Jam dinding menunjukkan hampir setengah tujuh malam ketika ketukan terdengar dari arah pintu. Ketukan singkat yang terdengar jelas dalam keheningan flat kecil itu. Yoongi membuka matanya pelan. Pikirannya langsung tertuju pada satu nama: Seokjin.
Mungkin saja, dokter muda itu datang untuk sekadar berkunjung seperti biasa, pikirnya.
Tubuhnya masih terasa panas–sisa demam sejak pagi tadi yang belum sepenuhnya reda. Kepalanya sedikit pening, jadi ia duduk sejenak di tepi ranjang untuk menunggu sensasi berputar itu memudar. Setelahnya, perlahan-lahan, ia bangkit dan berjalan keluar kamar, menuju pintu.
Baru saja ia membuka kunci pintu dan menarik gagang, tubuhnya seketika membeku. Tidak seperti apa yang ia pikirkan: sosok yang berdiri di hadapannya bukan Seokjin, melainkan seseorang yang selama tiga tahun terakhir nyaris tidak pernah muncul di hadapannya, apalagi di depan pintu flatnya.
Itu ayahnya: Min Janghyun.
Yoongi masih terpaku. Napasnya tertahan sesaat dan dalam sekejap, pikirannya dipenuhi pertanyaan tentang kenapa ayah di sini? dan apakah dirinya telah membuat kesalahan lagi?
"A-apa ... ada apa, Ayah?" Yoongi berucap. Suaranya gemetar dan nyaris tidak terdengar.
"Ganti baju. Sekarang." Sebuah kantong kertas berisi setelan jas dilemparkan kepadanya. Nada bicara yang otoriter itu selalu berhasil membuat Yoongi menunduk patuh. Ia mengangguk, mengambil kantong kertas itu dengan tangan gemetar, lalu kembali masuk ke kamar tanpa banyak bicara, tanpa berani bertanya kenapa ayahnya datang atau akan pergi ke mana.
Beberapa menit kemudian, Yoongi keluar dengan kaos putih berlapis jas hitam yang terasa asing bagi dirinya. Di luar, ayahnya menunggu tanpa ekspresi. Mereka turun, menuju mobil sang ayah yang terparkir di depan gedung.
Saat Yoongi membuka pintu belakang, pandangannya segera disambut oleh tatapan Jungkook–tajam, dingin, dan benci. Yoongi menunduk, memutus pandang. Tatapan Jungkook baginya terasa seperti peringatan bahwa kehadirannya tak diinginkan di sini.
***
Restoran Tiongkok itu mewah, dengan cahaya lampu yang memantul di marmer mengkilap. Ayah melangkah mantap di depan, Jungkook mengikutinya, dan Yoongi berjalan paling belakang.
"Kau diam saja dan jangan buat malu," desis Jungkook sebelum mereka masuk ke ruang makan yang telah direservasi sebelumnya.
Pintu ruangan terbuka dan aroma kaldu panas serta kayu manis menyambut dari dalam ruangan. Di sisi meja bundar, dua laki-laki duduk: seorang pria paruh baya dengan senyum hangat dan seorang lelaki yang lebih muda di sebelahnya.
Begitu masuk, Min Janghyun langsung membungkuk kecil. "Maaf kami terlambat. Jalanan cukup padat sore ini."
Pria paruh baya itu tertawa kecil sambil berdiri. "Tidak apa. Kami juga baru saja duduk." Ia menepuk bahu Janghyun, menariknya dalam pelukan ringan yang terasa lebih seperti gestur sahabat lama daripada klien bisnis.
Jungkook ikut membungkuk, diikuti Yoongi–
–dan saat Yoongi mengangkat kepala, napasnya tercekat. Matanya membulat. Terkejut kala mendapati seorang yang dikenalnya duduk di sisi meja itu.
Lelaki muda yang duduk di sebelah pria paruh baya itu adalah ... Seokjin.
Seokjin juga tampak terkejut, tetapi reaksi itu hanya sekilas. Ia dengan cepat menyembunyikannya di balik senyum kecil. Yoongi menatapnya beberapa saat, tidak yakin harus merasa lega atau justru semakin canggung dengan adanya Seokjin di sini.
Makan malam pun dimulai. Ayah berbincang banyak soal kenangan lama dan rencana kerja sama. Jungkook sesekali melibatkan diri dalam percakapan dengan percaya diri. Nampaknya, adiknya itu sudah mulai dilibatkan dalam urusan bisnis dan mungkin, perlahan diarahkan untuk mengikuti jejak sang ayah. Di hadapannya, Seokjin ikut duduk tenang, menyesap tehnya sambil sesekali melirik ke arah Yoongi.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Last ✔
FanficDisclaimer: fanfiction | angst - Completed Yoongi kehilangan rumah serta hangatnya keluarga dan saat mereka akhirnya memeluknya kembali, ia justru sedang bersiap untuk mengucapkan selamat tinggal. [24-06-19]-[28-10-19] Revised.
