Setelah makan malam usai, ada perasaan tidak tenang yang hinggap di pikiran Seokjin. Lelaki itu melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Jam setengah sepuluh: terlalu larut untuk sebuah kunjungan. Namun, Seokjin merasa tidak bisa membiarkan rasa cemasnya tumbuh dalam diam. Ia bisa saja menunggu besok pagi atau menelepon dulu. Akan tetapi, cemas dan khawatir dalam pikirannya terlalu kuat untuk diabaikan begitu saja.
Khawatir itulah yang membawanya ke gedung ini. Di tangannya, tergantung kantong kertas berisi obat pereda mual dan dua botol minuman isotonik. Seokjin berdiri di depan pintu flat tempat Yoongi tinggal, menarik napas dalam, dan mengetuk.
Ketukan pelan terdengar sekali. Lalu hening dan Seokjin menunggu.
Tidak lama kemudian, terdengar bunyi 'klik' dari dalam dan pintu terbuka perlahan. Di baliknya berdiri Yoongi dengan rambut acak-acakan dan wajah yang tidak jauh pucatnya dari beberapa jam lalu.
Saat melihat siapa yang berdiri di depan, anak itu berkedip beberapa kali. Kebingungan.
"Hyung ...?"
"Sudah tidur tadi?" tanya Seokjin.
Yoongi menggeleng pelan. "Belum bisa."
Seokjin mengangguk. "Masih mual, ya?" tanyanya yang dibalas anggukan, "Demamnya, sudah lebih baik?"
"Sudah turun. Sudah minum obat tadi," jawab Yoongi yang membuat Seokjin mengangguk kecil, merasa sedikit lebih tenang.
"Kalau begitu, semoga aku tidak mengganggu." Seokjin mengangkat kantong kertasnya. "Aku bawa sesuatu." Ia mengulurkan kantong itu, dan Yoongi menerimanya meski wajahnya sedikit bingung.
"Obat pereda mual dan minuman isotonik," jelas Seokjin, "kubawakan karena kau lemas sekali tadi."
"Terima kasih."
Seokjin tersenyum. "Apa ... aku boleh masuk?"
Yoongi membuka pintu lebih lebar dan mengangguk. Ia pergi ke ruang makan dan duduk pada salah satu kursi, membiarkan Seokjin menutup pintu. Yoongi mengambil segelas air, untuk membantunya menelan tablet pereda mual. Wajahnya mengernyit.
"Pahit," gumamnya.
Seokjin yang duduk di hadapannya terkekeh pelan. Ia menatap anak yang kini menenggak minuman isotonik–berusaha menghilangkan pahit di pangkal lidah.
Sejujurnya, ada yang mengganjal dalam pikiran Seokjin. Soal makan malam tadi, soal ayahnya, soal adik serta soal tatapan penuh benci yang dilayangkannya pada Yoongi. Beberapa saat berlalu begitu saja. Sampai akhirnya, dengan hati-hati, Seokjin bertanya,
"Yoongi ... kau tidak pernah cerita ke siapa pun soal kondisimu?"
Yoongi diam. Pertanyaan itu membangunkan luka lama yang ia coba kubur dalam-dalam.
Ia menatap Seokjin dengan dahi mengernyit. "Untuk apa?" Suaranya lebih tajam dari yang ia inginkan.
Agar mereka mengasihaniku?
Atau agar mereka punya alasan lain untuk membenci dan mengasingkanku?
"Mungkin ... supaya kau tidak sendirian."
Yoongi terdiam.
Itu bukan jawaban yang ia harapkan.
Yoongi sudah bersiap dengan segala bentuk tudingan, atau setidaknya, sorot mata kasihan yang menggelikan. Ia pikir Seokjin akan menyuruhnya berhenti menyembunyikan diri, atau mengasihani dirinya. Namun, yang ia dengar justru sebaliknya dan itu berhasil membuatnya bungkam.
Ada bagian dalam dirinya yang langsung menolak percaya. Akan tetapi, bagian lain yang lebih rapuh dan lelah hanya bisa diam. Karena untuk pertama kalinya, respons yang ia terima bukanlah ungkapan yang menyalahkannya, menyudutkannya, dan bukan pula mengasihani.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Last ✔
FanfictionDisclaimer: fanfiction | angst - Completed Yoongi kehilangan rumah serta hangatnya keluarga dan saat mereka akhirnya memeluknya kembali, ia justru sedang bersiap untuk mengucapkan selamat tinggal. [24-06-19]-[28-10-19] Revised.
