Waktu selalu cepat berlalu, dan tanpa terasa udara dingin November mulai mengetuk pintu. Musim dingin tahun ini datang dengan cara yang kejam bagi Yoongi. Udara kering yang berembus membuatnya lebih sering bergelung di tempat tidur, dan rendahnya suhu membuatnya harus bercengkerama dengan demam dan sesak yang lama hilang.
Sejak semalam, memang Yoongi merasa demam; tubuhnya terasa hangat dan lebih lemas daripada biasanya. Awalnya, ia beranggapan demam ringan itu akan hilang pagi hari, setelah ia tidur. Nyatanya tidak juga, karena sampai siang hari ini kepalanya justru terasa semakin berat dan pusing. Membuatnya hanya bisa duduk di sofa ruang tengah sembari memijit pelipis berulang kali—merasa tidak sanggup melangkah menuju kamarnya.
"Yoongi."
Panggilan pelan membuatnya menolehkan kepala, menatap Ayah yang datang dengan secangkir cokelat hangat di tangannya.
"Sarapan tadi kau hampir tidak makan. Jadi, coba minum ini. Setidaknya kau butuh gula."
Cangkir itu diulurkan dan Yoongi menerimanya dengan tangan yang gemetar samar. Ia meneguk beberapa kali, lalu meletakkan cangkir yang berkurang sepertiganya pada meja di sisi sofa.
Janghyun memperhatikan wajah pucat itu sejenak, lalu akhirnya menurunkan tubuh dan duduk di samping putranya.
"Lemas sekali?" tanyanya yang dibalas gelengan pelan.
"Hanya sedikit pusing," jawab Yoongi. Berbohong, tentu saja.
Jawaban itu membuat Janghyun menghela napas panjang. Tentu saja ia tidak bisa langsung mempercayai kata-kata itu setelah melihat bagaimana Yoongi memijit pelipis dan bagaimana tangannya gemetar saat menerima cangkir. Akan tetapi pria itu memilih diam. Hanya saja, tangannya bergerak perlahan, meraih bahu putranya dan menarik tubuh lemas itu agar bersandar padanya.
"Ayah—"
"Diam dulu, Gi. Sandar pada Ayah sebentar," potongnya. Tangannya terangkat ke kepala Yoongi, memijit ringan. Pria itu berharap apa yang dilakukannya bisa sedikit meringankan sakit sang putra.
Sementara itu, Yoongi yang sempat menahan diri akhirnya membiarkan kepalanya jatuh di bahu ayahnya. Pijitan lembut di kepala membuat tubuhnya menegang sesaat. Rasanya aneh, asing, sekaligus hangat dan nyaman sekali. Hingga pada akhirnya, anak itu sepenuhnya menyandarkan diri pada sang Ayah. Memejamkan mata, menyerah pada kantuk yang datang perlahan.
***
Siang harinya, pintu rumah terbuka disusul helaan napas kasar. Jungkook, anak itu masuk dengan wajah tertekuk. Ia melepas sepatu dengan wajah bersungut-sungut, sementara bibirnya sibuk menggerutu tentang betapa sulitnya soal ujian hari ini.
"Soal terakhir tadi pasti jebakan. Aku yakin semua orang salah," dengusnya kesal. Kemudian, melangkah menuju tangga dengan tumit yang dihentak-hentakkan. Cukup sudah berpikir tentang ujian hari ini. Sekarang, Jungkook hanya ingin masuk ke kamar dan segera merebahkan diri di kasur. Ingin segera mengistirahatkan kepala yang panas dengan tidur singkat.
Akan tetapi, langkahnya berhenti ketika ia sampai di ruang tengah. Pandangnya jatuh pada Ayah yang duduk di sofa dengan Yoongi yang bersandar di bahunya, tampak terlelap. Jungkook mengernyitkan alis. Langkah yang tadinya hendak membawanya ke tangga perlahan berubah arah, membawanya mendekat ke ruang tengah.
"Yoongi Hyung kenapa?" tanyanya pada Ayah. Ada rasa cemas melihat pucat di wajah Yoongi dan bagaimana kakaknya terlelap di bahu Ayah.
"Tidak apa-apa, kelelahan saja," jawab Ayah. Suaranya rendah, tidak ingin membangunkan si sulung yang masih lelap tertidur.
Jungkook menghela napas lega. Ia memandang lama pada sang kakak yang tidur bersandar dan semakin lama dipandangi, entah kenapa Jungkook merasa pemandangan di depannya ini lucu sekali.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Last ✔
FanfictionDisclaimer: fanfiction | angst - Completed Yoongi kehilangan rumah serta hangatnya keluarga dan saat mereka akhirnya memeluknya kembali, ia justru sedang bersiap untuk mengucapkan selamat tinggal. [24-06-19]-[28-10-19] Revised.
