12

7.5K 814 171
                                        

Jungkook tidak bisa menahan senyumnya sepanjang perjalanan pulang sekolah. Mana mungkin bisa, setelah ia mendapatkan pesan singkat dari ayah yang berbunyi: Yoongi diperbolehkan pulang. Sekarang ada di rumah.

Pesan itu datang di sela-sela latihan basketnya, di saat ia sedang bersiap menghadapi turnamen kecil bulan depan. Matanya sempat terpaku pada layar ponsel, membaca pesan itu sekali, lalu dua kali lagi seolah memastikan bahwa pesan itu bukan halusinasi, sebelum akhirnya senyumnya melebar tak tertahankan.

Sepanjang perjalanan, rasa tidak sabarnya semakin menjadi-jadi. Berkali-kali ia meminta Paman Lee untuk berkendara lebih cepat yang hanya dibalas dengan anggukan dan kekehan kecil. Dan tepat setelah mobil berhenti di halaman rumah, Jungkook segera membuka pintu dan turun. Sama sekali tidak ingin membuang waktu barang sedetik-pun.

Begitu masuk ke rumah, langkah tergesanya secara otomatis sudah terprogram untuk lari menaiki tangga. Namun, langkahnya terhenti ketika suara ayah terdengar dari ruang tamu.

"Jungkook," panggil Ayah, "mau ke mana?"

"Ke kamar Yoongi Hyung," jawab Jungkook cepat. Ia sudah berada di pertengahan tangga.

Ayah menggeleng pelan, lalu tersenyum geli saat melihat penampilan bungsunya.

"Dengan pakaian seperti itu?" tanyanya.

Jungkook menunduk, mengecek penampilannya. Ia menatap seragam basketnya, menyadari seberapa kusut dan kotornya pakaian itu setelah latihan. Kemudian pandangnya jatuh pada sepatu basket yang masih melekat–lupa dilepasnya.

Ia meringis, malu.

"Mandi dan ganti baju dulu, ya," kata Ayah.

Jungkook mengangguk, lalu bergegas ke kamar mandi. Lima belas menit kemudian, ia keluar dengan pakaian yang lebih nyaman. Tanpa membuang waktu, ia langsung menuju kamar kakaknya. Tangannya memutar kenop dan dengan cepat ia membuka pintu

"Hyung!" serunya riang.

Yoongi, yang sedang bersandar di bantal, melirik adiknya. "Kau sudah pulang," sapanya.

Jungkook membalas sapaan itu dengan anggukan ringan lalu melenggang masuk. Ia berjalan ke kursi meja belajar, duduk di sana, lalu mengamati ruangan itu dengan mata berbinar.

"Wah ... Hyung, kamarmu bersih sekali," kagumnya. Ia menyentuh permukaan meja dengan jari telunjuknya. "Tidak ada sebutir debu pun. Aku yakin orang yang membersihkan kamar ini pantas mendapatkan medali," katanya dengan tampang sombong.

Melihat kelakuan sang adik, Yoongi hanya mendengus pelan. Tahu sekali kalau Jungkook sedang menyombongkan diri dan minta dipuji.

"Iya," jawabnya, "Ayah yang membersihkan, 'kan?" lanjutnya yang berhasil membuat rencana Jungkook untuk menyombongkan diri gagal total. Raut pongah di wajahnya hilang seketika. Digantikan dengan kerutan tidak setuju.

"Hm ... oke. Memang Ayah yang membersihkan. Tapi aku juga ikut bantu, lho," anak itu membela diri.

"Aku yang mengatur buku-buku Hyung, dan juga mengelap meja belajar, lalu memasang seprai baru, dan bantu menyapu juga!" katanya.

Yoongi hanya mengangguk seadanya. "Hm. Bagus," pujinya singkat, nada suaranya datar dan tatapannya seolah berkata "terserahmu."

Reaksi itu membuat Jungkook menghela napas panjang, lalu mengerucutkan bibirnya dengan wajah kesal. "Ya ampun, Hyung payah sekali kalau soal memuji," protesnya.

Yoongi hanya tertawa kecil. Jungkook yang sedang kesal itu lucu sekali baginya.

Ia menepuk kasur di sampingnya. "Sini," ucapnya. Meminta Jungkook untuk duduk di dekatnya, dan tidak perlu waktu lama bagi anak itu untuk naik ke kasur, duduk bersila di sampingnya.

The Last ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang