Setelah Seokjin keluar, ruangan diskusi medis itu kembali sunyi.
Jungkook menarik napas dalam lalu mengembuskannya perlahan. Ia merasa sesak di dadanya tidak lagi bisa disimpan, terutama setelah semua yang ia dengar, yang berhasil membuat rasa bersalahnya puluhan kali lebih berat.
"Yoongi Hyung sakit–" katanya. "–dan dia sendirian selama ini."
"Aku pikir dia jahat, karena membenciku," lanjutnya, suaranya lebih pelan, lebih dalam. Ia tertawa: tawa yang terdengar sumbang dan getir. "Tapi ternyata aku tidak tahu apa-apa. Justru ... akulah yang jahat. Aku yang membencinya."
Ia mengangkat kepala. Menatap ayahnya, yang masih duduk dalam posisi yang sama. Diam, tapi tidak terlihat tenang.
"Ayah," panggilnya. "Kecelakaan itu ... mungkin saja bukan salah Yoongi Hyung, 'kan?"
Jungkook menunduk dalam. Ia merasa sesak naik ke tenggorokannya, bersamaan dengan pandangannya yang mulai buram karena air mata.
"Waktu itu ... mungkin saja aku yang salah," lirihnya. "Mungkin saja Yoongi Hyung sudah memperingati, tapi aku tetap lari ke jalan. Mungkin saja begitu, 'kan, Ayah?"
Jungkook diam sejenak. Ia berharap mendengar sesuatu; entah itu jawaban singkat atau anggukan kecil. Akan tetapi yang ia temukan hanyalah sosok yang bungkam. Ayah bahkan tidak menoleh pada panggilannya. Pria paruh baya itu, barangkali sedang bergelut dengan pikirannya sendiri: dengan ingatan yang mungkin ingin ia tolak atau dengan ketakutan yang familiar.
"Tapi Ayah bilang semua itu salahnya," Jungkook mendesis tajam. "Dan sialnya, aku percaya begitu saja."
Min Janghyun menunduk. Rahangnya mengeras, dan untuk sesaat, lelaki itu merasa napasnya terasa lebih berat. Dalam diamnya, pria itu diseret kembali pada ingatan lama di hari kecelakaan, ketika Yoongi, dengan suara yang bergetar mencoba menjelaskan. Tapi Janghyun tak memberi ruang. Tidak ada tanya atau niat untuk mendengar–hanya tuduhan dingin dan keputusan sepihak. Ia terlalu marah saat itu, terlalu ingin menyalahkan seseorang agar tak perlu berhadapan dengan kepedihannya sendiri.
Jungkook menggigit bibirnya kuat. "Hyungie ... mungkin dia pikir tidak ada gunanya bilang kalau dia sakit," lanjutnya, lirih. "Karena dia merasa tidak akan ada yang peduli–"
"–dan sekarang ...," lanjutnya pelan, nyaris tidak terdengar. "Sekarang aku tidak tahu... bagaimana cara menebus semua itu."
Jungkook menatap Ayah lekat-lekat. Kali ini, ia melihat untuk pertama kalinya wajah yang selama ini selalu terlihat keras dan dingin tampak kosong. Terlihat seperti seseorang yang sudah kehilangan terlalu banyak dan tidak tahu bagaimana caranya menyikapi rasa bersalah. Jungkook memang tidak mendengar kata apa pun dari Ayah, tetapi dari cara bahunya yang turun, rahangnya yang mengeras, dan cengkeraman tangan pada lutut, ia mengerti bahwa Ayah juga hancur. Sama seperti dirinya. Hanya saja, Ayah tidak tahu dan tidak bisa menunjukkan semua itu.
Dan entah mengapa, itu justru membuat semuanya terlihat menyedihkan.
***
Pagi itu, cahaya putih yang lembut menyusup lewat celah kelopak matanya. Samar. Tidak terlalu menyilaukan, tapi cukup untuk membuat Yoongi mengerjap pelan. Kelopak matanya terasa berat, pandangannya kabur sesaat–sekilas putih, lalu warna-warna samar, dan akhirnya, bentuk-bentuk yang mulai dikenali.
Langit-langit dan bau yang khas ini ... ah, rumah sakit, pikirnya.
Suara kursi digeser terdengar di dekatnya. Bunyinya pelan, seolah-olah seseorang berusaha agar tidak berisik. Yoongi menoleh perlahan ke arah sumber suara dan mendapati Jungkook di sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Last ✔
FanfictionDisclaimer: fanfiction | angst - Completed Yoongi kehilangan rumah serta hangatnya keluarga dan saat mereka akhirnya memeluknya kembali, ia justru sedang bersiap untuk mengucapkan selamat tinggal. [24-06-19]-[28-10-19] Revised.
