Matahari berada sejengkal di atas cakrawala ketika suara jejak kaki dan tawa yang riuh mulai terdengar dari kejauhan. Janghyun menoleh, menatap sekitar dan menyadari bahwa pantai sudah mulai ramai. Setelahnya, pandang pria itu kembali tertuju pada si sulung yang duduk tenang di atas alas, masih asyik memandangi hamparan laut.
"Kita pulang, ya," bisiknya. "Sudah mulai ramai orang. Kita tidak bisa lama-lama di sini," pria itu melanjutkan.
Ucapan sang ayah membuat Yoongi mengalihkan pandang dari laut. Tatapannya menelisik pantai yang mulai ramai. Anak itu terdiam sesaat, lantas mengangguk patuh, meski ada sedikit rasa tidak rela. Mereka belum lama berada di sini dan sebenarnya ia masih ingin berlama-lama, setidaknya sampai langit berubah biru sepenuhnya. Akan tetapi, Yoongi tahu betul bahwa tubuhnya yang rapuh—meski sudah dibungkus jaket tebal dan masker—tidak akan mampu menanggung konsekuensi dari keramaian. Terlalu berbahaya bagi dirinya yang mudah terinfeksi.
Janghyun tersenyum tipis, lalu mengangkat tangan, melambai pada si bungsu di tepian pantai, memintanya mendekat.
"Ada apa, Ayah?"
"Sudah waktunya pulang."
Jungkook menoleh ke sekeliling. "Ah, benar," katanya saat melihat beberapa orang mulai berdatangan. Ia segera membantu ayah menggulung tikar dan membereskan rantang. Kemudian mendekat pada sang kakak.
"Ayah meminta kita masuk mobil lebih dulu, Hyung," ucapnya yang dibalas dengan anggukan. Setelahnya, keduanya berjalan menuju mobil yang memang sengaja tidak diparkir jauh.
***
Suara ombak masih menggema samar ketika ketiganya beranjak dari pantai. Di bangku belakang, Jungkook sibuk menggulir layar ponsel, melihat foto-foto yang diambilnya beberapa saat lalu.
"Kita dapat banyak foto bagus," gumamnya puas. Kemudian ia menggulir lagi pada satu foto yang menerbitkan sunggingan senyum pada wajahnya.
"Foto yang ini lucu sekali," anak itu berucap, sembari menyodorkan layar kepada sang kakak.
Yoongi menatapnya sekilas. Mendengus saat menyadari objek dalam foto itu adalah dirinya dengan pipi menggembung penuh makanan dan ekspresi setengah terkejut seperti tertangkap basah di tengah suapan.
"Hapus," desaknya yang dibalas tawa dan gelengan kepala.
"Tidak mau," sahut yang lebih muda. Ditatapnya wajah masam sang kakak. "Sayang kalau dihapus. Kapan lagi, 'kan, aku bisa dapat foto Hyungie yang lucu seperti ini," lanjutnya diakhiri tawa gemas.
Tidak mau memperpanjang urusan, Yoongi hanya berdecak kecil lalu mengalihkan pandangnya ke luar jendela, menatap pantai yang semakin terlihat jauh. Keluar dari area pantai mobil mulai melaju lebih cepat dan pemandangan laut digantikan oleh deretan pohon yang bergoyang tertiup angin.
Sejenak, perjalanan diisi oleh hening. Jungkook masih sibuk dengan ponselnya dan Ayah fokus pada jalanan. Sementara Yoongi terdiam di kursinya. Anak itu menunduk sembari meremas ujung jaket, seolah menimbang sesuatu. Butuh beberapa detik sebelum ia akhirnya bersuara, pelan.
" ... Ayah, boleh kita mampir dulu?"
Jungkook yang pertama menoleh. Ia baru saja ingin menyahut, tetapi Ayah lebih dulu berucap, "Ke mana?"
"Ke makam Ibu." Yoongi menunduk, jemarinya saling menggenggam di pangkuan. "Aku ... sudah lama tidak datang ke sana," lanjutnya.
Mendengar itu, Jungkook terdiam lama. Dia sedikit sangsi pada permintaan sang kakak. "Hyung ... memang Hyung tidak lelah?" tanyanya. "Kita pergi lain kali saja, ya? Hari ini kita pulang dulu agar bisa istirahat," ia melanjutkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Last ✔
FanfictionDisclaimer: fanfiction | angst - Completed Yoongi kehilangan rumah serta hangatnya keluarga dan saat mereka akhirnya memeluknya kembali, ia justru sedang bersiap untuk mengucapkan selamat tinggal. [24-06-19]-[28-10-19] Revised.
