2

11K 1K 241
                                        

Namanya Min Yoongi. Remaja delapan belas tahun, siswa tingkat akhir sekolah menengah atas. Anak sulung keluarga Min.

Akan tetapi, sebutan "anak sulung" itu rasanya lebih seperti formalitas karena rasanya, sudah lama sekali sejak terakhir kali ada yang memperlakukannya seperti bagian dari keluarga.

Yoongi tinggal sendirian, di flat kecil yang sebenarnya masih atas nama ayahnya. Semua kebutuhan sehari-hari ia tanggung sendiri: dari makanan sampai pakaian. Hanya biaya sekolah yang masih ditanggung sang ayah, entah karena rasa kasihan atau sekadar menjaga citra di mata orang dan kolega bisnisnya.

Ia telah disingkirkan sejak usia lima belas tahun. Akan tetapi, retak hidupnya sudah dimulai sebelum itu.

Yoongi rasa keluarganya sempurna. Terlebih, ia punya Jungkook; adiknya yang lucu, yang selalu menempel padanya. Selalu ikut ke mana pun ia pergi, memanggil-manggil namanya, tertawa bersama, membuat rumah besar itu terasa hangat saat mereka berdua bermain di halamannya.

Akan tetapi, kini tidak ada lagi sapa, tidak ada lagi tawa yang dulu selalu datang bersama suara langkah kecilnya. Yang tersisa hanya diam, dingin, dan tajam. Tatapan mata penuh binarnya kini tidak lagi ramah dan jarak antara dirinya dan adik lucunya itu semakin melebar seiring waktu.

Kadang, mereka bertemu di sekolah. Seringkali, Jungkook akan berjalan begitu saja seolah tidak pernah mengenal. Akan tetapi, ada momen-momen seperti sebuah dorongan keras di koridor, atau bahunya yang disikut dengan sengaja. Kadang-kadang juga, tangan Jungkook melayang lebih jauh dari itu–

–dan saat hal seperti itu terjadi, ia hanya akan diam dan menunduk. Menelan rasa sakit yang didapat dalam diam, seolah-olah hal itu adalah upaya penebusan dosa-nya. Dosa yang bahkan tidak ia pahami sepenuhnya, selain bahwa itu ada dan bahwa ia harus menanggungnya.

Retak pada hidupnya mulai terpercik saat usianya tiga belas tahun, pada musim semi, di taman bermain.

Jungkook; adiknya itu suka petak umpet dan dia paling suka menang.

Itu kenapa hari itu, di taman bermain kecil dekat lingkungan rumah mereka, bocah sebelas tahun itu berucap lantang, "Pokoknya, kali ini akan kubuat Hyung kesulitan menemukanku!" sambil menunjuk hidung sendiri penuh percaya diri.

Yoongi mengangkat alis, ragu. "Jangan jauh-jauh, ya. Ingat, batasnya hanya sampai pagar taman," peringatnya.

Jungkook mengangguk. "Iya, iya. Hanya sampai pagar," timpalnya.

Tapi Yoongi kenal betul ekspresi dan binar licik di mata yang lebih muda itu. Kalau Jungkook bilang "cuma sampai pagar", bisa jadi dia sudah menyusun rencana untuk sembunyi di balik gerbang masuk taman bermain atau bahkan mobil di parkiran depan.

"Serius, Jungkook. Jangan keluar area taman. Kalau keluar—"

"Aku kalah, aku tahu!" Jungkook menyela, sambil tersenyum lebar–senyum lebar yang nakal–, lalu dia menepuk bahu Yoongi keras-keras dan berlari kencang.

"Aku sembunyi duluan!"

Yoongi menghela napas saat Jungkook sudah menghilang dari pandangannya. Lari adiknya itu cepat sekali.

Ia menghitung dengan suara keras di balik batang pohon besar.

Satu ... dua ... tiga ...

dan setelah hitungan ke sepuluh, Yoongi berbalik, mengedarkan pandangannya ke penjuru taman bermain, menebak-nebak di mana Jungkook bersembunyi.

Lima menit, sepuluh menit, dan Jungkook belum ditemukan walaupun Yoongi telah berkeliling taman.

The Last ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang