21

7.3K 777 167
                                        

Jungkook mengernyit ketika cahaya matahari yang menyelinap dari celah jendela menyorot wajahnya. Hangatnya sinar menembus kulit, menggelitiknya untuk bangun, akan tetapi kantuk masih menahan kelopak matanya untuk terpejam. Ia beringsut ke sisi kasur—berusaha menghindari sorot itu—hanya untuk disapu oleh cahaya yang lebih terang. Pada akhirnya, silau memaksa matanya terbuka sedikit demi sedikit.

"Pagi, Jungkook."

Butuh beberapa saat bagi Jungkook untuk menyadari bahwa suara itu datang dari sisi lain tempat tidur. Ia menoleh dan mendapati sang kakak yang sudah terjaga.

"Oh, Hyung." Ia menguap lebar. "Sudah lama bangun?" tanyanya.

Yoongi menggeleng singkat. "Baru saja."

Jungkook mengangguk. Kemudian, pandangnya terarah pada jam digital di atas nakas. Hampir setengah delapan. Anak itu meringis.

"Aku kesiangan," desisnya lalu cepat-cepat menyingkap selimut dan turun dari ranjang.

"Ayo turun, Hyung. Sarapan pasti sudah siap," ajaknya. Akan tetapi yang lebih tua tidak langsung menjawab. Butuh beberapa detik bagi sang kakak untuk memberinya jawaban berupa gelengan pelan.

"Duluan saja," katanya.

Yoongi menarik napas lalu mengembusnya kasar. "Sepertinya aku tidak bisa turun. Badanku rasanya sakit," ringisnya.

Alis Jungkook bertaut. Ia bergegas mendekat pada sang kakak.

"Sakit? Di mana?" tanyanya cepat.

Yoongi menghela napas panjang. " ... semuanya."

Lirihan itu cukup untuk mengenyahkan seluruh kantuk dari Jungkook dan menggantikannya dengan cemas yang merayap di dada. Anak itu menelan ludah berat.

"Kupanggilkan Ayah sebentar, ya?" ucapnya tergesa, lalu bergegas keluar kamar tanpa menunggu jawaban.

Tidak lama kemudian, Jungkook kembali bersama sang ayah di belakangnya. Janghyun melangkah cepat ke samping ranjang, menatap wajah pucat si sulung dengan sorot cemas.

"Gi, sakitnya di mana? Rasanya seperti apa?"

Yoongi menelan ludah. "Semuanya ... ngilu."

Jawaban itu membuat Janghyun terdiam lama. Butuh waktu sepanjang satu tarikan napas untuknya bisa berpikir dan memutuskan apa yang harus dilakukan, yang barangkali bisa mengurangi sakit putranya.

"Menurutmu, kuat untuk duduk? Agar bisa makan dan minum obat," ujarnya akhirnya.

Yoongi mengangguk. Ia menarik napas, lalu berusaha bangun. Namun, baru sedikit saja ia menggerakkan tubuh, rasa sakit itu seperti menjalar dari tulang ke seluruh sendi. Rasa sakit itu membuatnya terdiam, tidak lagi berani untuk menggerakkan tubuh.

"Aku ... tidak yakin bisa, Ayah. Sakit," lirihnya.

Kata-kata itu membuat Janghyun tertegun barang sesaat. Ada gurat tipis yang berubah pada air mukanya—mungkin karena cemas, panik, atau mungkin sedih—yang coba ia tekan agar tidak pecah di depan kedua putranya.

"Ayah bantu, ya ... perlahan saja," ucapnya lembut.

Kemudian, tangan Ayah menyelinap ke belakang punggung Yoongi, menopang tubuh itu dengan sangat hati-hati. Jungkook segera mendekat. Ia mengambil beberapa bantal dan menyelipkannya di belakang punggung sang kakak, menahan bagian bawahnya agar tidak menekan tulang belakang Yoongi terlalu keras.

Namun baru ketika tubuh Yoongi sedikit terangkat, suara ringis pelan langsung lolos dari bibirnya. Tubuhnya menegang, rahangnya mengeras, napasnya tercekat oleh rasa sakit yang menyambar seluruh tubuhnya.

The Last ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang