Aurora menyeret kopernya memasuki rumah. Siang ini ia sampai di rumah di sambut oleh Prilly dan Ali. Bukan Aurora yang di sambut, lebih tepatnya sang Papi."Papi.. Prilly kangen!" Pekik gadis itu lalu memeluk sang Papi erat.
Reimon membalas pelukan Prilly."Papi juga kangen. Papi bawain oleh oleh buat kamu, tapi nanti aja buka-nya. Soalnya, ada di paling bawah." Reimon berkata sambil menunjuk koper miliknya.
Prilly mengangguk antusias,"Makasih Papi.." pekik-nya girang. Pandangan nya beralih pada Aurora,"Aurora bawain Prilly apa?" Tagih gadis itu.
"Gak bawa apa-apa, males." Sahut-nya cuek kemudian berlalu dari hadapan Reimon, Prilly serta Ali. Mood-nya sedang berantakan melihat Ali.
Prilly mengerucutkan bibirnya sebal,"Dasar.." gumam-nya kesal."Kemarin Prilly main sepeda sama Ali loh Pi, keliling kompleks!" Cerita gadis itu antusias.
Ali terkekeh saja menanggapi nya. Ia tidak tau harus bicara apa sekarang."Om, ada yang perlu saya bantu?" Ali menawarkan diri. Barangkali Reimon ingin Ali membawakan sesuatu.
"Oh, Tidak usah Li. Om bisa bawa sendiri, Ceritanya di lanjut nanti malem aja ya sayang. Papi capek," keluh Reimon lalu mencubit pipi gembul Prilly.
Gadis itu mengerutkan bibirnya,"Papi mah gak asik. Yaudah deh," Prilly pura-pura ngambek di depan Reimon.
Reimon terkekeh,"Kalo kamu ngambek.. oleh-oleh nya Papi buang aja kali ya?" Suara Reimon sengaja ia besar kan.
"Jangaannnnn!"
Reimon dan Ali tertawa atas tingkah lucu Prilly. Lain hal-nya Aurora yang malah menutup telinganya saat mendegar gelak tawa dari ruang tamu. Ia sebal sekali, kenapa Ali bisa lebih akrab dengan Prilly dibanding dirinya.
"Cukup cukup, Prilly mau keluar sebentar sama Ali." Gadis itu meminta izin.
Mata Reimon menyipit,"Hayo pada mau kemana?" Goda sang Papi itu dengan nada candaan.
Prilly cengegesan,"Ada deh. Papi suka kepo ya, gak inget umur." Cibir Prilly. Sedangkan Reimon memasang wajah masam-nya akibat ledekan sang putri.
"Dasar kamu,"
Prilly tertawa,"Prilly pergi dulu Pi. Dadah!" Tangan-nya melambai. Ada ada saja putrinya ini, baru saja ia sampai di Indonesia malah sudah di tinggalkan.
°°°°°
"Kita mau ngapain kesini mbak?" Ali bertanya bingung. Mereka sudah sampai di sebuah restoran, bukan sembarang restoran-- ini restoran tempat nongkrong Nichol.
Prilly cengegesan,"Ini tempat nongkrong Nichol, Prilly mau ketemu Nichol. Ali mau ikut atau tunggu disini?"
"Saya tunggu disini saja, ndak enak ganggu." Ali tersenyum tipis. Prilly mengangguk paham lalu buru-buru masuk ke dalam restoran, benar saja. Ada Nichol sedang nongkrong bersama teman teman nya, beberapa Prilly mengenali nya.
Gadis itu mulai melangkah mendekati Nichol,"Hai semua." Sapa-nya menunjukkan senyum termanis miliknya.
"Wah Prilly!"
"Ngapain kesini Prill? Ngapelin Nichol ye?"
"Cantik ni cewek."
"Boleh kenalan gak?"
"Minta nomor WA dong cantik!"
Nichol berdecak malas,"Ngapain?"
Prilly menatap Nichol,"Nyariin Nichol."
KAMU SEDANG MEMBACA
Black Love [COMPLETED]
Fanfiction"Mbak Prilly ini.. cantik ya," Prilly menahan senyumnya yang ingin merekah,"Prilly emang cantik dari lahir." Ali mengangguk,"Hati saya senang kalau dekat sama Mbak Prilly." #862 in fanfiction 10/06/2019
![Black Love [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/187581778-64-k752031.jpg)