, Prilly, Ali.. makan makanan buatan Aurora ya." Pinta gadis itu.

Black Love [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang