Hari-hari masa pemulihan berlalu dengan cepat dan tanpa sadar, dua minggu telah terlewat. Bagi Yoongi, waktu dua minggu itu terasa seperti tarikan napas dalam yang menenangkan. Rasanya seperti ia bisa mengesampingkan rasa sakit dan menghabiskan hari-harinya dengan hal-hal kecil yang dulu ia rindukan–menonton film bersama Jungkook; bermain video game hingga tertawa terbahak; membaca komik; atau duduk di halaman belakang, merasakan hangatnya sinar matahari menyapa wajahnya–
–dan semua itu membuatnya hampir lupa bahwa masa singkat itu hanyalah jeda sebelum ia harus kembali ke medan perang. Ia hampir lupa bahwa dua minggu itu akan berakhir dan ia harus kembali ke rumah sakit, di mana ada jarum infus yang telah menunggu untuk mengirimkan racun lewat pembuluh darahnya, yang akan menggerogoti tubuhnya selama berminggu-minggu ke depan.
Seokjin bilang, kemoterapi kali ini akan lebih berat dan melelahkan. Kemudian, obat disuntikkan, dan mau tidak mau, Yoongi harus kembali ke hari-hari yang diisi ngilu, lemas, dan mual. Kemoterapi kali ini menghantam tubuhnya lebih keras. Efek obatnya lebih menyiksa, entah karena dosisnya ditingkatkan, atau karena tubuhnya yang memang sudah rapuh.
Ia menatap langit-langit yang putih bersih kamar rawat dan menghela napas berat. Nyatanya, hanya butuh satu kedipan mata untuk membuatnya kembali merasakan asing–seakan dua minggu di rumah hanyalah mimpi singkat yang kini sudah selesai.
***
Di malam kelima, Yoongi sama sekali tidak bisa tidur. Ia lelah dan matanya sudah berat karena kantuk, tapi setiap kali memejamkan mata, rasa sakit itu–panas dingin yang datang bergelombang, nyeri di sendi, perut yang mual, dan kepala yang berputar–seolah menolak memberinya kesempatan untuk beristirahat. Ia membalikkan badan berkali-kali, mencoba mencari posisi paling nyaman, tapi tidak ada yang benar-benar bisa membuatnya lelap.
Semalaman juga Janghyun terjaga. Duduk di kursi dekat ranjang–tidak ingin terlalu jauh–berjaga-jaga kalau putranya butuh sesuatu. Beberapa kali ia mencondongkan tubuh saat Yoongi tampak gelisah, lalu bertanya pelan, "Perlu sesuatu?" yang selalu dibalas dengan gelengan pelan.
Dan setiap kali mendengar penolakan itu, ada sesuatu di dada Janghyun yang terasa perih, karena ia tahu bahwa tidak ada hal yang benar-benar bisa ia lakukan untuk meringankan sakit yang dirasa putranya.
Jam demi jam berlalu dengan lambat, seolah jarum jam sengaja berjalan lebih pelan malam itu. Baru di pagi hari, saat cahaya matahari mulai menyelinap lewat celah jendela, rasa sakit itu mereda, berbaik hati memberi Yoongi kesempatan untuk bisa terlelap.
Saat Yoongi sudah benar-benar tertidur, Janghyun akhirnya bisa melemaskan punggungnya yang tegang. Ia menghela napas panjang, membiarkan tubuhnya bersandar, dan menutup mata–mencoba tidur. Namun, belum genap tiga puluh menit ia masuk ke alam mimpi, suara pintu yang terbuka pelan membuatnya kembali terbangun. Ia mendongak, mengernyit samar saat melihat Seokjin berdiri di ambang pintu.
"Tuan Min, bisa ikut saya sebentar?" Seokjin berucap. Suaranya mengecil di akhir saat mendapati Yoongi yang tertidur.
Janghyun mengangguk, mengiyakan dengan cepat. Ia menegakkan punggungnya terasa kaku, menyingkirkan kantuk dengan satu tarikan napas pendek, dan bangkit, mengikuti Seokjin keluar dari kamar rawat.
***
Ruangan ini tidak lebih besar dari ruang tamu rumahnya. Namun, rasanya seolah ada tekanan tak kasat mata yang membuat Janghyun merasa kecil tiap kali ia masuk. Dulu maupun sekarang, tekanan di ruangan ini selalu bisa mendominasinya.
Ditatapnya Seokjin dan map cokelat di atas meja bergantian. Sorot mata dokter muda itu serius, dan bagi Janghyun itu adalah sinyal yang cukup untuk memberitahu bahwa ada hal yang didengarnya nanti adalah sesuatu yang buruk.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Last ✔
FanficDisclaimer: fanfiction | angst - Completed Yoongi kehilangan rumah serta hangatnya keluarga dan saat mereka akhirnya memeluknya kembali, ia justru sedang bersiap untuk mengucapkan selamat tinggal. [24-06-19]-[28-10-19] Revised.
