14

8K 809 146
                                        

Pagi ini, langit di luar jendela kamar rawat Yoongi tampak cerah, kontras dengan mendung di hatinya. Hari ini, adalah hari turnamen basket akan digelar dan harusnya ia ikut bahagia karena hari yang telah ditunggu oleh sang adik akhirnya tiba. Namun, terhitung sejak dua hari lalu, ia tidak bisa banyak bergerak.

Setelah minggu-minggu berlalu untuk evaluasi, kemoterapi regimen baru akhirnya dimulai. Sejak dua hari lalu, jarum infus menancap di pembuluh darahnya untuk mengirimkan racun baru yang menggerogoti tubuhnya, membuatnya kepayahan bahkan hanya untuk sekadar bicara.

"Hari ini, aku akan bermain dengan baik, Hyung," Jungkook berucap penuh semangat. Anak itu sengaja mampir ke rumah sakit terlebih dulu untuk menemui sang kakak sebelum berangkat ke universitas di mana turnamen akan dilaksanakan.

Yoongi terkekeh ringan. "Kau selalu bermain dengan baik," timpalnya. Sedetik setelahnya, tatapannya menyayu. Ia tersenyum kecut. "Aku ingin sekali menonton langsung, tapi ...," lirihnya, sengaja membiarkan kalimatnya menggantung di udara. Ia menghela napas berat dan memejam saat dadanya terasa sesak.

Ia ingin sekali melihat adiknya di lapangan. Ingin sekali menjadi orang pertama yang menyerukan nama Jungkook ketika adiknya menggiring bola dan bertepuk tangan hingga telapaknya memerah ketika Jungkook berhasil mencetak poin. 

Sayangnya, ia tidak bisa.

Mana mungkin bisa, jika bicara saja membuatnya sesak. Mana mungkin bisa, jika untuk tetap terjaga saja menjadi sesuatu yang melelahkan baginya. Mana mungkin ia bisa, jika tubuhnya seakan-akan melarangnya untuk bahagia.

Jungkook menatap kakaknya. Seolah tahu apa yang sedang dipikirkan Yoongi, ia menyungging senyum, mencoba mengusir kelabu di benak kakaknya.

"Jangan khawatir, Hyung." Tangannya merogoh tas, mengambil handycam yang telah ia siapkan sejak semalam. "Lihat aku sudah bawa ini! Aku akan merekam setiap detik turnamennya. Kujamin akan terasa seperti pertunjukan live saat ditonton nanti," lanjutnya dengan senyum lebar.

Kemudian, Jungkook menoleh ke arah Ayah yang duduk di sofa, "Ayah, Jungkook berangkat," pamitnya.

Ayah mengangguk kecil. Ada rasa bersalah dan sesal di mata pria itu saat berucap, "Maaf, Ayah tidak bisa datang."

Mendengar itu, Jungkook menghela napas jengah. Sejak semalam, bahkan sejak beberapa hari lalu, Ayah selalu mengulang permintaan maaf yang sama. Padahal, ia sudah berkali-kali mengatakan "bukan masalah". Lagipula, daripada presensi Ayah di tribun, Jungkook akan merasa jauh lebih tenang jika Ayah tetap berada di samping Yoongi untuk menemani kakaknya melewati hari yang sulit.

"Sudah berkali-kali kubilang, tidak apa-apa, Ayah," katanya. "Aku tidak masalah sama sekali." Ia memasukkan kembali handycam ke dalam tas dan menoleh pada Yoongi dengan sunggingan senyum.

"Hyung, tunggu rekamannya, ya. Nanti kita tonton bersama, oke?" ujarnya, sebelum berpamitan sekali lagi dan melangkahkan kaki keluar dari area rumah sakit.

***

Malam harinya–pukul tujuh–Jungkook melangkah cepat melewati lorong-lorong rumah sakit. Rambutnya masih setengah basah dan seragam basketnya telah berganti dengan kaos hitam polos–sebelum datang kemari, ia menyempatkan diri untuk mandi kilat di universitas tempat turnamen. Mana mungkin ia berani menemui kakaknya dengan membawa keringat dan kuman dari lapangan basket, 'kan?

Setelah turnamen selesai, Jungkook bergegas pergi ke rumah sakit. Ia bahkan menolak ajakan teman-temannya untuk makan; karena tidak ada yang lebih ia tunggu selain memperlihatkan rekaman pertandingan kepada kakaknya. Namun, ketika ia sampai di kamar rawat, yang menyambutnya justru kesunyian. Pandangnya jatuh pada ayah yang duduk di sofa, kemudian beralih pada sang kakak yang rupanya sudah terlelap.

The Last ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang